alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Cadangan Listrik Menipis Jadi Alasan Proyek JB Cross Berlanjut

DENPASAR – PLN terus berupaya mewujudkan proyek nasional pembangunan Jawa Bali Crossing (JB Cross) yang hingga saat ini belum terlaksana.

Salah satunya mendekati pemerintah Bali dan para pihak untuk ikut mendukung program nasional yang dimulai sejak era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Alasan mendasar, tahun 2020 cadangan listrik Bali diprediksi di bawah 30 persen. Harus dicari solusi agar ketahanan listrik Bali terjaga untuk mengejar target pertumbuhan 7 persen per tahun.

General Manager PLN Distribusi Bali I Nyoman Suwarjoni Astawa mengatakan, kalau proyeksi Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) ini tidak berjalan, tahun 2022 Bali terancam mengalami defisit listrik.

Sebagai acuan, kondisi defisit listrik pernah dialami di Tahun 2015 lalu sebelum PLTU Celukan Bawang dibangun. 

Baca Juga:  Menko Airlangga: Ikuti WHO, Positif Covid-19 Tidak Bisa Dicurangi

“Saat ini Bali mengalami pemadaman bergilir. Jadi, begitu ada satu pembangkit besar mengalami pemeliharaan, pemadaman bergilir harus diambil,” kata Suwarjoni Astawa kemarin.

Dengan kondisi seperti itu, PLN menawarkan solusi menambah daya transfer melalui JB Cross. Total yang disalurkan mencapai 500 kilo volt (KV).

Berdasar studi yang dilakukan, Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitek) adalah solusi paling murah dan memungkinkan untuk mentransfer daya listrik dari Jawa ke Bali.

“Kalau memang di Bali tidak memungkinkan karena terbentur kearifan lokal, kami akan menggeser, atau diturunkan. Kami juga butuh masukan itu. Makanya kami perlu masukan pemerintah daerah,” terangnya.

 

 



DENPASAR – PLN terus berupaya mewujudkan proyek nasional pembangunan Jawa Bali Crossing (JB Cross) yang hingga saat ini belum terlaksana.

Salah satunya mendekati pemerintah Bali dan para pihak untuk ikut mendukung program nasional yang dimulai sejak era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Alasan mendasar, tahun 2020 cadangan listrik Bali diprediksi di bawah 30 persen. Harus dicari solusi agar ketahanan listrik Bali terjaga untuk mengejar target pertumbuhan 7 persen per tahun.

General Manager PLN Distribusi Bali I Nyoman Suwarjoni Astawa mengatakan, kalau proyeksi Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) ini tidak berjalan, tahun 2022 Bali terancam mengalami defisit listrik.

Sebagai acuan, kondisi defisit listrik pernah dialami di Tahun 2015 lalu sebelum PLTU Celukan Bawang dibangun. 

Baca Juga:  Menko Airlangga: Percepat Penyerapan Anggaran Penanganan Covid-19

“Saat ini Bali mengalami pemadaman bergilir. Jadi, begitu ada satu pembangkit besar mengalami pemeliharaan, pemadaman bergilir harus diambil,” kata Suwarjoni Astawa kemarin.

Dengan kondisi seperti itu, PLN menawarkan solusi menambah daya transfer melalui JB Cross. Total yang disalurkan mencapai 500 kilo volt (KV).

Berdasar studi yang dilakukan, Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitek) adalah solusi paling murah dan memungkinkan untuk mentransfer daya listrik dari Jawa ke Bali.

“Kalau memang di Bali tidak memungkinkan karena terbentur kearifan lokal, kami akan menggeser, atau diturunkan. Kami juga butuh masukan itu. Makanya kami perlu masukan pemerintah daerah,” terangnya.

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/