alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Desa Adat Kerobokan Gelar Vaksin Covid Massal

MANGUPURA, Radar Bali – Desa Adat Kerobokan, Desa Kerobokan, Kuta Utara menggelar vaksinasi Covid-19 secara massal dipusatkan di GOR Purna Krida, Rabu (24/3). Vaksinasi ini berlangsung selama tiga, 24-26 Maret 2021 menyasar para pemangku, pecalang, kelian desa, serati, patih, dan tokoh adat lainnya. Vaksinasi massal digelar menuju zona hijau karena Desa Kerobokan menjadi penyangga pariwisata Bali. Sehingga bila pariwisata dibuka, ekonomi masyarakat setempat bisa menggeliat.

Anak Agung Bayu Joni Saputra, Ketua Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat Kerobokan berterima kasih kepada pemerintah yang merespons cepat arahan Presiden RI agar Bali kembali dibuka untuk wisatawan. “Desa Adat Kerobokan, daerah kami merupakan penyangga pariwisata. Tentu kami harus berpacu menjadikan Desa Kerobokan zona hijau,” ucapnya didampingi Jro Bendesa Adat Kerobokan, AA. Putu Sutarja di sela-sela pelaksanaan vaksinasi, kemarin.

Vaksinasi di Desa Ada Kerobokan untuk gelombang pertama dilakukan tiga hari. Per hari sebanyak 300 orang divaksin. Total, selama tiga hari sedikitnya 900 orang tervaksin. Vaksinasi berikutnya digelar 5-6 April dengan sasarannya prajuru adat dan lainnya. “Biar tidak dikatakan desa adat itu menjadi klaster baru. Untuk itu kami sangat mengapresiasi dan mendukung vaksinasi yang dilaksanakan pemerintah. Mudah-mudahan vaksinasi ini berjalan lancar,” beber Wakil Ketua Umum Kadin Bali ini.

Baca Juga:  Terima Komite ICRC, Menko Airlangga Dorong Akselerasi Vaksin Covid-19

Lebih lanjut, Joni Saputra menegaskan semakin cepat Kerobokan menjadi zona hijau, maka kepercayaan diri masyarakat akan tumbuh disertai dengan kepercayaan publik, khususnya wisatawan. “Selama pandemi pariwisata kita sangat terpuruk. Pertumbuhan ekonomi Bali paling rendah, yakni minus 9 persen. Kita tahu Bali 60 persen pendapatannya dari pariwisata. Tidak ada pilihan lain selain melakukan vaksinasi. Kami harapkan 70 persen warga Desa Adat Kerobokan tervaksin sehingga terciptanya herd immunity,” terang Ketua DPW ALFI Bali ini.

Jro Bendesa Adat Kerobokan, AA Putu Sutarja juga berharap digelarnya vaksinasi secara massal di Desa Adat Kerobokan membuat pelayanan publik kembali normal. “Begitu juga pemangku di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemangku misalnya saat memberikan air suci (tirta) tidak ada kekhawatiran lagi pada masyarakat. selain itu tidak ada lagi muncul rumor upacara sebagai klaster covid-19,” bebernya.

Baca Juga:  PLN Catat Rekor Peningkatan Beban Puncak Listrik Selama Libur Lebaran di Bali

Sementara Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa mengatakan di Kerobokan vaksinasi dilakukan 10 kali karena jumlah pendudukan yang padat. Ungkapnya, zona hijau digenjot di empat kelurahan penyangga untuk menuju zona hijau Nusa Dua, Kelurahan Benoa, Tanjung Benoa Jimbaran, dan satu usulan lain, yakni Desa Tuban. Menyusul Kuta Selatan, Kuta, dan Kuta Utara. “Karena kita lihat dari segi potensi, dinamika penduduk, dan dari sisi pergerakan ekonomi pariwisata. Namun di daerah lain, tim juga semua berjalan,” pungkasnya. Suiasa didampingi Camat Kuta Utara, Putu Eka Parmana, Lurah Kerobokan Kaja I Ketut Santika, Kepala UPTD Puskesmas Kuta Utara dr.Ni Putu Purlimaningsih, M.Kes, Satgas Gotong-royong covid-19 Desa Adat Kerobokan, unsur TNI/Polri dan stakeholder terkait. 

- Advertisement -

- Advertisement -

MANGUPURA, Radar Bali – Desa Adat Kerobokan, Desa Kerobokan, Kuta Utara menggelar vaksinasi Covid-19 secara massal dipusatkan di GOR Purna Krida, Rabu (24/3). Vaksinasi ini berlangsung selama tiga, 24-26 Maret 2021 menyasar para pemangku, pecalang, kelian desa, serati, patih, dan tokoh adat lainnya. Vaksinasi massal digelar menuju zona hijau karena Desa Kerobokan menjadi penyangga pariwisata Bali. Sehingga bila pariwisata dibuka, ekonomi masyarakat setempat bisa menggeliat.

Anak Agung Bayu Joni Saputra, Ketua Satgas Gotong Royong Covid-19 Desa Adat Kerobokan berterima kasih kepada pemerintah yang merespons cepat arahan Presiden RI agar Bali kembali dibuka untuk wisatawan. “Desa Adat Kerobokan, daerah kami merupakan penyangga pariwisata. Tentu kami harus berpacu menjadikan Desa Kerobokan zona hijau,” ucapnya didampingi Jro Bendesa Adat Kerobokan, AA. Putu Sutarja di sela-sela pelaksanaan vaksinasi, kemarin.

Vaksinasi di Desa Ada Kerobokan untuk gelombang pertama dilakukan tiga hari. Per hari sebanyak 300 orang divaksin. Total, selama tiga hari sedikitnya 900 orang tervaksin. Vaksinasi berikutnya digelar 5-6 April dengan sasarannya prajuru adat dan lainnya. “Biar tidak dikatakan desa adat itu menjadi klaster baru. Untuk itu kami sangat mengapresiasi dan mendukung vaksinasi yang dilaksanakan pemerintah. Mudah-mudahan vaksinasi ini berjalan lancar,” beber Wakil Ketua Umum Kadin Bali ini.

Baca Juga:  PLN Catat Rekor Peningkatan Beban Puncak Listrik Selama Libur Lebaran di Bali

Lebih lanjut, Joni Saputra menegaskan semakin cepat Kerobokan menjadi zona hijau, maka kepercayaan diri masyarakat akan tumbuh disertai dengan kepercayaan publik, khususnya wisatawan. “Selama pandemi pariwisata kita sangat terpuruk. Pertumbuhan ekonomi Bali paling rendah, yakni minus 9 persen. Kita tahu Bali 60 persen pendapatannya dari pariwisata. Tidak ada pilihan lain selain melakukan vaksinasi. Kami harapkan 70 persen warga Desa Adat Kerobokan tervaksin sehingga terciptanya herd immunity,” terang Ketua DPW ALFI Bali ini.

Jro Bendesa Adat Kerobokan, AA Putu Sutarja juga berharap digelarnya vaksinasi secara massal di Desa Adat Kerobokan membuat pelayanan publik kembali normal. “Begitu juga pemangku di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemangku misalnya saat memberikan air suci (tirta) tidak ada kekhawatiran lagi pada masyarakat. selain itu tidak ada lagi muncul rumor upacara sebagai klaster covid-19,” bebernya.

Baca Juga:  Jelang IMF Meeting, Penyelesaian Patung GWK Dikebut

Sementara Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa mengatakan di Kerobokan vaksinasi dilakukan 10 kali karena jumlah pendudukan yang padat. Ungkapnya, zona hijau digenjot di empat kelurahan penyangga untuk menuju zona hijau Nusa Dua, Kelurahan Benoa, Tanjung Benoa Jimbaran, dan satu usulan lain, yakni Desa Tuban. Menyusul Kuta Selatan, Kuta, dan Kuta Utara. “Karena kita lihat dari segi potensi, dinamika penduduk, dan dari sisi pergerakan ekonomi pariwisata. Namun di daerah lain, tim juga semua berjalan,” pungkasnya. Suiasa didampingi Camat Kuta Utara, Putu Eka Parmana, Lurah Kerobokan Kaja I Ketut Santika, Kepala UPTD Puskesmas Kuta Utara dr.Ni Putu Purlimaningsih, M.Kes, Satgas Gotong-royong covid-19 Desa Adat Kerobokan, unsur TNI/Polri dan stakeholder terkait. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/