alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, July 6, 2022

Pasokan Ayam Macet, Harga Melambung Tinggi, Pedagang Ayam Protes…

DENPASAR – Seretnya asokan ayam potong hidup akibat bobot ayam yang berkurang membawa gejolak ditingkat distribusi.

Sejak dua hari terakhir, Perkumpulan Dagang Ayam (Gada) Bali tidak melakukan pengiriman ke rumah potong ayam.

Dampaknya, hingga siang hari ini pasokan ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Denpasar, Badung, dan Tabanan, berkurang.

Bahkan, pedagang ayam di Pasar Dauh Pala, Tabanan, menghentikan aktivitas jual beli lantaran tidak ada ayam hidup yang bisa dipotong untuk dijual.

Sulitnya mendapatkan pasokan ayam memaksa Gada Bali turun ke jalan. Mereka kemarin bahkan berkumpul di halaman Gedung KNPI Denpasar.

Para pengusaha distribusi ayam itu membawa mobil pengangkut ayam sembari membawa selebaran yang bertuliskan harapan dan keluh kesah yang dihadapi.

Tuntutan mereka satu, berharap Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bali bisa menjadi penyeimbang bukan justru membiarkan kondisi ini terjadi berlarut-larut.

Ketua Gada Bali I Kadek Agus Seryawan mengungkapkan, keputusan untuk tidak melakukan pendistribusian ini dilatarbelakangi permintaan ayam yang tidak sesuai dengan jumlah yang diinginkan pasar.

Sejak beberapa bulan ini, pihaknya hanya mendapatkan pasokan ayam dari peternak sebanyak 100 ton daging hidup atau 50 persen dari normal.

“Ini terjadi sejak beberapa bulan terakhir pasca pelarangan penggunaan antibiotic growth promotor (AGP) untuk mempercepat pertumbuhan ayam sehinga bobot ayam sesuai yang diinginkan,” ujarnya Minggu kemarin.

Dia berharap, seharusnya pemerintah, ketika ada aturan pelarangan menggunakan AGP tersebut, sudah memikirkan antisipasinya.

Misalnya dengan menyediakan penambahan daily old chiken (DOC) atau peternak memperpanjang masa panen ayam.

Yang sebelumnya dengan pemakaian AGP bisa 35 hari dengan bobot 2 kg, namun karena tidak memakai AGP bisa ditambah menjadi 40 hari sehingga berat ayam ideal dan sesuai keinginan pedagang.

“Kalau dari segi harga kami tidak masalah, yang terpenting saat ini barangnya tersedia sesuai permintaan,” jelas Seryawan.

“Ayam ini sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat banyak, jadi ketersediaan bisa menjadi jawaban untuk turunnya harga daging ayam di Pasaran,” imbuhnya. 



DENPASAR – Seretnya asokan ayam potong hidup akibat bobot ayam yang berkurang membawa gejolak ditingkat distribusi.

Sejak dua hari terakhir, Perkumpulan Dagang Ayam (Gada) Bali tidak melakukan pengiriman ke rumah potong ayam.

Dampaknya, hingga siang hari ini pasokan ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Denpasar, Badung, dan Tabanan, berkurang.

Bahkan, pedagang ayam di Pasar Dauh Pala, Tabanan, menghentikan aktivitas jual beli lantaran tidak ada ayam hidup yang bisa dipotong untuk dijual.

Sulitnya mendapatkan pasokan ayam memaksa Gada Bali turun ke jalan. Mereka kemarin bahkan berkumpul di halaman Gedung KNPI Denpasar.

Para pengusaha distribusi ayam itu membawa mobil pengangkut ayam sembari membawa selebaran yang bertuliskan harapan dan keluh kesah yang dihadapi.

Tuntutan mereka satu, berharap Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bali bisa menjadi penyeimbang bukan justru membiarkan kondisi ini terjadi berlarut-larut.

Ketua Gada Bali I Kadek Agus Seryawan mengungkapkan, keputusan untuk tidak melakukan pendistribusian ini dilatarbelakangi permintaan ayam yang tidak sesuai dengan jumlah yang diinginkan pasar.

Sejak beberapa bulan ini, pihaknya hanya mendapatkan pasokan ayam dari peternak sebanyak 100 ton daging hidup atau 50 persen dari normal.

“Ini terjadi sejak beberapa bulan terakhir pasca pelarangan penggunaan antibiotic growth promotor (AGP) untuk mempercepat pertumbuhan ayam sehinga bobot ayam sesuai yang diinginkan,” ujarnya Minggu kemarin.

Dia berharap, seharusnya pemerintah, ketika ada aturan pelarangan menggunakan AGP tersebut, sudah memikirkan antisipasinya.

Misalnya dengan menyediakan penambahan daily old chiken (DOC) atau peternak memperpanjang masa panen ayam.

Yang sebelumnya dengan pemakaian AGP bisa 35 hari dengan bobot 2 kg, namun karena tidak memakai AGP bisa ditambah menjadi 40 hari sehingga berat ayam ideal dan sesuai keinginan pedagang.

“Kalau dari segi harga kami tidak masalah, yang terpenting saat ini barangnya tersedia sesuai permintaan,” jelas Seryawan.

“Ayam ini sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat banyak, jadi ketersediaan bisa menjadi jawaban untuk turunnya harga daging ayam di Pasaran,” imbuhnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/