alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Harga Telur Meroket, Penjualan Merosot, Ini Klaim Dinas Perdagangan…

SINGARAJA – Kenaikan harga telur ayam di pasaran mulai berdampak pada daya beli. Penjualan telur ayam di pasar tradisional kini merosot hingga separonya.

Pedagang pun tak bisa berbuat banyak, lantaran harga dari distributor sudah mengalami kenaikan. Sejak sepekan terakhir, harga telur memang terus mengalami kenaikan.

Kenaikan harga itu bukan hanya berlaku bagi harga telur ras. Namun juga berlaku bagi harga telur ayam kampung dan telur bebek.

Khusus untuk telur ayam ras, kini dijual seharga Rp 44ribu per krat dari harga semula Rp 38ribu. Sementara telur bebek dijual dengan harga Rp 80ribu per krat dari harga awal Rp 70 ribu.

Sedangkan untuk telur ayam kampung yang awalnya dijual Rp 2.000 per butir, kini dijual dengan harga Rp 2.500 per butir.

“Dulu waktu harganya normal, seribu per butir itu laris jualan. Minimal empat krat sehari. Sekarang bisa jual dua krat sehari saja sudah syukur.

Keras sekali dampaknya. Sedikit orang belanja,” kata Nyoman Gunung, salah seorang pedagang telur di Pasar Anyar Singaraja.

Berdasar data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dagrin) Buleleng, harga telur ayam ras mencapai Rp 1.500 per butir. Padahal harga eceran tertinggi untuk telur ayam ras hanya Rp 1.250 per butir.

Kepala Dinas Dagrin Buleleng Ketut Suparto mengklaim kenaikan harga telur bukan hanya terjadi di Buleleng, melainkan sudah terjadi di seluruh Bali.

Harga dipicu kenaikan harga pakan ternak. Ditambah lagi cuaca dingin yang berdampak pada penurunan produksi telur.

“Ini sebenarnya anomali. Karena saat hari raya beruntun bulan lalu itu, harganya normal. Sekarang sebenarnya stok di pasar aman.

Dulu memang kelihatannya melimpah, karena pedagang menyiapkan stok di atas kebutuhan. Kalau sekarang pedagang hanya menyiapkan sesuai kebutuhan saja,” jelas Suparto.

Kenaikan harga pakan ternak itu bukan hanya berdampak pada kenaikan harga telur. Namun juga berdampak pada kenaikan harga daging ayam.

Harga daging ayam di pasar tradisional sempat mencapai Rp 45ribu per kilogram pada Senin (16/9). Terhitung pada Kamis kemarin harga daging ayam mencapai Rp 40ribu per kilogram dari harga normal Rp 32ribu per kilogram.

Terkait kondisi tersebut, pihak Dinas Dagrin Buleleng menyatakan kondisi buffer stock untuk kebutuhan masyarakat Buleleng, dalam kondisi aman.

Apabila harga melonjak tinggi, maka pemerintah akan melakukan intervensi dengan menggelar operasi pasar. Sehingga harga bisa stabil kembali.



SINGARAJA – Kenaikan harga telur ayam di pasaran mulai berdampak pada daya beli. Penjualan telur ayam di pasar tradisional kini merosot hingga separonya.

Pedagang pun tak bisa berbuat banyak, lantaran harga dari distributor sudah mengalami kenaikan. Sejak sepekan terakhir, harga telur memang terus mengalami kenaikan.

Kenaikan harga itu bukan hanya berlaku bagi harga telur ras. Namun juga berlaku bagi harga telur ayam kampung dan telur bebek.

Khusus untuk telur ayam ras, kini dijual seharga Rp 44ribu per krat dari harga semula Rp 38ribu. Sementara telur bebek dijual dengan harga Rp 80ribu per krat dari harga awal Rp 70 ribu.

Sedangkan untuk telur ayam kampung yang awalnya dijual Rp 2.000 per butir, kini dijual dengan harga Rp 2.500 per butir.

“Dulu waktu harganya normal, seribu per butir itu laris jualan. Minimal empat krat sehari. Sekarang bisa jual dua krat sehari saja sudah syukur.

Keras sekali dampaknya. Sedikit orang belanja,” kata Nyoman Gunung, salah seorang pedagang telur di Pasar Anyar Singaraja.

Berdasar data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dagrin) Buleleng, harga telur ayam ras mencapai Rp 1.500 per butir. Padahal harga eceran tertinggi untuk telur ayam ras hanya Rp 1.250 per butir.

Kepala Dinas Dagrin Buleleng Ketut Suparto mengklaim kenaikan harga telur bukan hanya terjadi di Buleleng, melainkan sudah terjadi di seluruh Bali.

Harga dipicu kenaikan harga pakan ternak. Ditambah lagi cuaca dingin yang berdampak pada penurunan produksi telur.

“Ini sebenarnya anomali. Karena saat hari raya beruntun bulan lalu itu, harganya normal. Sekarang sebenarnya stok di pasar aman.

Dulu memang kelihatannya melimpah, karena pedagang menyiapkan stok di atas kebutuhan. Kalau sekarang pedagang hanya menyiapkan sesuai kebutuhan saja,” jelas Suparto.

Kenaikan harga pakan ternak itu bukan hanya berdampak pada kenaikan harga telur. Namun juga berdampak pada kenaikan harga daging ayam.

Harga daging ayam di pasar tradisional sempat mencapai Rp 45ribu per kilogram pada Senin (16/9). Terhitung pada Kamis kemarin harga daging ayam mencapai Rp 40ribu per kilogram dari harga normal Rp 32ribu per kilogram.

Terkait kondisi tersebut, pihak Dinas Dagrin Buleleng menyatakan kondisi buffer stock untuk kebutuhan masyarakat Buleleng, dalam kondisi aman.

Apabila harga melonjak tinggi, maka pemerintah akan melakukan intervensi dengan menggelar operasi pasar. Sehingga harga bisa stabil kembali.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/