alexametrics
26.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Daya Beli Turun, Ekonomi Buleleng Alami Deflasi, Ini Catatan Pemkab

SINGARAJA – Kondisi deflasi masih terus menghantui kondisi perekonomian di Kabupaten Buleleng.

Menurunnya daya beli masyarakat selama masa pandemi covid-19, turut memukul kondisi perekonomian.

Bahkan, target ekonomi di Kabupaten Buleleng, terancam tak tercapai. Badan Pusat Statistik (BPS) Buleleng merilis data bahwa pada bulan Mei, Buleleng mengalami deflasi sebesar 0,22 persen.

Sehingga tingkat inflasi di Kabupaten Buleleng selama kurun waktu Januari hingga Mei 2020, kini berada di angka 0,95 persen.

Kondisi deflasi pada bulan Mei lalu, sebenarnya lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi deflasi pada bulan April lalu. Saat itu, perekonomian Buleleng mengalami deflasi sebesar 0,36 persen.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Buleleng Ni Made Rousmini mengatakan, deflasi masih terjadi karena daya beli masyarakat mengalami perlambatan.

Meski begitu, Rousmini mengklaim sudah ada pergerakan positif. Ia menyebut, deflasi terjadi karena masyarakat banyak mengalihkan konsumsi.

Bahan, makanan yang tadinya dibeli secara berkala, kini dipenuhi secara mandiri oleh keluarga. “Sekarang banyak yang menanam cabai dan sayur di rumahnya. Jadi nggak beli lagi. Mereka gunakan apa yang ada di halaman rumah mereka,” kata Rousmini.

Hal yang diungkapkan Rousmini cukup beralasan. Merujuk data BPS Buleleng, sektor yang cukup memengaruhi deflasi ialah sektor makanan dan minuman.

Selain itu sektor peralatan, perlengkapan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, serta sektor komunikasi dan jasa keuangan turut memengaruhi terjadinya deflasi.

Meski masih terjadi deflasi, Rousmini meyakini perekonomian Buleleng masih akan bergerak ke arah positif. Meski tak menutup kemungkinan, akan terjadi koreksi terhadap realisasi pertumbuhan ekonomi di Buleleng.

Sekadar diketahui anka inflasi di Buleleng pada 2019 lalu, ada di angka 2,42 persen. Lebih rendah dari target inflasi sebesar 3,5 persen pada 2019.

Sementara target pertumbuhan ekonomi pada 2019 hanya terealisasi pada angka 5,55 persen dari target 6,13 persen. Sedangkan pada tahun 2020, target pertumbuhan ekonomi dipasang pada angka 6,24 persen. 



SINGARAJA – Kondisi deflasi masih terus menghantui kondisi perekonomian di Kabupaten Buleleng.

Menurunnya daya beli masyarakat selama masa pandemi covid-19, turut memukul kondisi perekonomian.

Bahkan, target ekonomi di Kabupaten Buleleng, terancam tak tercapai. Badan Pusat Statistik (BPS) Buleleng merilis data bahwa pada bulan Mei, Buleleng mengalami deflasi sebesar 0,22 persen.

Sehingga tingkat inflasi di Kabupaten Buleleng selama kurun waktu Januari hingga Mei 2020, kini berada di angka 0,95 persen.

Kondisi deflasi pada bulan Mei lalu, sebenarnya lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi deflasi pada bulan April lalu. Saat itu, perekonomian Buleleng mengalami deflasi sebesar 0,36 persen.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Buleleng Ni Made Rousmini mengatakan, deflasi masih terjadi karena daya beli masyarakat mengalami perlambatan.

Meski begitu, Rousmini mengklaim sudah ada pergerakan positif. Ia menyebut, deflasi terjadi karena masyarakat banyak mengalihkan konsumsi.

Bahan, makanan yang tadinya dibeli secara berkala, kini dipenuhi secara mandiri oleh keluarga. “Sekarang banyak yang menanam cabai dan sayur di rumahnya. Jadi nggak beli lagi. Mereka gunakan apa yang ada di halaman rumah mereka,” kata Rousmini.

Hal yang diungkapkan Rousmini cukup beralasan. Merujuk data BPS Buleleng, sektor yang cukup memengaruhi deflasi ialah sektor makanan dan minuman.

Selain itu sektor peralatan, perlengkapan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, serta sektor komunikasi dan jasa keuangan turut memengaruhi terjadinya deflasi.

Meski masih terjadi deflasi, Rousmini meyakini perekonomian Buleleng masih akan bergerak ke arah positif. Meski tak menutup kemungkinan, akan terjadi koreksi terhadap realisasi pertumbuhan ekonomi di Buleleng.

Sekadar diketahui anka inflasi di Buleleng pada 2019 lalu, ada di angka 2,42 persen. Lebih rendah dari target inflasi sebesar 3,5 persen pada 2019.

Sementara target pertumbuhan ekonomi pada 2019 hanya terealisasi pada angka 5,55 persen dari target 6,13 persen. Sedangkan pada tahun 2020, target pertumbuhan ekonomi dipasang pada angka 6,24 persen. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/