alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Ada Bahan Berbahaya di Produk Pangan, Pedagang Dituntut Lebih Jeli

SINGARAJA – Pedagang produk makanan di Buleleng dituntut lebih jeli dalam mengolah produk pangan mereka.

Sebab Loka Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Buleleng masih menemukan sejumlah produk pangan yang mengandung bahan berbahaya.

Kemarin (28/6) Loka POM Buleleng melakukan pengawasan produk di Eks Pelabuhan Buleleng. Tim mengambil sampel tujuh produk pangan.

Masing-masing tahu, pentol besar, pentol kecil, krupuk pangsit, mihun, lontong, dan es gula. Ketujuh produk itu diuji menggunakan empat parameter berbeda.

Masing-masing formalin, boraks, pewarna tekstil, dan kuning metanil. Dari hasil uji cepat, seluruh sampel dinyatakan negatif dari bahan berbahaya.

“Bisa jadi pedagang sekarang sudah makin peduli, karena jumlah produk yang mengandung bahan berbahaya sudah semakin berkurang,” kata Kepala Loka POM Buleleng Made Ery Bahari.

Baca Juga:  Menko Airlangga: Covid-19 Turun, PPKM Lanjut dengan Penyesuaian PTM

Ery mengaku pihaknya sudah terus melakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat. Lantaran penggunaan bahan itu sangat berbahaya dalam jangka panjang.

Meski begitu, Ery tak menampik dalam beberapa kali pengawasan, masih ditemukan produk pangan yang berbahaya. Kebanyakan mengandung pewarna tekstil berupa kesumba merah. Bahan ini biasanya ditemukan pada minuman.

Selain itu sempat pula ditemukan produk yang mengandung boraks. Biasanya boraks ditemukan pada pentol atau kerupuk.

“Pengawasan akan kami lakukan kontinu. Bila kami temukan, kami akan beri peringatan. Tapi kalau sudah kami beri peringatan, masih juga membandel, ya itu bisa kami bawa ke pidana,” tegas Ery. 



SINGARAJA – Pedagang produk makanan di Buleleng dituntut lebih jeli dalam mengolah produk pangan mereka.

Sebab Loka Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Buleleng masih menemukan sejumlah produk pangan yang mengandung bahan berbahaya.

Kemarin (28/6) Loka POM Buleleng melakukan pengawasan produk di Eks Pelabuhan Buleleng. Tim mengambil sampel tujuh produk pangan.

Masing-masing tahu, pentol besar, pentol kecil, krupuk pangsit, mihun, lontong, dan es gula. Ketujuh produk itu diuji menggunakan empat parameter berbeda.

Masing-masing formalin, boraks, pewarna tekstil, dan kuning metanil. Dari hasil uji cepat, seluruh sampel dinyatakan negatif dari bahan berbahaya.

“Bisa jadi pedagang sekarang sudah makin peduli, karena jumlah produk yang mengandung bahan berbahaya sudah semakin berkurang,” kata Kepala Loka POM Buleleng Made Ery Bahari.

Baca Juga:  Menko Airlangga Buka Pendaftaraan Kartu Prakerja Gelombang 23

Ery mengaku pihaknya sudah terus melakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat. Lantaran penggunaan bahan itu sangat berbahaya dalam jangka panjang.

Meski begitu, Ery tak menampik dalam beberapa kali pengawasan, masih ditemukan produk pangan yang berbahaya. Kebanyakan mengandung pewarna tekstil berupa kesumba merah. Bahan ini biasanya ditemukan pada minuman.

Selain itu sempat pula ditemukan produk yang mengandung boraks. Biasanya boraks ditemukan pada pentol atau kerupuk.

“Pengawasan akan kami lakukan kontinu. Bila kami temukan, kami akan beri peringatan. Tapi kalau sudah kami beri peringatan, masih juga membandel, ya itu bisa kami bawa ke pidana,” tegas Ery. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/