alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

19 Babi Dilaporkan Mati Mendadak di Gianyar, Distan Perketat Jual Beli

GIANYAR – Wabah babi mati mendadak yang terjadi di Tabanan dan Badung, rupanya, merembet ke Gianyar.

Berdasar laporan di Dinas Pertanian (Distan) Gianyar, tercatat ada 19 babi mati. Babi mati tersebar di 4 lokasi. Untuk memastikan penyebab kematian, Distan Gianyar sedang meneliti sampel bangkai babi yang telah dikubur.

Menurut Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Distan Gianyar drh. Made Santi Arka Wijaya, sebaran babi mati terbanyak di Kecamatan Payangan.

Itu karena di Kecamatan Payangan banyak warganya yang memelihara babi. “Di Payangan ada 3 titik. Di Desa Klusa, Bukian,

dan Ponggang Puhu. Satu titik lainnya di (Kecamatan, red) Sukawati di Banjar Abasan, Desa Singapadu Tengah,” ujar drh. Santi Arka Wijaya.

Baca Juga:  Seratusan Babi Mati Mendadak, Distan Semprot Kandang Babi Peternak

Mengenai babi yang mati mendadak, pihaknya langsung terjun ke lokasi kandang. “Setelah dilakukan desinfeksi kematian tak berlanjut, sampel juga di bawa ke lab,” jelasnya.

Untuk sampel bangkai babi dibawa ke laboratorium di Denpasar. “Belum ada jawaban (hasil lab, red). Tapi kami sudah berkoordinasi dengan BBVet untuk diambil sampel di sana,” bebernya.

Pihaknya memperkirakan, wabah Bani mati ini tidak berkaitan dengan virus Afrian Swine Fever (ASF) alias demam babi Afrika.

“Kalau dilihat dari angka kematian cukup kecil, kemungkinan tak terserang ASF,” tegasnya. Selain melakukan desinfeksi, pihaknya juga melakukan upaya memperketat biosecurity.

“Kami akan lakukan sosialisasi pada daerah yang banyak kematian dan yang masih aman, untuk sama-sama kita perketat lalu lintas babi,” jelasnya.

Baca Juga:  KB Kookmin Bank Dukung Right Issue Bank Bukopin

Disamping itu, perlu pengawasan bersama terkait jual beli babi. “Orang-orang yang berpotensi pembawa virus juga disosialisasikan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, para pembeli atau tengkulak babi juga berpotensi membawa virus dari satu kandang ke kandang lain.

“Kita sepakat di seluruh Bali untuk memperketat keluarnya babi dari daerah kasus. Sebab tukang juk (tukang tangkap, red) babi, tumpung atau bangsung dan lain lain peralatannya itu berpotensi sekali sebagai penyebar,” terangnya.

Diakui, Gianyar tumbuh berjamuran usaha kuliner babi guling. Maka dia berharap para pedagang maupun tukang juk ini memperhatikan

kebersihan babi. “Peralatannya seperti tumpung, mobil angkut, tukang juk dan lainnya harus bersih,” pungkasnya.



GIANYAR – Wabah babi mati mendadak yang terjadi di Tabanan dan Badung, rupanya, merembet ke Gianyar.

Berdasar laporan di Dinas Pertanian (Distan) Gianyar, tercatat ada 19 babi mati. Babi mati tersebar di 4 lokasi. Untuk memastikan penyebab kematian, Distan Gianyar sedang meneliti sampel bangkai babi yang telah dikubur.

Menurut Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Distan Gianyar drh. Made Santi Arka Wijaya, sebaran babi mati terbanyak di Kecamatan Payangan.

Itu karena di Kecamatan Payangan banyak warganya yang memelihara babi. “Di Payangan ada 3 titik. Di Desa Klusa, Bukian,

dan Ponggang Puhu. Satu titik lainnya di (Kecamatan, red) Sukawati di Banjar Abasan, Desa Singapadu Tengah,” ujar drh. Santi Arka Wijaya.

Baca Juga:  Ngeri…Anjing Liar Rabies Ngamuk, Serang 6 Korban, Mayoritas Anak-anak

Mengenai babi yang mati mendadak, pihaknya langsung terjun ke lokasi kandang. “Setelah dilakukan desinfeksi kematian tak berlanjut, sampel juga di bawa ke lab,” jelasnya.

Untuk sampel bangkai babi dibawa ke laboratorium di Denpasar. “Belum ada jawaban (hasil lab, red). Tapi kami sudah berkoordinasi dengan BBVet untuk diambil sampel di sana,” bebernya.

Pihaknya memperkirakan, wabah Bani mati ini tidak berkaitan dengan virus Afrian Swine Fever (ASF) alias demam babi Afrika.

“Kalau dilihat dari angka kematian cukup kecil, kemungkinan tak terserang ASF,” tegasnya. Selain melakukan desinfeksi, pihaknya juga melakukan upaya memperketat biosecurity.

“Kami akan lakukan sosialisasi pada daerah yang banyak kematian dan yang masih aman, untuk sama-sama kita perketat lalu lintas babi,” jelasnya.

Baca Juga:  Forum Bali Bangkit Deklarasi Dukung Bali Open Border

Disamping itu, perlu pengawasan bersama terkait jual beli babi. “Orang-orang yang berpotensi pembawa virus juga disosialisasikan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, para pembeli atau tengkulak babi juga berpotensi membawa virus dari satu kandang ke kandang lain.

“Kita sepakat di seluruh Bali untuk memperketat keluarnya babi dari daerah kasus. Sebab tukang juk (tukang tangkap, red) babi, tumpung atau bangsung dan lain lain peralatannya itu berpotensi sekali sebagai penyebar,” terangnya.

Diakui, Gianyar tumbuh berjamuran usaha kuliner babi guling. Maka dia berharap para pedagang maupun tukang juk ini memperhatikan

kebersihan babi. “Peralatannya seperti tumpung, mobil angkut, tukang juk dan lainnya harus bersih,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/