alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, June 30, 2022

Harga Jual Menjanjikan, Jagung Kian Diminati Petani Bali

DENPASAR – Tanaman jagung yang merupakan tanaman untuk kebutuhan pakan ternak dan manusia kian dilirik masyarakat hampir di seluruh Bali.

Beberapa petani di kabupaten/kota mulai membudidayakan tanaman yang memiliki nama latin Zea mays.

Harga yang stabil di angka Rp 3.500 per kilogram menjadi faktor pemicu petani beralih menanam jagung.

Kabid di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Bali I Wayan Sunarta mengatakan, tahun 2016 lalu, jumlah panen jagung di seluruh Bali mencapai 55 ribu ton.

Tahun 2017, hasil panen mencapai 51.802 ton atau mengalami penurunan hampir dua ton. Dari kesuluruhan jagung tersebut paling banyak terdapat di wilayah kabupaten Buleleng dan Karangasem.

Sementara luas tanam di Tahun 2017 mencapai 15.628 hektare. “Tanaman jagung yang ditanam petani tidak termasuk jagung manis. Kalau jagung manis sudah masuk kategori hortikultura,” katanya.

Dijelasakan, tanaman jagung ini lebih banyak digunakan pakan ternak ketimbang konsumsi sendiri. Jika para peternak tumbuh drastis, maka permintaan jagung otomatis akan meningkat.

Jagung ini digunakan untuk pakan ternak mulai dari jenis unggas, burung dan lainnya. “Makanya harga pakan ternak dari jagung ini lumayan mahal di pasar.

Saat ini masyarakat kalangan petani kita banyak yang terjun menanam lahan pertanian jagung,” ucapnya. Luas lahan jagung di wilayah Bali mencapai total 19 ribu hektare.

Pada tahun 2016 untuk mendukung program ketahanan pangan nasional sebagai ganti beras, penanaman jagung sangat gencar hingga saat ini.

tahun 2016 lalu, bantuan pusat berupa pupuk dan bibit mencapai 7.628 hektare. Tahun 2017 lalu bantuan pupuk dari pemerintah pusat turun yakni hanya lima ribu hektare. “Sisanya merupakan hasil swadaya petani,” terangnya.

Masa panen tanaman jagung itu tergantung cuaca. Jika dalam kondisi musim hujan panen bisa dilakukan dalam waktu dua kali masa panen.

Sedangkan jika dalam kondisi cuaca kemarau, maka masa panen jagung hanya sekali dalam setahun. “Dari hasil panen jagung ini, hanya untuk memenuhi kebutuhan di Bali saja,” pungkasnya.



DENPASAR – Tanaman jagung yang merupakan tanaman untuk kebutuhan pakan ternak dan manusia kian dilirik masyarakat hampir di seluruh Bali.

Beberapa petani di kabupaten/kota mulai membudidayakan tanaman yang memiliki nama latin Zea mays.

Harga yang stabil di angka Rp 3.500 per kilogram menjadi faktor pemicu petani beralih menanam jagung.

Kabid di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Bali I Wayan Sunarta mengatakan, tahun 2016 lalu, jumlah panen jagung di seluruh Bali mencapai 55 ribu ton.

Tahun 2017, hasil panen mencapai 51.802 ton atau mengalami penurunan hampir dua ton. Dari kesuluruhan jagung tersebut paling banyak terdapat di wilayah kabupaten Buleleng dan Karangasem.

Sementara luas tanam di Tahun 2017 mencapai 15.628 hektare. “Tanaman jagung yang ditanam petani tidak termasuk jagung manis. Kalau jagung manis sudah masuk kategori hortikultura,” katanya.

Dijelasakan, tanaman jagung ini lebih banyak digunakan pakan ternak ketimbang konsumsi sendiri. Jika para peternak tumbuh drastis, maka permintaan jagung otomatis akan meningkat.

Jagung ini digunakan untuk pakan ternak mulai dari jenis unggas, burung dan lainnya. “Makanya harga pakan ternak dari jagung ini lumayan mahal di pasar.

Saat ini masyarakat kalangan petani kita banyak yang terjun menanam lahan pertanian jagung,” ucapnya. Luas lahan jagung di wilayah Bali mencapai total 19 ribu hektare.

Pada tahun 2016 untuk mendukung program ketahanan pangan nasional sebagai ganti beras, penanaman jagung sangat gencar hingga saat ini.

tahun 2016 lalu, bantuan pusat berupa pupuk dan bibit mencapai 7.628 hektare. Tahun 2017 lalu bantuan pupuk dari pemerintah pusat turun yakni hanya lima ribu hektare. “Sisanya merupakan hasil swadaya petani,” terangnya.

Masa panen tanaman jagung itu tergantung cuaca. Jika dalam kondisi musim hujan panen bisa dilakukan dalam waktu dua kali masa panen.

Sedangkan jika dalam kondisi cuaca kemarau, maka masa panen jagung hanya sekali dalam setahun. “Dari hasil panen jagung ini, hanya untuk memenuhi kebutuhan di Bali saja,” pungkasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/