alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Harga Jual Tinggi dan Mudah, Warga di Buleleng Didorong Budidaya Nila

SINGARAJA– Masyarakat di Kabupaten Buleleng didorong melakukan budidaya ikan nila.

Komoditas perikanan ini dianggap sebagai salah satu komoditas perikanan yang menjanjikan. Sebab pasar untuk komoditas ini masih terbuka lebar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng I Gede Putra Aryana mengatakan, budidaya ikan nila selama ini dikenal cukup mudah.

Selain itu harga jualnya juga menjanjikan. Konon harga jual nila dapat mencapai harga Rp 40 ribu per kilogram.

Menurutnya saat ini, sejumlah kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) telah melirik potensi budidaya nila.

Disamping melakukan budidaya lele. Apalagi harga jual ikan nila lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan lele.

“Sebenarnya kalau mau melakukan pembesaran saja, itu sudah untung. Pelihara sebentar sampai panjangnya 9-12 centimeter, itu sudah ada yang beli. Biasanya ukuran segitu dibeli Rp 500 per ekor,” ungkap Putra.

Baca Juga:  GAWAT! Keropos, Jembatan Sepang Rawan Jebol

Mantan Camat Busungbiu itu mengungkapkan, nila hasil pendederan yang dilakukan pokdakan di Buleleng, akan dibeli pembudidaya di Kintamani. Selanjutnya ikan-ikan itu akan dipelihara hingga memenuhi standar konsumsi.

“Mereka memang cari ukuran yang lebih besar, supaya lebih tahan. Setelah itu dipelihara lagi di keramba. Kalau sudah memenuhi standar konsumsi, baru dijual sebagai produk konsumsi. Karena di sana minat masyarakat mengonsumsi ikan air tawar cukup besar,” jelasnya.

Khusus di Buleleng, ia mengaku minat masyarakat mengonsumsi ikan air tawar tak begitu besar. Namun peluang itu masih terbuka lebar. Sebab beberapa rumah makan juga menawarkan ikan air tawar sebagai produk olahan khas.

Disamping itu DKPP juga berencana membina Kelompok Pengolah dan Pemasaran (Poklahsar) di Buleleng, mengolah ikan nila. Sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi, ketimbang dijual dalam bentuk mentahan.

Baca Juga:  45 Perusahaan Bangkrut, 135 Pekerja Di-PHK dan 2.295 Orang Dirumahkan

“Peluang pasarnya masih terbuka lebar. Ketersediaan bibit nila kami di Balai Benih Ikan juga mencukupi. Selama kelompok membutuhkan dan benih tersedia, pasti kami berikan,” demikian Putra. 


SINGARAJA– Masyarakat di Kabupaten Buleleng didorong melakukan budidaya ikan nila.

Komoditas perikanan ini dianggap sebagai salah satu komoditas perikanan yang menjanjikan. Sebab pasar untuk komoditas ini masih terbuka lebar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng I Gede Putra Aryana mengatakan, budidaya ikan nila selama ini dikenal cukup mudah.

Selain itu harga jualnya juga menjanjikan. Konon harga jual nila dapat mencapai harga Rp 40 ribu per kilogram.

Menurutnya saat ini, sejumlah kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) telah melirik potensi budidaya nila.

Disamping melakukan budidaya lele. Apalagi harga jual ikan nila lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan lele.

“Sebenarnya kalau mau melakukan pembesaran saja, itu sudah untung. Pelihara sebentar sampai panjangnya 9-12 centimeter, itu sudah ada yang beli. Biasanya ukuran segitu dibeli Rp 500 per ekor,” ungkap Putra.

Baca Juga:  Kontak dengan Pasien Positif, 42 Tenaga Medis di Buleleng Dikarantina

Mantan Camat Busungbiu itu mengungkapkan, nila hasil pendederan yang dilakukan pokdakan di Buleleng, akan dibeli pembudidaya di Kintamani. Selanjutnya ikan-ikan itu akan dipelihara hingga memenuhi standar konsumsi.

“Mereka memang cari ukuran yang lebih besar, supaya lebih tahan. Setelah itu dipelihara lagi di keramba. Kalau sudah memenuhi standar konsumsi, baru dijual sebagai produk konsumsi. Karena di sana minat masyarakat mengonsumsi ikan air tawar cukup besar,” jelasnya.

Khusus di Buleleng, ia mengaku minat masyarakat mengonsumsi ikan air tawar tak begitu besar. Namun peluang itu masih terbuka lebar. Sebab beberapa rumah makan juga menawarkan ikan air tawar sebagai produk olahan khas.

Disamping itu DKPP juga berencana membina Kelompok Pengolah dan Pemasaran (Poklahsar) di Buleleng, mengolah ikan nila. Sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi, ketimbang dijual dalam bentuk mentahan.

Baca Juga:  Usai Ikuti Upacara Adat, Pejabat Inspektorat Buleleng Terpapar Covid

“Peluang pasarnya masih terbuka lebar. Ketersediaan bibit nila kami di Balai Benih Ikan juga mencukupi. Selama kelompok membutuhkan dan benih tersedia, pasti kami berikan,” demikian Putra. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/