alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Debit Air Turun, Tak Cukup Airi Sawah, Petani Buleleng Gagal Panen

SINGARAJA – Sejumlah petani di Kabupaten Buleleng kini terpaksa gigit jari. Mereka tak bisa memanen padi.

Benih-benih yang mereka tanam, gagal tumbuh sempurna. Gara-gara air yang mengalir ke lahan sawah, tak cukup untuk mengairi sawah mereka.

Di Subak Kerobokan, Desa Kerobokan misalnya. Petani memilih membiarkan tanaman padi mereka. Padahal benih yang ditanam sudah berusia sekitar satu bulan.

Padi tak mendapatkan air. Sehingga dibiarkan terbengkalai. Tanah pun retak-retak. Bahkan beberapa lahan pertanian warga sudah mulai menunjukkan bulir padi.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, pada musim tanam April-September ini, petani memang banyak yang mengalami kesulitan dalam bercocok tanam.

Sebab musim kemarau datang lebih awal. Air pun tak cukup untuk mengairi lahan pertanian mereka.

Rata-rata petani yang membiarkan benih mereka rusak, adalah petani yang berusaha bercocok tanam pada bulan Mei-Juni.

Diperkirakan pada pertengahan Oktober mendatang petani akan kembali bercocok tanam. Seiring dengan datangnya musim hujan.

Menurut Sumiarta saat ini ada delapan subak yang sudah melapor tak bisa melakukan penanaman padi.

“Di subak-subak itu ada yang sudah terlanjur menanam, tapi tidak bisa panen karena tidak dapat air. Ada subak lain yang memang sejak awal tidak menanam padi pada musim tanam ini. Dialihkan ke tanaman lainnya,” kata Sumiarta.

Sumiarta menyebut hampir tiap tahun ada saja subak yang mengalami gagal panen. Sebab debit air yang datang dari hulu sangat terbatas.

Dampaknya subak-subak yang berada di bagian hilir, kesulitan mendapat air bersih. Solusinya pada musim kemarau petani dianjurkan menanam komoditas yang relatif sedikit membutuhkan air.

Seperti jagung maupun kedelai. Sehingga petani tak sampai mengalami kerugian terlalu dalam. “Nanti mulai bulan depan kami akan programkan lagi pemberian bantuan benih padi pada petani.

Karena sesuai prediksi kan bulan depan sudah mulai masuk musim penghujan. Setidaknya beban petani di musim tanam ini bisa berkurang,” tegasnya.

Sekadar diketahui pada musim tanam April-September 2020, tercatat ada 9.687 hektare lahan yang ditanami padi. Diprediksi tiap hektare akan menghasilkan padi sebanyak 6 ton. 



SINGARAJA – Sejumlah petani di Kabupaten Buleleng kini terpaksa gigit jari. Mereka tak bisa memanen padi.

Benih-benih yang mereka tanam, gagal tumbuh sempurna. Gara-gara air yang mengalir ke lahan sawah, tak cukup untuk mengairi sawah mereka.

Di Subak Kerobokan, Desa Kerobokan misalnya. Petani memilih membiarkan tanaman padi mereka. Padahal benih yang ditanam sudah berusia sekitar satu bulan.

Padi tak mendapatkan air. Sehingga dibiarkan terbengkalai. Tanah pun retak-retak. Bahkan beberapa lahan pertanian warga sudah mulai menunjukkan bulir padi.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, pada musim tanam April-September ini, petani memang banyak yang mengalami kesulitan dalam bercocok tanam.

Sebab musim kemarau datang lebih awal. Air pun tak cukup untuk mengairi lahan pertanian mereka.

Rata-rata petani yang membiarkan benih mereka rusak, adalah petani yang berusaha bercocok tanam pada bulan Mei-Juni.

Diperkirakan pada pertengahan Oktober mendatang petani akan kembali bercocok tanam. Seiring dengan datangnya musim hujan.

Menurut Sumiarta saat ini ada delapan subak yang sudah melapor tak bisa melakukan penanaman padi.

“Di subak-subak itu ada yang sudah terlanjur menanam, tapi tidak bisa panen karena tidak dapat air. Ada subak lain yang memang sejak awal tidak menanam padi pada musim tanam ini. Dialihkan ke tanaman lainnya,” kata Sumiarta.

Sumiarta menyebut hampir tiap tahun ada saja subak yang mengalami gagal panen. Sebab debit air yang datang dari hulu sangat terbatas.

Dampaknya subak-subak yang berada di bagian hilir, kesulitan mendapat air bersih. Solusinya pada musim kemarau petani dianjurkan menanam komoditas yang relatif sedikit membutuhkan air.

Seperti jagung maupun kedelai. Sehingga petani tak sampai mengalami kerugian terlalu dalam. “Nanti mulai bulan depan kami akan programkan lagi pemberian bantuan benih padi pada petani.

Karena sesuai prediksi kan bulan depan sudah mulai masuk musim penghujan. Setidaknya beban petani di musim tanam ini bisa berkurang,” tegasnya.

Sekadar diketahui pada musim tanam April-September 2020, tercatat ada 9.687 hektare lahan yang ditanami padi. Diprediksi tiap hektare akan menghasilkan padi sebanyak 6 ton. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/