alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Musim Covid Harga Bahan Baku Mahal, Perajin Betok Kelapa Kelimpungan

AMLAPURA – Desa Waliyang, Kecamatan Abang, Karangasem dikenal dengan kerajinan batok kelapanya. Namun belakangan saat pandemic covid sekarang ini mereka bagaikan jatuh tertimpa tangga.

Betapa tidak, bahan baku tambahan seperti benang nilon dan rotan harganya naik sementara pembeli kerajinan menurun.

“Harga bahan baku seperti benang nilon  dan rotan naik,” ujar Desak Gede Ratna, salah satu perajin batok kelapa.

Benang nilon dan rotan memang didatangkan dari luar Bali sehingga harganya cukup mahal. Sementara harga batok kelapa pipih yang menjadi bahan baku utama masih stabil.

Namun demikian pengrajin tetap was was kalau bahan baku berupa batok kelapa juga ikut naik. Desak Ratna sendiri sudah menggeluti kerajinan batok kelapa sejak lama.

Tepatnya sejak 8 tahun lalu. Selama ini hasil kerajinanya dia pajang di kios kecil di desanya yakni Warung Merta Sari.

Baca Juga:  BRI Gelar Pameran Virtual Lokal Keren Jatim

Pada awal pandemi ini usahanya tersebut malah sempat mandeg sekitar dua bulan. Karena sama sekali tidak ada pengepul yang mau mengambil barang kerajinannya tersebut.

“Dua bulan sempat macet total, sama sekali tidak bisa jualan,” ujarnya. Bahkan, saat itu dia sampai merumahkan tenaga kerjanya karena tidak ada pekerjaan.

Namun, sejak diberlakukan new normal usahanya mulai menggeliat lagi. Beberapa barang kerajinanya mulai bisa terjual karena beberapa pengepul mulai mengambilnya.

Bahkan, beberapa pengepul asal Denpasar sempat mengambilnya dan mereka biasanya jual secara online.

Sementara produk yang dihasilkan di antaranya berupa bokor, keben, penyacak (tempat sesaji, red), tamas (tempat sesaji kecil), tempat kuangan atau bunga dan nare atau lepar besar.

Baca Juga:  Trik Bertahan Hidup saat Covid-19: Andalkan Budidaya Bibit Tanaman

Produknya ini sendiri memang kerap dipajang dalam berbagai pameran di Karangasem maupun di Bali. 

Yang cukup mengembirakan sejak pandemi ini siswa tidak sekolah alias belajar dari rumah.

Mereka punya waktu datang ke tempat usahanya untuk bekerja paruh waktu. Mereka adalah para pelajar SMA dan SMP di sekitar Desa Waliyang.

Mereka datang untuk mengisi waktu luang sekaligus juga untuk uang jajan dan pulsa untuk kuota internet.

Desak Ratna berharap bahan baku seperti rotan dan benang nilon bisa kembali stabil. Karena dengan demikian dirinya akan bisa perproduksi lagi dan bisa menekan biaya produksi.

 

 



AMLAPURA – Desa Waliyang, Kecamatan Abang, Karangasem dikenal dengan kerajinan batok kelapanya. Namun belakangan saat pandemic covid sekarang ini mereka bagaikan jatuh tertimpa tangga.

Betapa tidak, bahan baku tambahan seperti benang nilon dan rotan harganya naik sementara pembeli kerajinan menurun.

“Harga bahan baku seperti benang nilon  dan rotan naik,” ujar Desak Gede Ratna, salah satu perajin batok kelapa.

Benang nilon dan rotan memang didatangkan dari luar Bali sehingga harganya cukup mahal. Sementara harga batok kelapa pipih yang menjadi bahan baku utama masih stabil.

Namun demikian pengrajin tetap was was kalau bahan baku berupa batok kelapa juga ikut naik. Desak Ratna sendiri sudah menggeluti kerajinan batok kelapa sejak lama.

Tepatnya sejak 8 tahun lalu. Selama ini hasil kerajinanya dia pajang di kios kecil di desanya yakni Warung Merta Sari.

Baca Juga:  Ini Daftar RS di Bali Penyedia Rapid Test Antigen dan Harganya

Pada awal pandemi ini usahanya tersebut malah sempat mandeg sekitar dua bulan. Karena sama sekali tidak ada pengepul yang mau mengambil barang kerajinannya tersebut.

“Dua bulan sempat macet total, sama sekali tidak bisa jualan,” ujarnya. Bahkan, saat itu dia sampai merumahkan tenaga kerjanya karena tidak ada pekerjaan.

Namun, sejak diberlakukan new normal usahanya mulai menggeliat lagi. Beberapa barang kerajinanya mulai bisa terjual karena beberapa pengepul mulai mengambilnya.

Bahkan, beberapa pengepul asal Denpasar sempat mengambilnya dan mereka biasanya jual secara online.

Sementara produk yang dihasilkan di antaranya berupa bokor, keben, penyacak (tempat sesaji, red), tamas (tempat sesaji kecil), tempat kuangan atau bunga dan nare atau lepar besar.

Baca Juga:  Menabung di BRI, Ikut Serta Membangun Negeri

Produknya ini sendiri memang kerap dipajang dalam berbagai pameran di Karangasem maupun di Bali. 

Yang cukup mengembirakan sejak pandemi ini siswa tidak sekolah alias belajar dari rumah.

Mereka punya waktu datang ke tempat usahanya untuk bekerja paruh waktu. Mereka adalah para pelajar SMA dan SMP di sekitar Desa Waliyang.

Mereka datang untuk mengisi waktu luang sekaligus juga untuk uang jajan dan pulsa untuk kuota internet.

Desak Ratna berharap bahan baku seperti rotan dan benang nilon bisa kembali stabil. Karena dengan demikian dirinya akan bisa perproduksi lagi dan bisa menekan biaya produksi.

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/