alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Kemarau Panjang, Puluhan Hektare Sawah di Buleleng Gagal Panen

SINGARAJA  – Musim kemarau tahun ini, mulai berdampak pada komoditas pertanian yang ada di Buleleng.

Dinas Pertanian Buleleng mencatat, setidaknya 44 hektare sawah kini terpaksa gagal panen karena tak kebagian air.

Selain itu puluhan hektare sawah lainnya juga mengalami kerusakan mulai dari tingkat ringan hingga berat.

Masalah krisis air bersih bagi lahan pertanian di Kabupaten Buleleng sebenarnya tergolong klasik. Masalah ini selalu terjadi berulang kali tiap tahun.

Hanya saja kemarau tahun ini tergolong parah. Sebab ada 170,45 hektare lahan yang terdampak.

Sebanyak 93,45 hektare diantaranya disebut mengalami kerusakan ringan, 26 hektare mengalami kerusakan sedang, dan 6,4 hektare mengalami kerusakan berat. Selain itu 44 hektare lahan sama sekali tak bisa dipanen.

Baca Juga:  Menko Airlangga: Genjot PAD lewat Elektronifikasi Transaksi Pemda

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengaku masalah kekeringan memang menghantui para petani tiap tahun.

Dari luas lahan sawah yang terdampak kekeringan, Sumiarta optimistis hal itu tak terlalu memengaruhi kondisi panen tahun ini.

“Luas lahan pertanian kita kan 9.497 hektare. Kalau dibandingkan dengan yang terdampak kekeringan, itu kan tidak sampai 10 persen.

Dampak terparah itu justru dialami petani. Karena mereka sudah rugi biaya modal dan operasional selama satu musim tanam,” kata Sumiarta.

Dari hitung-hitungan kasar, setiap petani akan mengalami kerugian biaya produksi hingga Rp 6 juta per hektare.

Sementara dengan potensi panen gabah hingga 8 ton per hektare, petani bisa saja menelan kerugian panen hingga Rp 28 juta dalam sekali musim tanam.

Baca Juga:  Pasar Buah Lokal Menjanjikan, Buleleng Genjot Produksi

Sumiarta sendiri memprediksi kekeringan akan berakhir pada bulan Oktober mendatang. “Biasanya bulan Oktober sudah mulai ada hujan. Saat itu mudah-mudahan petani bisa dapat hasil panen yang melimpah,” imbuhnya.

Mengantisipasi masalah serupa, Sumiarta menghimbau agar petani menghindari menanam padi pada musim kering.

Petani diarahkan untuk menanam tanaman pengganti, seperti kacang atau tembakau. Substitusi tanaman pada musim kemarau itu juga diharapkan mengurangi potensi lahan sawah terserang hama.

“Sebenarnya sudah sering kami sosialisasikan. Tapi memang petani masih sering coba-coba menanam pada musim kemarau,” katanya lagi.



SINGARAJA  – Musim kemarau tahun ini, mulai berdampak pada komoditas pertanian yang ada di Buleleng.

Dinas Pertanian Buleleng mencatat, setidaknya 44 hektare sawah kini terpaksa gagal panen karena tak kebagian air.

Selain itu puluhan hektare sawah lainnya juga mengalami kerusakan mulai dari tingkat ringan hingga berat.

Masalah krisis air bersih bagi lahan pertanian di Kabupaten Buleleng sebenarnya tergolong klasik. Masalah ini selalu terjadi berulang kali tiap tahun.

Hanya saja kemarau tahun ini tergolong parah. Sebab ada 170,45 hektare lahan yang terdampak.

Sebanyak 93,45 hektare diantaranya disebut mengalami kerusakan ringan, 26 hektare mengalami kerusakan sedang, dan 6,4 hektare mengalami kerusakan berat. Selain itu 44 hektare lahan sama sekali tak bisa dipanen.

Baca Juga:  16 Hari Penerbangan Dibuka, Kunjungan Wisman ke Bali Masih Nol

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengaku masalah kekeringan memang menghantui para petani tiap tahun.

Dari luas lahan sawah yang terdampak kekeringan, Sumiarta optimistis hal itu tak terlalu memengaruhi kondisi panen tahun ini.

“Luas lahan pertanian kita kan 9.497 hektare. Kalau dibandingkan dengan yang terdampak kekeringan, itu kan tidak sampai 10 persen.

Dampak terparah itu justru dialami petani. Karena mereka sudah rugi biaya modal dan operasional selama satu musim tanam,” kata Sumiarta.

Dari hitung-hitungan kasar, setiap petani akan mengalami kerugian biaya produksi hingga Rp 6 juta per hektare.

Sementara dengan potensi panen gabah hingga 8 ton per hektare, petani bisa saja menelan kerugian panen hingga Rp 28 juta dalam sekali musim tanam.

Baca Juga:  Cukup Mudah Menjadi Investor Bitcoin, Begini Caranya…

Sumiarta sendiri memprediksi kekeringan akan berakhir pada bulan Oktober mendatang. “Biasanya bulan Oktober sudah mulai ada hujan. Saat itu mudah-mudahan petani bisa dapat hasil panen yang melimpah,” imbuhnya.

Mengantisipasi masalah serupa, Sumiarta menghimbau agar petani menghindari menanam padi pada musim kering.

Petani diarahkan untuk menanam tanaman pengganti, seperti kacang atau tembakau. Substitusi tanaman pada musim kemarau itu juga diharapkan mengurangi potensi lahan sawah terserang hama.

“Sebenarnya sudah sering kami sosialisasikan. Tapi memang petani masih sering coba-coba menanam pada musim kemarau,” katanya lagi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/