alexametrics
27.6 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Penyelundupan Tinggi, Populasi Sapi Bali di Jembrana Turun Drastis

NEGARA – Jumlah populasi sapi Bali di Jembrana pada tahun 2018 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Penambahan populasi sapi ini hanya sekitar 1.400 ekor dalam setahun. Namun, dibandingkan dengan tahun 2014 hingga 2016, jumlah populasi sapi Bali menurun drastis.

Padahal, tidak ada penyakit mematikan seperti penyakit Jembrana sejak 10 tahun terakhir. Berdasar data dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, populasi ternak sapi Bali di Jembrana pada tahun 2018 lalu sebanyak 31.252 ekor tersebar di lima kecamatan.

Populasi ini bertambah dari tahun 2017 lalu yang hanya 29.759 ekor atau bertambah 1493 ekor dalam setahun.

Akan tetapi, jumlah sapi yang naik pada tahun lalu berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sejak tahun 2014, populasi sapi Bali menurun drastis. Data tahun 2014 sebanyak 52.306 ekor, berkurang lagi pada tahun 2015 menjadi 51.825 ekor.

Baca Juga:  Ratusan Sapi Bali Terpapar Penyakit Mulut dan Kuku, Hari Ini Dipotong

Selanjutnya pada tahun 2016 berkurang drastis menjadi 45.771 ekor. Kemudian pada tahun 2017 hanya 29.759 ekor.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, pengurangan dan pengurangan jumlah sapi Bali ini bukan hanya karena penurunan jumlah sapi Bali.

Melainkan dipengaruhi pada sistem pendataan. Pendataan sebelumnya hanya menggunakan sampling di masing-masing kecamatan, sedangkan tahun 2018 menggunakan sistem hitung langsung melibatkan perangkat desa.

“Pada pendataan tahun lalu (2018) kami melakukan pendataan melibatkan Kelian Banjar, sehingga diperoleh angka real populasi sapi Bali,” jelasnya.

Berkurangnya sapi Bali ini diduga akibat penyelundupan sapi Bali ke luar Bali melalui sejumlah pelabuhan tradisional di pesisir Jembrana.

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, Permintaan Sapi Bali Naik Drastis

Salah satunya melalui pesisir pantai Sumbersari. Karena pengurangan sapi Bali dipastikan bukan karena penyakit yang mematikan sapi.

Terkait dugaan penyelundupan sapi Bali tersebut, Sutama tidak menampik adanya informasi penyelundupan sapi Bali melalui sejumlah pelabuhan tradisional di Jembrana.

Akan tetapi, sapi-sapi yang diduga diselundupkan ke luar Bali tersebut tidak hanya dari Jembrana, tetapi dari kabupaten lain di Bali.

“Kalau masalah penyelundupan itu kewenangan Provinsi dan kepolisian, kami tidak ada pemantauan khusus,” ungkapnya.

Kewenangan pemerintah kabupaten melalui dinas terkait hanya untuk pembinaan peternak untuk pengembangbiakan sapi Bali dan pemurnian sapi Bali.

Karena itu, program pemberian bibit sapi pada peternak mulai gencar dilakukan sejak setahun terakhir.

 

 



NEGARA – Jumlah populasi sapi Bali di Jembrana pada tahun 2018 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Penambahan populasi sapi ini hanya sekitar 1.400 ekor dalam setahun. Namun, dibandingkan dengan tahun 2014 hingga 2016, jumlah populasi sapi Bali menurun drastis.

Padahal, tidak ada penyakit mematikan seperti penyakit Jembrana sejak 10 tahun terakhir. Berdasar data dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, populasi ternak sapi Bali di Jembrana pada tahun 2018 lalu sebanyak 31.252 ekor tersebar di lima kecamatan.

Populasi ini bertambah dari tahun 2017 lalu yang hanya 29.759 ekor atau bertambah 1493 ekor dalam setahun.

Akan tetapi, jumlah sapi yang naik pada tahun lalu berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sejak tahun 2014, populasi sapi Bali menurun drastis. Data tahun 2014 sebanyak 52.306 ekor, berkurang lagi pada tahun 2015 menjadi 51.825 ekor.

Baca Juga:  Kemendag Perbarui Kategorisasi Primaniyarta dan Primaduta¬†

Selanjutnya pada tahun 2016 berkurang drastis menjadi 45.771 ekor. Kemudian pada tahun 2017 hanya 29.759 ekor.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, pengurangan dan pengurangan jumlah sapi Bali ini bukan hanya karena penurunan jumlah sapi Bali.

Melainkan dipengaruhi pada sistem pendataan. Pendataan sebelumnya hanya menggunakan sampling di masing-masing kecamatan, sedangkan tahun 2018 menggunakan sistem hitung langsung melibatkan perangkat desa.

“Pada pendataan tahun lalu (2018) kami melakukan pendataan melibatkan Kelian Banjar, sehingga diperoleh angka real populasi sapi Bali,” jelasnya.

Berkurangnya sapi Bali ini diduga akibat penyelundupan sapi Bali ke luar Bali melalui sejumlah pelabuhan tradisional di pesisir Jembrana.

Baca Juga:  Cuaca Ekstrem, Petani Kakao Sulit Tangani Serangan Penyakit Tanaman

Salah satunya melalui pesisir pantai Sumbersari. Karena pengurangan sapi Bali dipastikan bukan karena penyakit yang mematikan sapi.

Terkait dugaan penyelundupan sapi Bali tersebut, Sutama tidak menampik adanya informasi penyelundupan sapi Bali melalui sejumlah pelabuhan tradisional di Jembrana.

Akan tetapi, sapi-sapi yang diduga diselundupkan ke luar Bali tersebut tidak hanya dari Jembrana, tetapi dari kabupaten lain di Bali.

“Kalau masalah penyelundupan itu kewenangan Provinsi dan kepolisian, kami tidak ada pemantauan khusus,” ungkapnya.

Kewenangan pemerintah kabupaten melalui dinas terkait hanya untuk pembinaan peternak untuk pengembangbiakan sapi Bali dan pemurnian sapi Bali.

Karena itu, program pemberian bibit sapi pada peternak mulai gencar dilakukan sejak setahun terakhir.

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/