alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Seribu Rumah Bersubsidi di Bali Terjual dalam 4 Bulan, Pusing Harga Material

DENPASAR, radarbali.id Sempat lesu akibat pandemi, penjualan rumah bersubsidi di Bali mulai menggeliat. Hal itu bisa dilihat pada data penjualan kuartal pertama atau empat bulan (Januari – April) 2022 meningkat dibandingkan kuartal pertama 2021. Bahkan, dalam empat bulan saja sudah terjual seribu unit.

Tumbuhnya penjualan rumah bersubsidi ini tak lepas dari dibukanya kembali pariwisata serta pelonggaran aktivitas oleh pemerintah.

“Selama kuartal pertama 2022 ini sudah ada 1.000 rumah bersubsidi yang terjual. Ada peningkatan dari tahun sebelumnya, meski belum signifikan,” ujar Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Bali, I Gede Suardita, kemarin (25/5).

Suardita mengaku bersyukur ekonomi di Bali secara perlahan mulai bangkit. Hanya saja, lanjut Gede, para pengembang saat ini dipusingkan dengan sejumlah permasalahan. Mulai regulasi pemerintah hingga kenaikan harga material.

Dijelaskan Suardita, ada migrasi atau perubahan aturan terkait pengurusan Izin Memiliki Bangunan (IMB) menjadi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sejak November 2021. Dengan adanya perubahan aturan tersebut, pengurusan PBG ditangani pemerintah pusat.

Perubahan aturan tersebut menurutnya masih sulit dilakukan lantaran belum ada sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Akibatnya pembangunan rumah tidak bisa dilakukan lantaran izin dan kepemilikan lahan tidak ada. Hal itu juga membuat konsumen tidak bisa mengajukan proses kredit di bank.

“Dampaknya pada penyediaan rumah subsidi bagi masyarakat. Tahun 2021-2022 ini kebutuhan rumah di Bali sebanyak 15 ribu unit. Nah, kalau izin tidak terbit kebutuhan itu tidak bisa terpenuhi,” jelas pria asal Buleleng yang telah lama di Tabanan itu.

Dia berharap pemerintah pusat serta daerah mempercepat sinkronisasi dengan cara penyerdahanaan regulasi. Sebab, rumah subsidi sangat membantu masyarakat untuk memiliki hunian.

Masalah lain yang dihadapi pengembang adalah kenaikan harga bahan bangunan. “Dari dua tahun lalu harga rumah subsidi di Bali masih Rp168 juta. Sedangkan harga bangunan sudah melambung. Para pengembang berharap ada kenaikan harga rumah subsidi, sehingga kami tidak berat pada ongkos,” tukasnya.

Menurut Gede harga rumah subsidi tidak masalah dinaikkan, lantaran suku bunga, uang muka, hingga PPN sebagian ditanggung negara. (san)



DENPASAR, radarbali.id Sempat lesu akibat pandemi, penjualan rumah bersubsidi di Bali mulai menggeliat. Hal itu bisa dilihat pada data penjualan kuartal pertama atau empat bulan (Januari – April) 2022 meningkat dibandingkan kuartal pertama 2021. Bahkan, dalam empat bulan saja sudah terjual seribu unit.

Tumbuhnya penjualan rumah bersubsidi ini tak lepas dari dibukanya kembali pariwisata serta pelonggaran aktivitas oleh pemerintah.

“Selama kuartal pertama 2022 ini sudah ada 1.000 rumah bersubsidi yang terjual. Ada peningkatan dari tahun sebelumnya, meski belum signifikan,” ujar Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Bali, I Gede Suardita, kemarin (25/5).

Suardita mengaku bersyukur ekonomi di Bali secara perlahan mulai bangkit. Hanya saja, lanjut Gede, para pengembang saat ini dipusingkan dengan sejumlah permasalahan. Mulai regulasi pemerintah hingga kenaikan harga material.

Dijelaskan Suardita, ada migrasi atau perubahan aturan terkait pengurusan Izin Memiliki Bangunan (IMB) menjadi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sejak November 2021. Dengan adanya perubahan aturan tersebut, pengurusan PBG ditangani pemerintah pusat.

Perubahan aturan tersebut menurutnya masih sulit dilakukan lantaran belum ada sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Akibatnya pembangunan rumah tidak bisa dilakukan lantaran izin dan kepemilikan lahan tidak ada. Hal itu juga membuat konsumen tidak bisa mengajukan proses kredit di bank.

“Dampaknya pada penyediaan rumah subsidi bagi masyarakat. Tahun 2021-2022 ini kebutuhan rumah di Bali sebanyak 15 ribu unit. Nah, kalau izin tidak terbit kebutuhan itu tidak bisa terpenuhi,” jelas pria asal Buleleng yang telah lama di Tabanan itu.

Dia berharap pemerintah pusat serta daerah mempercepat sinkronisasi dengan cara penyerdahanaan regulasi. Sebab, rumah subsidi sangat membantu masyarakat untuk memiliki hunian.

Masalah lain yang dihadapi pengembang adalah kenaikan harga bahan bangunan. “Dari dua tahun lalu harga rumah subsidi di Bali masih Rp168 juta. Sedangkan harga bangunan sudah melambung. Para pengembang berharap ada kenaikan harga rumah subsidi, sehingga kami tidak berat pada ongkos,” tukasnya.

Menurut Gede harga rumah subsidi tidak masalah dinaikkan, lantaran suku bunga, uang muka, hingga PPN sebagian ditanggung negara. (san)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/