alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

RS BaliMed Perhatikan Asupan Protein Penderita GGK

RadarBali.com– Layanan cuci darah atau hemodialisis kerap dianggap sebagai satu-satunya penyelesaian masalah penderita gagal ginjal kronis (GGK).

Padahal selain cuci darah, pasien gagal ginjal juga harus memperhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh.

Spesialis gizi klinik RS BaliMed Denpasar dr. I Wayan Gede Sutadarma, mengatakan ada banyak permasalahan terkait nutrisi yang sering dialami penderita GGK.

Di antaranya gizi buruk, gangguan keseimbangan cairan, atau penurunan kadar protein tubuh. Penderita GGK juga akan mengalami mual dan muntah sehingga menurunkan selera makan.

“Kalau sudah dilakukan cuci darah maka keluhan mual dan muntah akan menurun sehingga selera makan akan meningkat.

Namun permasalahan yang dapat terjadi setelah cuci darah antara lain kehilangan protein tubuh, dan gangguan cairan dan elektrolit.

Baca Juga:  Harga Selangit, Petani Karangasem Diajak Tanam Bawang

Kehilangan protein inilah sebagai salah satu penyebab gangguan gizi tubuh,” ujarnya.

Sutadarma juga menambahkan protein akan ikut hilang bersama zat sisa metabolisme dari dalam tubuh pada saat proses cuci darah.

Sebaliknya, bagi penderita GGK yang tidak melakukan cuci darah, maka asupan protein harus dibatasi agar kerja ginjal tidak semakin berat karena zat sisa metabolisme protein harus dikeluarkan oleh ginjal.

“Kalau sumber makanan, antara protein hewani dan nabati harus seimbang, 50-50 persen. Kebutuhan protein penderita GGK dengan cuci darah akan lebih tinggi dari orang normal,” jelasnya.

Sementara jika asupan berlebih, maka sisa metabolisme protein akan menumpuk di dalam tubuh sehingga memperberat penyakitnya.

Baca Juga:  BRI Shops Master Class Latih Merchant Tangguh Hadapi Tantangan Global

“Kebutuhan kalorinya tergantung status gizi penderita. Pada gizi kurang atau buruk maka asupan kalori harus lebih tinggi untuk menaikkan berat badan.

Selain itu, gizi kurang atau buruk, akan meningkatkan risiko komplikasi seperti infeksi menjadi sangat besar,” imbuhnya.

Di sisi lain, asupan makan yang tidak kuat juga membuat kinerja organ tubuh semakin berat pada saat melakukan cuci darah.

Oleh karena itu, konseling gizi harus lebih sering dilakukan. “Harapan hidup penderita bisa lebih lama asalkan juga memperhatikan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi,” tandasnya.



RadarBali.com– Layanan cuci darah atau hemodialisis kerap dianggap sebagai satu-satunya penyelesaian masalah penderita gagal ginjal kronis (GGK).

Padahal selain cuci darah, pasien gagal ginjal juga harus memperhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh.

Spesialis gizi klinik RS BaliMed Denpasar dr. I Wayan Gede Sutadarma, mengatakan ada banyak permasalahan terkait nutrisi yang sering dialami penderita GGK.

Di antaranya gizi buruk, gangguan keseimbangan cairan, atau penurunan kadar protein tubuh. Penderita GGK juga akan mengalami mual dan muntah sehingga menurunkan selera makan.

“Kalau sudah dilakukan cuci darah maka keluhan mual dan muntah akan menurun sehingga selera makan akan meningkat.

Namun permasalahan yang dapat terjadi setelah cuci darah antara lain kehilangan protein tubuh, dan gangguan cairan dan elektrolit.

Baca Juga:  SMK Penerbangan Cakra Nusantara Gudangnya Kompetensi

Kehilangan protein inilah sebagai salah satu penyebab gangguan gizi tubuh,” ujarnya.

Sutadarma juga menambahkan protein akan ikut hilang bersama zat sisa metabolisme dari dalam tubuh pada saat proses cuci darah.

Sebaliknya, bagi penderita GGK yang tidak melakukan cuci darah, maka asupan protein harus dibatasi agar kerja ginjal tidak semakin berat karena zat sisa metabolisme protein harus dikeluarkan oleh ginjal.

“Kalau sumber makanan, antara protein hewani dan nabati harus seimbang, 50-50 persen. Kebutuhan protein penderita GGK dengan cuci darah akan lebih tinggi dari orang normal,” jelasnya.

Sementara jika asupan berlebih, maka sisa metabolisme protein akan menumpuk di dalam tubuh sehingga memperberat penyakitnya.

Baca Juga:  BRI Shops Master Class Latih Merchant Tangguh Hadapi Tantangan Global

“Kebutuhan kalorinya tergantung status gizi penderita. Pada gizi kurang atau buruk maka asupan kalori harus lebih tinggi untuk menaikkan berat badan.

Selain itu, gizi kurang atau buruk, akan meningkatkan risiko komplikasi seperti infeksi menjadi sangat besar,” imbuhnya.

Di sisi lain, asupan makan yang tidak kuat juga membuat kinerja organ tubuh semakin berat pada saat melakukan cuci darah.

Oleh karena itu, konseling gizi harus lebih sering dilakukan. “Harapan hidup penderita bisa lebih lama asalkan juga memperhatikan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/