alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Menangkan Persaingan Era Digital, Ayu Saraswati Tawarkan Asitaone

DENPASAR, Radar Bali– Industri perjalanan wisata menghadapi tantangan berat seiring munculnya aplikasi perjalanan wisata berbasis digital. Untuk melawan sangat mustahil karena keberadaanya didukung pendanaan kuat. Metode digital juga sangat diminati oleh wisatawan karena lebih cepat dan transparan.

Melihat kondisi ini, Putu Ayu Astiti Saraswati Owner dan CEO Toya Yatra Travel menawarkan solusi untuk survive dan dapat beradaptasi. Sejalan dengan program Kemenparekraf RI dalam rangka memperkuat kerangka pembangunan kelembagaan kepariwisataan sebagai modal utama mendorong peran lembaga lebih efektif, kandidat Ketua DPD Asita Bali 2021-2026 ini menawarkan aplikasi bernama Asitaone. Aplikasi ini berisi data base anggota Asita Bali secara terperinci termasuk travel agent berskala kecil. 

“Mereka yang kecil-kecil ini kan kesusahan membangun infrastruktur digital, karena modalnya sangat besar. Beda dengan travel agent besar mereka bisa membuat sendiri. Nah di Asitaone ini coba kita masukkan,” tuturnya, Jumat (13/8).

Dengan keberadaan Asitaone ini, semua database dengan mudah dikumpulkan. Sebagai satu-satunya kandidat milenial calon Ketua Asita Bali ini, Ayu menilai era sekarang adalah era adaptif serta database. Keberadaan data sangat mutlak diperlukan untuk pengambilan keputusan yang membutuhkan kecepatan.

Baca Juga:  Eka Jaya dan Ayu Saraswati Kembali Berduet Setelah 17 Tahun

Dalam Asitaone, data ini akan lebih mudah dikumpulkan sehingga ketika ada kebutuhan seperti penanganan krisis seperti sekarang bisa dilakukan dengan cepat.

Digitalisasi lain yang ditawarkan adalah Asitaone Integrated Marketing Services (IMS). Jadi ini semacam wadah untuk anggota yang mereka tidak memiliki sumber dana besar untuk misalnya bagaimana memasarkan lewat media sosial, atau bahkan masalah fotografer dan videografer dalam membuat konten pemasaran. 

“Kami fasilitasi. Jadi nanti kita berikan wadahnya. Sebenarnya pelaku travel agent sekarang kan sudah menjalankan, hanya saja kadang ada yang bagus sekali dan ada yang tidak bagus sekali. Nah kita mengajak yang hasilnya belum bagus itu terutama anggota kita untuk fasilitasnya,” jelas satu-satunya srikandi yang maju dalam perebutan Asita Bali ini.

Baca Juga:  Konsisten Tumbuh, BPR Lestari Bali Siap Genjot Pertumbuhan Kredit

Masih terkait digitalisasi, tawaran terakhir yang dia lontarkan kepada Asita adalah Asitaone Training Center. Ini semacam fasilitas pelatihan dalam hal informasi teknologi hingga  ecommerce. Tujuan utama dari semua gebrakan ini supaya semua pelaku usaha travel agent khususnya member Asita Bali semakin adaptif dan kompetitif. Persaingan ke depan semakin ketat jadi saatnya untuk bersinergi. “Bahasa kerennya sharing ekonomi,”jelasnya.

Digitalisasi tersebut diyakini akan memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata aman, nyaman dan berdaya saing. Dengan adanya kemudahan infrastruktur digital di Asita Bali, otomatis membantu pencitraan positif dan terinformasikan secara luas, untuk mendorong wisatawan memiliki minat dan motivasi berkunjung ke Bali.

Dia menekankan dalam Rencana Strategis Kemenparekraf 2020-2024 diungkapkan bahwa salah satu permasalahan dalam pengembangan industri pariwisata adalah sinergi antar mata rantai usaha pariwisata yang belum optimal. Keberadaan Asitaone diharapkan menjadi jembatan untuk menjadikan mata rantai usaha pariwisata di Bali bersinergi dengan baik. 

- Advertisement -

- Advertisement -

DENPASAR, Radar Bali– Industri perjalanan wisata menghadapi tantangan berat seiring munculnya aplikasi perjalanan wisata berbasis digital. Untuk melawan sangat mustahil karena keberadaanya didukung pendanaan kuat. Metode digital juga sangat diminati oleh wisatawan karena lebih cepat dan transparan.

Melihat kondisi ini, Putu Ayu Astiti Saraswati Owner dan CEO Toya Yatra Travel menawarkan solusi untuk survive dan dapat beradaptasi. Sejalan dengan program Kemenparekraf RI dalam rangka memperkuat kerangka pembangunan kelembagaan kepariwisataan sebagai modal utama mendorong peran lembaga lebih efektif, kandidat Ketua DPD Asita Bali 2021-2026 ini menawarkan aplikasi bernama Asitaone. Aplikasi ini berisi data base anggota Asita Bali secara terperinci termasuk travel agent berskala kecil. 

“Mereka yang kecil-kecil ini kan kesusahan membangun infrastruktur digital, karena modalnya sangat besar. Beda dengan travel agent besar mereka bisa membuat sendiri. Nah di Asitaone ini coba kita masukkan,” tuturnya, Jumat (13/8).


Dengan keberadaan Asitaone ini, semua database dengan mudah dikumpulkan. Sebagai satu-satunya kandidat milenial calon Ketua Asita Bali ini, Ayu menilai era sekarang adalah era adaptif serta database. Keberadaan data sangat mutlak diperlukan untuk pengambilan keputusan yang membutuhkan kecepatan.

Baca Juga:  BRI Bangkitkan UMKM hingga Catatkan Sejarah Right Issue

Dalam Asitaone, data ini akan lebih mudah dikumpulkan sehingga ketika ada kebutuhan seperti penanganan krisis seperti sekarang bisa dilakukan dengan cepat.

Digitalisasi lain yang ditawarkan adalah Asitaone Integrated Marketing Services (IMS). Jadi ini semacam wadah untuk anggota yang mereka tidak memiliki sumber dana besar untuk misalnya bagaimana memasarkan lewat media sosial, atau bahkan masalah fotografer dan videografer dalam membuat konten pemasaran. 

“Kami fasilitasi. Jadi nanti kita berikan wadahnya. Sebenarnya pelaku travel agent sekarang kan sudah menjalankan, hanya saja kadang ada yang bagus sekali dan ada yang tidak bagus sekali. Nah kita mengajak yang hasilnya belum bagus itu terutama anggota kita untuk fasilitasnya,” jelas satu-satunya srikandi yang maju dalam perebutan Asita Bali ini.

Baca Juga:  Ayu Saraswati Dinilai Tepat Pimpin Asita Bali

Masih terkait digitalisasi, tawaran terakhir yang dia lontarkan kepada Asita adalah Asitaone Training Center. Ini semacam fasilitas pelatihan dalam hal informasi teknologi hingga  ecommerce. Tujuan utama dari semua gebrakan ini supaya semua pelaku usaha travel agent khususnya member Asita Bali semakin adaptif dan kompetitif. Persaingan ke depan semakin ketat jadi saatnya untuk bersinergi. “Bahasa kerennya sharing ekonomi,”jelasnya.

Digitalisasi tersebut diyakini akan memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata aman, nyaman dan berdaya saing. Dengan adanya kemudahan infrastruktur digital di Asita Bali, otomatis membantu pencitraan positif dan terinformasikan secara luas, untuk mendorong wisatawan memiliki minat dan motivasi berkunjung ke Bali.

Dia menekankan dalam Rencana Strategis Kemenparekraf 2020-2024 diungkapkan bahwa salah satu permasalahan dalam pengembangan industri pariwisata adalah sinergi antar mata rantai usaha pariwisata yang belum optimal. Keberadaan Asitaone diharapkan menjadi jembatan untuk menjadikan mata rantai usaha pariwisata di Bali bersinergi dengan baik. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/