alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Produksi Melimpah, Petani Hidroponik Gianyar Terkendala Pemasaran

GIANYAR – Petani hidroponik I Wayan Rudika, kini menikmati panen sayur pakcoy. Sayur itu dikembangkan di rumahnya di Banjar Palak, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati.

Namun, hasil panen Rudika terkendala pemasaran. Rudika mengaku hasil panen sangat berpengaruh baginya.

Karena untuk lokasi penjualan sayur pakcoy tersebut tidak dapat ia tentukan secara khusus. “Jadi harus bawa ke warung-warung yang menjual sayur hijau,” jelasnya.

Untuk harganya tergolong rendah. “Kalau 1 kilogram sayur, pengepul ambil di saya Rp 6 ribu. Tapi mereka jual lagi kadang Rp 15 ribu,” ujarnya. Jadi pengepul yang memperoleh untung berlipat.

Padahal, kata dia, kualitas sayurnya bagus tanpa menggunakan obat. “Ini alami semuanya dampak dari green house hamanya tidak bisa masuk,” ujarnya.

Baca Juga:  Amerika Stop Impor Beras Merah Tabanan, Petani Kesulitan Pemasaran

Mengenai proses produksi, dia memakai lahan di rumahnya, seluas 10 x 5 meter. Dengan alat yang dimiliki, panen dilakukan setiap 25 hari sekali.

“Enaknya ya bisa mengatur waktu kapan mau panen. Karena dari bibit, peremajaan, hingga pindah cabutnya itu bebas kami yang atur,” paparnya.

Pembuatan hidroponik itu diakui belajar dari seorang temannya dan mencari cara membuat dari youtube.

Sebanyak 100 pipa dengan panjangnya empat meter dipergunakan untuk proses menanam sayur itu mulai pembibitan.

Untuk mesinnya, dia hanya menggunakan mesin kolam ikan atau aquarium biasa. “Kalau menggunakan sistem ini kita tinggal cek airnya saja satu hari sekali,” paparnya.

Hal penting yang diperhatikan, kondisi sayur harus dicek. Jangan sampai dicari hama. “Selain itu ada juga pada pupuk, karena saya pemula dan memang bukan orang pertanian jadi pupuk yang digunakan itu kadang tidak sesuai,” pungkasnya.

Baca Juga:  LPD Mulai Tangguhkan Pembayaran Angsuran Cicilan Kredit Bagi Nasabah


GIANYAR – Petani hidroponik I Wayan Rudika, kini menikmati panen sayur pakcoy. Sayur itu dikembangkan di rumahnya di Banjar Palak, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati.

Namun, hasil panen Rudika terkendala pemasaran. Rudika mengaku hasil panen sangat berpengaruh baginya.

Karena untuk lokasi penjualan sayur pakcoy tersebut tidak dapat ia tentukan secara khusus. “Jadi harus bawa ke warung-warung yang menjual sayur hijau,” jelasnya.

Untuk harganya tergolong rendah. “Kalau 1 kilogram sayur, pengepul ambil di saya Rp 6 ribu. Tapi mereka jual lagi kadang Rp 15 ribu,” ujarnya. Jadi pengepul yang memperoleh untung berlipat.

Padahal, kata dia, kualitas sayurnya bagus tanpa menggunakan obat. “Ini alami semuanya dampak dari green house hamanya tidak bisa masuk,” ujarnya.

Baca Juga:  Mimih! Panjat Pohon Kepala, Petani Tewas Terjatuh

Mengenai proses produksi, dia memakai lahan di rumahnya, seluas 10 x 5 meter. Dengan alat yang dimiliki, panen dilakukan setiap 25 hari sekali.

“Enaknya ya bisa mengatur waktu kapan mau panen. Karena dari bibit, peremajaan, hingga pindah cabutnya itu bebas kami yang atur,” paparnya.

Pembuatan hidroponik itu diakui belajar dari seorang temannya dan mencari cara membuat dari youtube.

Sebanyak 100 pipa dengan panjangnya empat meter dipergunakan untuk proses menanam sayur itu mulai pembibitan.

Untuk mesinnya, dia hanya menggunakan mesin kolam ikan atau aquarium biasa. “Kalau menggunakan sistem ini kita tinggal cek airnya saja satu hari sekali,” paparnya.

Hal penting yang diperhatikan, kondisi sayur harus dicek. Jangan sampai dicari hama. “Selain itu ada juga pada pupuk, karena saya pemula dan memang bukan orang pertanian jadi pupuk yang digunakan itu kadang tidak sesuai,” pungkasnya.

Baca Juga:  Kesadaran Urus HaKI di Buleleng Masih Rendah

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/