alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Hanya Penuhi Pasar Lokal, Produksi Gerabah Bali Stagnan

MANGUPURA – Permintaan gerabah sejak memasuki tahun 2017 ini masih terbilang stagnan.

Sejumlah perajin di wilayah Desa Kapal yang menjadi pusat kerajinan gerabah di Bali masih belum berani meningkatkan produksi mengingat permintaan masih belum mengalami lonjakan.

Terlebih, pemenuhan kebutuhan hanya berkutat di Bali, belum merambah pasar luar daerah.

Perajin sekaligus pengepul gerabah, Ketut Subrata, 60, mengatakan, saat ini permintaan gerabah berkisar antara 200 sampai 300 biji sehari.

Kondisi ini terjadi lantaran upacara keagamaan umat Hindu masih terbilang normal. “Biasanya ramai penjualan antara Bulan Agustus sampai September. Karena banyak acara ngaben di kurun dua bulan itu,” ujar Subrata kemarin.

Untuk satu jenis gerabah, dia banderol tidak lebih dari Rp 5.000. Hasil produksi gerabah miliknya akan di jual kembali di pasaran dengan margin yang ditentukan penjual.

Baca Juga:  All New Ertiga Resmi Dirilis di Bali, Target Jual 170 Unit per Bulan

Kalaupun nanti permintaan meningkat, pihaknya tidak mampu menaikkan harga gerabah karena posisinya sebagai pengepul.

“Kami salurkan hanya di seluruh Bali saja. Mayoritas untuk keperluan upacara umat Hindu,” katanya.  Jenis gerabah yang dia produksi di antaranya jempere dan senden.



MANGUPURA – Permintaan gerabah sejak memasuki tahun 2017 ini masih terbilang stagnan.

Sejumlah perajin di wilayah Desa Kapal yang menjadi pusat kerajinan gerabah di Bali masih belum berani meningkatkan produksi mengingat permintaan masih belum mengalami lonjakan.

Terlebih, pemenuhan kebutuhan hanya berkutat di Bali, belum merambah pasar luar daerah.

Perajin sekaligus pengepul gerabah, Ketut Subrata, 60, mengatakan, saat ini permintaan gerabah berkisar antara 200 sampai 300 biji sehari.

Kondisi ini terjadi lantaran upacara keagamaan umat Hindu masih terbilang normal. “Biasanya ramai penjualan antara Bulan Agustus sampai September. Karena banyak acara ngaben di kurun dua bulan itu,” ujar Subrata kemarin.

Untuk satu jenis gerabah, dia banderol tidak lebih dari Rp 5.000. Hasil produksi gerabah miliknya akan di jual kembali di pasaran dengan margin yang ditentukan penjual.

Baca Juga:  All New Ertiga Resmi Dirilis di Bali, Target Jual 170 Unit per Bulan

Kalaupun nanti permintaan meningkat, pihaknya tidak mampu menaikkan harga gerabah karena posisinya sebagai pengepul.

“Kami salurkan hanya di seluruh Bali saja. Mayoritas untuk keperluan upacara umat Hindu,” katanya.  Jenis gerabah yang dia produksi di antaranya jempere dan senden.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/