alexametrics
29.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Kain Tenun Gringsing Sepi Pembeli, Perajin Belum Terdampak SE Gubernur

AMLAPURA – Kain khas Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, yakni kain tenun gringsing juga tak lepas dari korban pandemi covid-19.

Sejak pandemi berlangsung, permintaan kain gringsing lesu yang berdampak pada pendapatan perajin di Desa Tenganan. Bahkan, sekalipun ada SE Gubernur terkait penggunakan pakaian berbahan tenun khas tradisional Bali, itu belum berdampak bagi mereka.

 

Meski lesu, aktivitas produksi tetap dijalankan para perajin di desa yang dikenal dengan sebutan Bali Aga ini.

 

Salah satu kelian adat Tenganan Pegeringsingan I Wayan Mudana mengatakan di tengah pandemi covid-19, permintaan untuk kain gringsing ini mengalami penurunan drastis dibanding kondisi normal.

 

“Ya tetap berproduksi. Tapi permintaannya sangat-sangat turun. Dilihat dari jumlah produksi perajin, tidak lebih dari sepuluh lembar per bulan. Turun produksi sampai 50 persen,” ujarnya Jumat (19/3).

Baca Juga:  Pasar Menjanjikan, Ekspor Kopi Specialty Naik 10 Persen

 

Mudana menuturkan, dampak pandemi diakui sangat luar biasa dan berlangsung lama. Kondisi ini membuat sebagian besar art shop yang biasa menyerap produk kain geringsing ini tutup. Sehingga berdampak pada menurunnya serapan produk dari para perajin di desanya.

 

“Karena kan art shop ini dijual lagi jadi ngambilnya banyak. Karena pandemi banyak tutup. Ada pesanan perorangan tapi sedikit. Makanya semampunya saja,” paparnya.

 

Selai penurunan permintaan, perajin juga dihadapkan dengan biaya bahan baku pembuatan kain yang harganya naik. Ini karena proses pembuatan kain gringsing masih mempertahankan cara tradisional. Mulai dari penenunan yang menggunakan teknik dobel ikat hingga prosea pewarnaan yang juga menggunakan bahan-bahan alami.

Baca Juga:  BEM FH Unud Desak PPKM Level 4 di Bali Dikaji Ulang

 

“Seperti harga kemiri untuk bahan warna itu beli dari Nusa Penida. Saat ini harganya naik. Ini membuat biaya produksi membengkak,” imbuhnya.

 

Kondisi ini membuat para perajin di Desa Tenganan hanya memproduksi sesuai kemampuan. Selain melakukan pemasaran secara konvensional, pemasaran juga menyasar secara online melalui media sosial.

 

Dia menyebut, harga satu kain ukuran sedang berkisar Rp450 ribu sampai Rp3,5 juta.

 

“Semakin rumit, semakin mahal. Harga bahan baku juga naik, sehingga biaya produksi bertambah,” ucap Mudana.

 

Ada 24 motif kain yang khas dari Tenganan Pegeringsingan. Di antaranya lubeng, tateledan, cemplong, hingga gegonggangan. Bahkan beberapa motif tengah dikembangkan saat ini. Misalnya motif padma, pitara, dan motif modifikasi lainnya.

 


AMLAPURA – Kain khas Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, yakni kain tenun gringsing juga tak lepas dari korban pandemi covid-19.

Sejak pandemi berlangsung, permintaan kain gringsing lesu yang berdampak pada pendapatan perajin di Desa Tenganan. Bahkan, sekalipun ada SE Gubernur terkait penggunakan pakaian berbahan tenun khas tradisional Bali, itu belum berdampak bagi mereka.

 

Meski lesu, aktivitas produksi tetap dijalankan para perajin di desa yang dikenal dengan sebutan Bali Aga ini.

 

Salah satu kelian adat Tenganan Pegeringsingan I Wayan Mudana mengatakan di tengah pandemi covid-19, permintaan untuk kain gringsing ini mengalami penurunan drastis dibanding kondisi normal.

 

“Ya tetap berproduksi. Tapi permintaannya sangat-sangat turun. Dilihat dari jumlah produksi perajin, tidak lebih dari sepuluh lembar per bulan. Turun produksi sampai 50 persen,” ujarnya Jumat (19/3).

Baca Juga:  Pandemi, Peternakan Sapi di Karangasem Kembali Menggeliat

 

Mudana menuturkan, dampak pandemi diakui sangat luar biasa dan berlangsung lama. Kondisi ini membuat sebagian besar art shop yang biasa menyerap produk kain geringsing ini tutup. Sehingga berdampak pada menurunnya serapan produk dari para perajin di desanya.

 

“Karena kan art shop ini dijual lagi jadi ngambilnya banyak. Karena pandemi banyak tutup. Ada pesanan perorangan tapi sedikit. Makanya semampunya saja,” paparnya.

 

Selai penurunan permintaan, perajin juga dihadapkan dengan biaya bahan baku pembuatan kain yang harganya naik. Ini karena proses pembuatan kain gringsing masih mempertahankan cara tradisional. Mulai dari penenunan yang menggunakan teknik dobel ikat hingga prosea pewarnaan yang juga menggunakan bahan-bahan alami.

Baca Juga:  Level PPKM Menurun, Mobil Rental di Bali Ludes Disewa Konsumen

 

“Seperti harga kemiri untuk bahan warna itu beli dari Nusa Penida. Saat ini harganya naik. Ini membuat biaya produksi membengkak,” imbuhnya.

 

Kondisi ini membuat para perajin di Desa Tenganan hanya memproduksi sesuai kemampuan. Selain melakukan pemasaran secara konvensional, pemasaran juga menyasar secara online melalui media sosial.

 

Dia menyebut, harga satu kain ukuran sedang berkisar Rp450 ribu sampai Rp3,5 juta.

 

“Semakin rumit, semakin mahal. Harga bahan baku juga naik, sehingga biaya produksi bertambah,” ucap Mudana.

 

Ada 24 motif kain yang khas dari Tenganan Pegeringsingan. Di antaranya lubeng, tateledan, cemplong, hingga gegonggangan. Bahkan beberapa motif tengah dikembangkan saat ini. Misalnya motif padma, pitara, dan motif modifikasi lainnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/