alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Indonesia Targetkan Naik Jadi Negara Maju

Mendag Lutfi: ASEAN Harus Kompak Respons Perkembangan Ekonomi Dunia

WASHINGTON  DC,  Radar Bali – Hari  kedua  Pertemuan  Konferensi  Tingkat  Tinggi  (KTT)  khusus ASEAN-Amerika  Serikat  11—13  Mei  2022,  Menteri  Perdagangan  Muhammad  Lutfi  menegaskan bahwa penguatan ASEAN merupakan kunci pertumbuhan ekonomi kawasan.

 

Penegasan  ini  disampaikan  Mendag  Lutfi  usai  melakukan  pertemuan  bilateral  dengan  Menteri Perdagangan Kamboja Pan Sorasak dan Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia Dato’ Seri Mohamed Azmin Ali.

 

Pertemuan  bilateral  juga  membahas  persiapan  pelaksanaan  rangkaian  Pertemuan  Spesial  ASEAN Economic Ministers (AEM) yang akan dilaksanakan pada 17—18 Mei 2022 di Bali, Indonesia.

 

Mendag   Lutfi   juga   menyampaikan   pembahasan   kondisi   ekonomi   global,   antara   lain   terkait peningkatan  proteksionisme  era  modern,  peningkatan  inflasi  pascakonflik  Rusia-Ukraina  yang memicu  krisis energi  dan  inflasi  harga  dunia,  serta peningkatan  ketidakpercayaan dunia terhadap sistem  perdagangan  multilateral  yang  telah  memberikan  dampak  negatif  bagi  pertumbuhan ekonomi di kawasan.

 

Disamping itu, dibahas juga berbagai agenda yang ditawarkan oleh negara-negara ekonomi besar seperti  Indo-Pacific  Economic  Forum  (IPEF)  oleh  Amerika  Serikat,  European  Union  Indo-Pacific Strategy oleh Uni Eropa, Belt Road Initiatives (BRI) oleh Tiongkok, serta kebijakan seperti EU Green Deal dan UK Environmental Act (Due Diligence on Forest Risk Commodities).

Baca Juga:  Airlangga: Sejumlah Negara Dukung Presidensi G20 Indonesia

 

Mendag  Lutfi  menekankan, rantai  pasok  di  ASEAN  akan  sangat  terganggu  di  masa  mendatang apabila ASEAN tidak segera merespons berbagai perkembangan situasi ekonomi dunia yang terjadi dewasa ini.

 

“ASEAN perlu segera mengambil aksi nyata untuk memperkuat posisi sentralitas ASEAN melalui berbagai inisiatif berbasis proyek dan merevitalisasi ASEAN sebagai basis produksi dalam penguatan rantai pasok ekonomi di kawasan,”tegas Mendag Lutfi.

 

Mendag  Lutfi  memandang  penguatan  ekonomi  harus  berasal  dari  dalam  ASEAN.  ASEAN  memiliki berbagai inisiatif bersama yang perlu direvitalisasi seperti proyek pupuk Aceh ASEAN, proyek Urea ASEAN  di  Malaysia,  proyek  fabrikasi  tembaga  ASEAN  di  Filipina,  proyek  abu  soda  garam  batu  di Thailand, serta proyek vaksin ASEAN di Singapura.

 

“Untuk itu, ASEAN perlu meningkatkan proyek-proyek serupa di masa mendatang sehingga dapat memperkuat ketangguhan ASEAN terhadap berbagai agenda atau kebijakan negara lain yang dapat mengganggu rantai pasok di kawasan,” ungkap Mendag Lutfi.

 

Pandangan  singkat  Mendag  Lutfi  mendapat tanggapan  positif  dari  Menteri  Sorasak  dan  Menteri Azmin   yang   juga   berpandangan   sama.   Menteri   Sorasak,   selaku   ketua   AEM   tahun   ini   akan mendukung  penuh  pelaksanaan  AEM  Special  Meeting  yang  akan  dilaksanakan  di  Bali  dan  akan mengupayakan terbentuknya kesepakatan yang lebih konkret dari seluruh Menteri Ekonomi ASEAN dalam merespon perkembangan ekonomi global saat ini.

Baca Juga:  Kinerja Tera dan Tera Ulang Naik 124 Persen

 

Pada  hari  yang  sama,  Mendag  Lutfi  juga  menghadiri  kegiatan  Indonesia  Ministers  Meeting  with United States Business Leaders yang diinisiasi Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pertemuan ini menghadirkan 12 pimpinan perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat antara lain Microsoft, Cargill, P&G, Johnson&Johnson, Chevron, Exxonmobil, dan C4V.

 

Pada  pertemuan  ini,  Mendag  Lutfi  menyampaikan,  Indonesia  menargetkan  untuk  keluar  dari jebakan pendapatan kelas menengah melalui pelipattigaan produk domestik bruto (GDP) per kapita dari USD 4,000 menjadi sekitar USD 12,500 pada periode 2038—2040. Dalam mencapai target ini, peningkatan investasi infrastruktur secara masif menjadi kunci utama Pemerintah Indonesia. Untuk menunjang  pencapaian  tersebut,  Indonesia  mendukung  keterbukaan  akses  pasar  perdagangan internasional.

 

“Peningkatan investasi diharapkan dapat mendukung tujuan besar Pemerintah  Indonesia  untuk keluar   dari   status   negara   dengan   pendapatan   menengah   dan   meningkatkan   kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum,” tutup Mendag Lutfi. (rba/han)

- Advertisement -
- Advertisement -

WASHINGTON  DC,  Radar Bali – Hari  kedua  Pertemuan  Konferensi  Tingkat  Tinggi  (KTT)  khusus ASEAN-Amerika  Serikat  11—13  Mei  2022,  Menteri  Perdagangan  Muhammad  Lutfi  menegaskan bahwa penguatan ASEAN merupakan kunci pertumbuhan ekonomi kawasan.

 

Penegasan  ini  disampaikan  Mendag  Lutfi  usai  melakukan  pertemuan  bilateral  dengan  Menteri Perdagangan Kamboja Pan Sorasak dan Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia Dato’ Seri Mohamed Azmin Ali.


 

Pertemuan  bilateral  juga  membahas  persiapan  pelaksanaan  rangkaian  Pertemuan  Spesial  ASEAN Economic Ministers (AEM) yang akan dilaksanakan pada 17—18 Mei 2022 di Bali, Indonesia.

 

Mendag   Lutfi   juga   menyampaikan   pembahasan   kondisi   ekonomi   global,   antara   lain   terkait peningkatan  proteksionisme  era  modern,  peningkatan  inflasi  pascakonflik  Rusia-Ukraina  yang memicu  krisis energi  dan  inflasi  harga  dunia,  serta peningkatan  ketidakpercayaan dunia terhadap sistem  perdagangan  multilateral  yang  telah  memberikan  dampak  negatif  bagi  pertumbuhan ekonomi di kawasan.

 

Disamping itu, dibahas juga berbagai agenda yang ditawarkan oleh negara-negara ekonomi besar seperti  Indo-Pacific  Economic  Forum  (IPEF)  oleh  Amerika  Serikat,  European  Union  Indo-Pacific Strategy oleh Uni Eropa, Belt Road Initiatives (BRI) oleh Tiongkok, serta kebijakan seperti EU Green Deal dan UK Environmental Act (Due Diligence on Forest Risk Commodities).

Baca Juga:  Pemkab Klungkung Jalin Kerja Sama Jaga Stabilitas Harga Rumput Laut

 

Mendag  Lutfi  menekankan, rantai  pasok  di  ASEAN  akan  sangat  terganggu  di  masa  mendatang apabila ASEAN tidak segera merespons berbagai perkembangan situasi ekonomi dunia yang terjadi dewasa ini.

 

“ASEAN perlu segera mengambil aksi nyata untuk memperkuat posisi sentralitas ASEAN melalui berbagai inisiatif berbasis proyek dan merevitalisasi ASEAN sebagai basis produksi dalam penguatan rantai pasok ekonomi di kawasan,”tegas Mendag Lutfi.

 

Mendag  Lutfi  memandang  penguatan  ekonomi  harus  berasal  dari  dalam  ASEAN.  ASEAN  memiliki berbagai inisiatif bersama yang perlu direvitalisasi seperti proyek pupuk Aceh ASEAN, proyek Urea ASEAN  di  Malaysia,  proyek  fabrikasi  tembaga  ASEAN  di  Filipina,  proyek  abu  soda  garam  batu  di Thailand, serta proyek vaksin ASEAN di Singapura.

 

“Untuk itu, ASEAN perlu meningkatkan proyek-proyek serupa di masa mendatang sehingga dapat memperkuat ketangguhan ASEAN terhadap berbagai agenda atau kebijakan negara lain yang dapat mengganggu rantai pasok di kawasan,” ungkap Mendag Lutfi.

 

Pandangan  singkat  Mendag  Lutfi  mendapat tanggapan  positif  dari  Menteri  Sorasak  dan  Menteri Azmin   yang   juga   berpandangan   sama.   Menteri   Sorasak,   selaku   ketua   AEM   tahun   ini   akan mendukung  penuh  pelaksanaan  AEM  Special  Meeting  yang  akan  dilaksanakan  di  Bali  dan  akan mengupayakan terbentuknya kesepakatan yang lebih konkret dari seluruh Menteri Ekonomi ASEAN dalam merespon perkembangan ekonomi global saat ini.

Baca Juga:  Mendag: Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

 

Pada  hari  yang  sama,  Mendag  Lutfi  juga  menghadiri  kegiatan  Indonesia  Ministers  Meeting  with United States Business Leaders yang diinisiasi Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pertemuan ini menghadirkan 12 pimpinan perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat antara lain Microsoft, Cargill, P&G, Johnson&Johnson, Chevron, Exxonmobil, dan C4V.

 

Pada  pertemuan  ini,  Mendag  Lutfi  menyampaikan,  Indonesia  menargetkan  untuk  keluar  dari jebakan pendapatan kelas menengah melalui pelipattigaan produk domestik bruto (GDP) per kapita dari USD 4,000 menjadi sekitar USD 12,500 pada periode 2038—2040. Dalam mencapai target ini, peningkatan investasi infrastruktur secara masif menjadi kunci utama Pemerintah Indonesia. Untuk menunjang  pencapaian  tersebut,  Indonesia  mendukung  keterbukaan  akses  pasar  perdagangan internasional.

 

“Peningkatan investasi diharapkan dapat mendukung tujuan besar Pemerintah  Indonesia  untuk keluar   dari   status   negara   dengan   pendapatan   menengah   dan   meningkatkan   kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum,” tutup Mendag Lutfi. (rba/han)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/