alexametrics
28.7 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Dewan Bali Usul Subsidi Trans Sarbagita Diarahkan untuk Petani Buah

DENPASAR – Komisi III DPRD Bali menyorot layanan Trans Sarbagita yang diluncurkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika sejak 17 Agustus 2011 dan mulai beroperasi 18 Agustus 2011.

Dewan menilai subsidi Rp 12 miliar untuk angkutan umum massal tersebut tak efektif. Dewan berharap bus Sarbagita total dikandangkan.

Sebagai gantinya Ketua Komisi III I Nengah Tamba berharap subsidi Rp 13 miliar Trans Sarbagita di tahun 2019 dialihkan kepada para petani buah.

“Duit Sarbagita idealnya digunakan untuk cool storage (tempat khusus penyimpan buah, red). Bisa menampung 60 persen hasil pertanian Bali.

Petani pada saat panen tidak bergairah. Hasilnya jatuh tak punya harga karena berlaku hukum pasar. Maksud saya di setiap kabupaten sudah punya data pasti berapa punya hasil panen,” ucap Tamba kemarin.

Baca Juga:  Antis dan tiket.com Kembali Berkolaborasi

Menurutnya, dengan model cool storage komoditi buah lokal seperti rambutan, mangga, manggis, jeruk, salak, durian, dan lain-lain akan dibeli oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Hal ini memungkinkan kerugian para petani buah yang berlarut-larut setiap tahun dipotong.  “Pemprov bentuk konsorsium.

 Kita punya perusahaan daerah. Kita punya perindustrian, perdagangan. Masing-masing punya tugas dan tanggung jawab pemetaan kongkret hasil panen petani di setiap kabupaten.

Pemetaan inilah yang dijadikan acuan hasil panen yang dibeli Pemprov Bali,” papar Tamba.

Tamba merinci keberadaan konsorsium (tampung di cool storage, red) bisa membuat petani buah bergairah. Sebab hasil pertaniannya dibeli dan petani memperoleh penghasilan.

Hasil pembelian produk pertanian selanjutnya akan dijual oleh perusahaan daerah kepada agen-agen penjual buah.

“Di Bali kita banyak punya hari raya. Kita butuh buah berton-ton setiap hari raya untuk kebutuhan persembahyangan. Kita punya perda perlindungan buah lokal.

Baca Juga:  Prodi MTP Poltekpar Bali Siap Kembalikan Kejayaan Desa Bedulu

Selain itu buah bisa kita kirim ke hotel-hotel atau restoran yang selama ini cenderung memanfaatkan buah impor. Kalau masih sisa buah bisa diolah jadi produk minuman segar yang punya brand Bali,” bebernya.

 Untuk memasarkan buah asli Bali yang stoknya melimpah, politisi asli Jembrana itu menyebut bisa dijual via online.

“Taglinenya ayo minum buah asli Bali atau apa saja yang penting good quality dan mampu bersaing. Tentunya dengan kemasan yang menarik dan sehat.

Ini gagasan yang bisa membuat petani kita jadi PNS. Pergi pagi ke kebun pulang sore dari kebun. Nggak seperti sekarang malas-malasan karena hasil panen tak dihargai,” tegasnya. 



DENPASAR – Komisi III DPRD Bali menyorot layanan Trans Sarbagita yang diluncurkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika sejak 17 Agustus 2011 dan mulai beroperasi 18 Agustus 2011.

Dewan menilai subsidi Rp 12 miliar untuk angkutan umum massal tersebut tak efektif. Dewan berharap bus Sarbagita total dikandangkan.

Sebagai gantinya Ketua Komisi III I Nengah Tamba berharap subsidi Rp 13 miliar Trans Sarbagita di tahun 2019 dialihkan kepada para petani buah.

“Duit Sarbagita idealnya digunakan untuk cool storage (tempat khusus penyimpan buah, red). Bisa menampung 60 persen hasil pertanian Bali.

Petani pada saat panen tidak bergairah. Hasilnya jatuh tak punya harga karena berlaku hukum pasar. Maksud saya di setiap kabupaten sudah punya data pasti berapa punya hasil panen,” ucap Tamba kemarin.

Baca Juga:  Antis dan tiket.com Kembali Berkolaborasi

Menurutnya, dengan model cool storage komoditi buah lokal seperti rambutan, mangga, manggis, jeruk, salak, durian, dan lain-lain akan dibeli oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Hal ini memungkinkan kerugian para petani buah yang berlarut-larut setiap tahun dipotong.  “Pemprov bentuk konsorsium.

 Kita punya perusahaan daerah. Kita punya perindustrian, perdagangan. Masing-masing punya tugas dan tanggung jawab pemetaan kongkret hasil panen petani di setiap kabupaten.

Pemetaan inilah yang dijadikan acuan hasil panen yang dibeli Pemprov Bali,” papar Tamba.

Tamba merinci keberadaan konsorsium (tampung di cool storage, red) bisa membuat petani buah bergairah. Sebab hasil pertaniannya dibeli dan petani memperoleh penghasilan.

Hasil pembelian produk pertanian selanjutnya akan dijual oleh perusahaan daerah kepada agen-agen penjual buah.

“Di Bali kita banyak punya hari raya. Kita butuh buah berton-ton setiap hari raya untuk kebutuhan persembahyangan. Kita punya perda perlindungan buah lokal.

Baca Juga:  Menabung di BRI, Ikut Serta Membangun Negeri

Selain itu buah bisa kita kirim ke hotel-hotel atau restoran yang selama ini cenderung memanfaatkan buah impor. Kalau masih sisa buah bisa diolah jadi produk minuman segar yang punya brand Bali,” bebernya.

 Untuk memasarkan buah asli Bali yang stoknya melimpah, politisi asli Jembrana itu menyebut bisa dijual via online.

“Taglinenya ayo minum buah asli Bali atau apa saja yang penting good quality dan mampu bersaing. Tentunya dengan kemasan yang menarik dan sehat.

Ini gagasan yang bisa membuat petani kita jadi PNS. Pergi pagi ke kebun pulang sore dari kebun. Nggak seperti sekarang malas-malasan karena hasil panen tak dihargai,” tegasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/