alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Menteri Pertanian Syahril Limpo Janji Backup Petani Milenial Buleleng

SINGARAJA – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, menyatakan siap memberikan dukungan pada petani di Buleleng.

Utamanya para petani milenial. Pemerintah daerah pun diminta menyiapkan skema pemanfaatan lahan, dengan harapan dampak ekonomi yang dirasakan para petani di Bali Utara, makin besar.

Hal itu diungkapkan Syahrul Yasin Limpo, saat melakukan kunjungan ke Desa Gobleg, Buleleng, kemarin (11/6).

Mentan Syahril Yasin Limpo ke Buleleng guna meresmikan lahan percontohan “Milenial Smart Farming” yang ada di Desa Gobleg.

Momen kedatangan menteri itu, dimanfaatkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana berkeluh kesah soal alih fungsi lahan yang terjadi di wilayah hulu.

Bupati Agus Suradnyana menyebut selama puluhan tahun terakhir terjadi peralihan komoditas di Bali Utara.

Wilayah hulu yang selama ini dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura, beralih fungsi. Kopi dan kakao, jarang ditemukan.

- Advertisement -

Berganti menjadi cengkih dan tanaman bunga. Hal itu pun berdampak pada ketersediaan air di wilayah hilir.

Baca Juga:  Cegah Alih Fungsi Lahan, Petani Bali Minta Kepastian Ketersediaan Air

“Saya harap kementerian dapat memberikan dukungan dalam hal land use (pemanfaatan lahan) dengan baik. Misalnya 50 persen kopi, sisanya tanaman semusim.

Jangan dibabat semua untuk bunga atau stroberi. Masyarakat di hilir tidak dapat air nanti,” kata Bupati Agus Suradnyana.

Ia berpendapat, pertanian pada masa kini bukan hanya berpikir soal komoditas dan dampak ekonomi. Pertanian juga harus memerhatikan keberlangsungan lingkungan.

“Kami harap pertanian jangan bicara sektor hulu dan hilir saja. Tapi, sustainable farming (pertanian berkelanjutan, Red) juga. Karena ini berkaitan dengan masalah ketersediaan air juga,” imbuhnya.

Keluh kesah Bupati Agus Suradnyana langsung dijawab Mentan Yasin Limpo. Ia meminta agar Bupati Agus Suradnyana segera menyampaikan proposal pemanfataan lahan secara komprehensif.

Skema itu harus disesuaikan dengan kearifan lokal dan komoditas yang cocok ditanam di wilayah tersebut. Yasin Limpo juga meminta agar tanaman itu bisa diterima dengan pasar.

Baca Juga:  Ekonomi Melambat, Pemuda Tejakula Rancang Program Ketahanan Pangan

“Silahkan konsep, se-Kabupaten Buleleng itu seperti apa. Saya siap back up dengan sistem yang ada. Saya suka semangat bupati ini.

Buat satu lahan percontohan. Jangan hanya satu desa, tapi satu kecamatan. Buat beragam komoditi. Kalau perlu masukkan peternakan di dalamnya,” kata Limpo.

Selain itu Yasin Limpo juga juga meminta agar pemerintah daerah menggandeng para milenial dalam pengembangan lahan pertanian mereka.

Sebab milenial banyak memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan lahan. Hal itu berdampak pada biaya pengelolaan lahan yang makin rendah, serta hasil penjualan yang lebih tinggi ketimbang pertanian konvensional.

“Mereka sudah bicara imbal hasil Rp 200 juta sampai Rp 400 juta per hektare. Malah sampai rp 1 miliar per hektare. Jaman ini harus gunakan IOT (internet of things), teknologi,

jangan gunakan pupuk membahayakan, packaging yang bagus. Gunakan sprinkle juga biar pemanfaatan irit. Saya minta kedepan harus ada trading house di sini,” tukas Yasin Limpo. 

- Advertisement -

SINGARAJA – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, menyatakan siap memberikan dukungan pada petani di Buleleng.

Utamanya para petani milenial. Pemerintah daerah pun diminta menyiapkan skema pemanfaatan lahan, dengan harapan dampak ekonomi yang dirasakan para petani di Bali Utara, makin besar.

Hal itu diungkapkan Syahrul Yasin Limpo, saat melakukan kunjungan ke Desa Gobleg, Buleleng, kemarin (11/6).

Mentan Syahril Yasin Limpo ke Buleleng guna meresmikan lahan percontohan “Milenial Smart Farming” yang ada di Desa Gobleg.

Momen kedatangan menteri itu, dimanfaatkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana berkeluh kesah soal alih fungsi lahan yang terjadi di wilayah hulu.

Bupati Agus Suradnyana menyebut selama puluhan tahun terakhir terjadi peralihan komoditas di Bali Utara.

Wilayah hulu yang selama ini dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura, beralih fungsi. Kopi dan kakao, jarang ditemukan.

Berganti menjadi cengkih dan tanaman bunga. Hal itu pun berdampak pada ketersediaan air di wilayah hilir.

Baca Juga:  Duh, Abrasi Gerus Setengah Lahan Pertanian Garam

“Saya harap kementerian dapat memberikan dukungan dalam hal land use (pemanfaatan lahan) dengan baik. Misalnya 50 persen kopi, sisanya tanaman semusim.

Jangan dibabat semua untuk bunga atau stroberi. Masyarakat di hilir tidak dapat air nanti,” kata Bupati Agus Suradnyana.

Ia berpendapat, pertanian pada masa kini bukan hanya berpikir soal komoditas dan dampak ekonomi. Pertanian juga harus memerhatikan keberlangsungan lingkungan.

“Kami harap pertanian jangan bicara sektor hulu dan hilir saja. Tapi, sustainable farming (pertanian berkelanjutan, Red) juga. Karena ini berkaitan dengan masalah ketersediaan air juga,” imbuhnya.

Keluh kesah Bupati Agus Suradnyana langsung dijawab Mentan Yasin Limpo. Ia meminta agar Bupati Agus Suradnyana segera menyampaikan proposal pemanfataan lahan secara komprehensif.

Skema itu harus disesuaikan dengan kearifan lokal dan komoditas yang cocok ditanam di wilayah tersebut. Yasin Limpo juga meminta agar tanaman itu bisa diterima dengan pasar.

Baca Juga:  Menciptakan Harapan

“Silahkan konsep, se-Kabupaten Buleleng itu seperti apa. Saya siap back up dengan sistem yang ada. Saya suka semangat bupati ini.

Buat satu lahan percontohan. Jangan hanya satu desa, tapi satu kecamatan. Buat beragam komoditi. Kalau perlu masukkan peternakan di dalamnya,” kata Limpo.

Selain itu Yasin Limpo juga juga meminta agar pemerintah daerah menggandeng para milenial dalam pengembangan lahan pertanian mereka.

Sebab milenial banyak memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan lahan. Hal itu berdampak pada biaya pengelolaan lahan yang makin rendah, serta hasil penjualan yang lebih tinggi ketimbang pertanian konvensional.

“Mereka sudah bicara imbal hasil Rp 200 juta sampai Rp 400 juta per hektare. Malah sampai rp 1 miliar per hektare. Jaman ini harus gunakan IOT (internet of things), teknologi,

jangan gunakan pupuk membahayakan, packaging yang bagus. Gunakan sprinkle juga biar pemanfaatan irit. Saya minta kedepan harus ada trading house di sini,” tukas Yasin Limpo. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/