alexametrics
25.4 C
Denpasar
Sunday, August 7, 2022

Paceklik Ikan Berbulan-bulan, Ini Penyebabnya Versi BROL

RadarBali.com – Paceklik ikan di perairan Selat Bali yang terjadi sejak setahun lebih, terutama ikan jenis tertentu seperti lemuru untuk produksi ikan sarden banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim secara global.

Jadi, bukan karena faktor lokal seperti pencemaran lingkungan di sekitar perairan yang mempengaruhi kualitas air.

Kepala Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) I Nyoman Radiarta menjelaskan, secara rinci hasil penelitian faktor-faktor yang menyebabkan paceklik ikan yang ada di perairan selat Bali.

“Secara umum ada perubahan iklim global yang sangat berpengaruh,” jelasnya. Hal tersebut sekaligus mematahkan asumsi masyarakat terutama nelayan Jembrana bahwa paceklik ikan karena ada pencemaran lingkungan.

Menurut nelayan Jembrana, karena pencemaran, ikan menjauh dari perairan selat Bali yang biasanya melimpah ikan.

Menurut Radiarta, iklim global mempengaruhi suhu. Sedangkan ikan seperti jenis lemuru sensitif terhadap perubahan suhu air.

Baca Juga:  Tangkapan Berkurang, Nelayan Pilih Tak Melaut

Secara ilmiah, disebutkan lapisan termoklin merupakan lapisan yang berada dalam kolom perairan di laut.

Di mana pada lapisan ini mengalami perubahan suhu yang drastis dengan lapisan yang berada dan di bawah lapisan termoklin.

Akibatnya, ikan yang sensitif dengan perubahan suhu ini, berada di perairan yang lebih dalam yang suhunya sesuai dengan ikan.

Radiarta berharap kerjasama dengan nelayan, terutama juru arah yang bisa mengetahui posisi ikan.

Data tersebut nantinya akan digunakan untuk memetakan posisi ikan di perairan selat Bali. Jangka panjangnya nelayan tidak akan kesulitan mencari ikan.

Salah satu peneliti BROL, Wingking Era Rintaka Siwi mengatakan, kalau dari sisi Oseanografi dari hasil penelitian sebelumnya, selain faktor iklim dan makanan, lingkungan ikan sangat berpengaruh.

Baca Juga:  Paceklik Ikan Berakhir, Giliran Dihadang Ombak Maling

Karena saat dilakukan penelitian ketika musim angin timur dan angin barat jauh perbedaaanya. Pada saat musim timur suhunya itu di kedalaman sampai dengan 20 meter, tapi kalau musim barat cenderung turun.

Hal ini juga dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan nelayan, hasilnya tidak jauh beda yakni ikan lebih banyak ketika musim timur karena termoklin naik.

Berbeda ketika musim barat, termoklin turun sehingga ikan berada di perairan yang lebih dalam lagi. Sedangkan jaring ikan nelayan hanya bisa menjangkau ikan yang berada di perairan lebih dangkal.

BROL sendiri ingin kerjasama dengan pihak nelayan lebih intensif. Nelayan bisa memberikan informasi mengenai posisi ikan sehingga pihak BROL bisa memetakan posisi ikan yang bermanfaat untuk nelayan untuk jangka panjang



RadarBali.com – Paceklik ikan di perairan Selat Bali yang terjadi sejak setahun lebih, terutama ikan jenis tertentu seperti lemuru untuk produksi ikan sarden banyak dipengaruhi oleh perubahan iklim secara global.

Jadi, bukan karena faktor lokal seperti pencemaran lingkungan di sekitar perairan yang mempengaruhi kualitas air.

Kepala Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) I Nyoman Radiarta menjelaskan, secara rinci hasil penelitian faktor-faktor yang menyebabkan paceklik ikan yang ada di perairan selat Bali.

“Secara umum ada perubahan iklim global yang sangat berpengaruh,” jelasnya. Hal tersebut sekaligus mematahkan asumsi masyarakat terutama nelayan Jembrana bahwa paceklik ikan karena ada pencemaran lingkungan.

Menurut nelayan Jembrana, karena pencemaran, ikan menjauh dari perairan selat Bali yang biasanya melimpah ikan.

Menurut Radiarta, iklim global mempengaruhi suhu. Sedangkan ikan seperti jenis lemuru sensitif terhadap perubahan suhu air.

Baca Juga:  Sidak Pabrik Migor di Marunda, Mendag: Stok Melimpah, Pabrik Bekerja

Secara ilmiah, disebutkan lapisan termoklin merupakan lapisan yang berada dalam kolom perairan di laut.

Di mana pada lapisan ini mengalami perubahan suhu yang drastis dengan lapisan yang berada dan di bawah lapisan termoklin.

Akibatnya, ikan yang sensitif dengan perubahan suhu ini, berada di perairan yang lebih dalam yang suhunya sesuai dengan ikan.

Radiarta berharap kerjasama dengan nelayan, terutama juru arah yang bisa mengetahui posisi ikan.

Data tersebut nantinya akan digunakan untuk memetakan posisi ikan di perairan selat Bali. Jangka panjangnya nelayan tidak akan kesulitan mencari ikan.

Salah satu peneliti BROL, Wingking Era Rintaka Siwi mengatakan, kalau dari sisi Oseanografi dari hasil penelitian sebelumnya, selain faktor iklim dan makanan, lingkungan ikan sangat berpengaruh.

Baca Juga:  Masuk Sasih Kedasa, Nelayan Bali Mulai Paceklik Tangkapan Ikan

Karena saat dilakukan penelitian ketika musim angin timur dan angin barat jauh perbedaaanya. Pada saat musim timur suhunya itu di kedalaman sampai dengan 20 meter, tapi kalau musim barat cenderung turun.

Hal ini juga dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan nelayan, hasilnya tidak jauh beda yakni ikan lebih banyak ketika musim timur karena termoklin naik.

Berbeda ketika musim barat, termoklin turun sehingga ikan berada di perairan yang lebih dalam lagi. Sedangkan jaring ikan nelayan hanya bisa menjangkau ikan yang berada di perairan lebih dangkal.

BROL sendiri ingin kerjasama dengan pihak nelayan lebih intensif. Nelayan bisa memberikan informasi mengenai posisi ikan sehingga pihak BROL bisa memetakan posisi ikan yang bermanfaat untuk nelayan untuk jangka panjang


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/