alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, October 6, 2022

Open Border, Panggung Utama Ubud Village Jazz Festival Ke-9 Dibuka

GIANYAR, Radar Bali- Perhelatan hari pertama Ubud Village Jazz Festival ke-9 yang berlokasi di Arma Museum & Resort Ubud terasa begitu antusias.

Merupakan festival jazz pertama yang dilangsungkan di Bali setelah open border diberlakukan bagi para turis domestik dan mancanegara.

Setelah rangkaian panjang Rood To Ubud Village Jazz Festival yang menggelar konser mini selama sebulan di berbagai lokasi di Bali sebagai agenda promosi, akhirnya tiba juga pada panggung utama, Jumat, 12 Agustus 2022.

Area festival dibuka mulai pukul 10 pagi secara gratis hingga pukul 16.30 bagi para pengunjung yang ingin menikmati sajian kuliner.

Menghadirkan 27 gerai dengan turut mempromosikan UKM Bali dan berbagai produk kebanggaan Indonesia yang mulai dikenal secara internasional.

Para pengunjung disambut oleh tatanan desain arsitektur festival nan unik, artistik, yang terasa natural dan sangat Bali.

Kolaborasi antara tim kreatif desain arsitektur UVJF 9, Putu “Klick” Swantara dan Diana Surya, dengan para sahabat kreatif dari Universitas Warmadewa – Bali jurusan arsitektur mengusung material lokal dengan ide kearifan tradisi Bali yang dipoles secara modern.

Seluruh tampilan gerai hingga panggung menggunakan material bambu beratap daun kelapa.

Pada Giri Stage sebagai panggung utama nampak dekorasi menggantung berbentuk segitiga yang mengusung konsep giri atau gunung yang dideformasi.

Pantulan artistik pencahayaan dan video mapping memberikan nuansa yang begitu jazzy dan sangat Bali.

Berdiri dengan gagah di tengah area festival sebuah desain menara dari rangkaian bambu dengan konektor taring dari besi, merupakan inovasi mahasiswa Warmadewa, merespons ulang teknik konektor taring khas Bali yang sudah dilakukan turun-temurun dalam penggunaan struktur bambu masyarakat Bali.

Baca Juga:  Nobar Seru di After Five Café @Radar Bali Office

Rangkaian dekorasi pun dibeli dari penjual perlengkapan upacara adat sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.

Tepat pukul 17.00 Panacea membuka panggung dengan ramuan musik jazz yang dipadukan dengan beberapa genre lain dan membawakan aransemen orisinal mereka.

Penonton terlihat membuka semangatnya dengan tepuk tangan meriah. Kuintet jazz yang dibentuk pada 2022 ini berasal dari satu almamater universitas yang sama – UPH Jakarta.

Mereka adalah Rainer James (tenor saksofon), John Eleazar (terompet), Lana Joy (piano), Joseph Elnando (bass), dan Kenny Eliezer (drum).

Terbilang masih baru namun Panacea sudah berprestasi meraih juara pertama di UPH National Jazz Kompetisi 2022.

Penampilan kedua pukul 18.00 begitu menggemaskan dan mendapat banyak apresiasi dari para penonton.

Gev Delano, musisi prodigi, pemain bass Indonesia berasal dari Semarang yang masih sangat muda berusia 12 tahun, mengundang decak kagum dari para penonton dengan sajian permainannya.

Lantunan jazz dan fusion genre latin begitu dinikmati saat dia mainkan di atas panggung.

Terlihat dari raut wajahnya yang begitu ekspresif dan natural mengikuti setiap irama bersama dengan pemain muda berbakat lainnya dari Bali; Krisna Dharmawan (gitar), Gede Yudistira (keyboard), dan Grady Boanerges (drum) yang tergabung dalam Gev Delano Project.

Bakat-bakat muda dan bersemangat dari jazz tanah air ini sungguh fenomenal!

Pukul 19.00, penonton menyaksikan rangkaian acara Opening Ceremony yang turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Bali dan begitu bersemangat ketika sambutan diberikan oleh Sandiaga Salahuddin Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia yang mendukung UVJF sepenuhnya sebagai salah satu event yang lolos dalam seleksi Kharisma Event Nusantara sebagai event berskala internasional dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Baca Juga:  Setelah Sabang, Jelajah Uji Ketangguhan Honda ADV Lanjut ke Merauke

Selain menjadi salah satu daya tarik pariwisata Bali melalui lini musik, UVJF juga turut menggerakkan roda perekonomian kreatif di sekitarnya melalui perhelatan ini.

Sebuah kebanggaan besar bagi kami atas dukungan Pemprov Bali, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dan seluruh sponsor yang menjadi spirit bagi seluruh musisi yang berpartisipasi, sahabat-sahabat UKM Bali dan kami khususnya selaku panitia UVJF untuk terus berkarya dalam festival tahun selanjutnya.

Selanjutnya pada pukul 19.30, di atas Giri Stage bintang utama hari ini, Sun Kim- gitaris muda berbakat asal Seoul lulusan Berkley dengan gelar master, mengangkat suasana dengan kolaborasinya bersama musisi asal Bali – Gustu Brahmanta (drum) dan Kevin Suwandhi (keyboard).

Sun Kim merupakan bintang muda yang sedang banyak dibicarakan oleh generasi baru Korea Selatan dengan keunikannya dalam interpretasi musik jazz yang terasa muda dan menyegarkan.

Sebuah warna baru dalam kancah musik jazz dunia.

Dari Subak Stage terdengar lantang tiupan saksofon tenor yang “straight-ahead”, ciri khas Dennis Junio, saksofonis tenor berbakat asal Jakarta yang mempersembahkan “Tribute to Hank Mobley”.

Nuansa hard bop dan soul jazz menggiring para penonton bernostalgia akan Mobley.

Udara malam di Ubud nan dingin menghangat dengan penampilan Soulfeggio yang menyajikan “Tribute to Natalie Cole”.

Sentuhan vokal jazz yang halus nan anggun khas Natalie Cole manis dibawakan oleh Qeeqee (vokal) sebagai penutup festival hari pertama ini dari panggung utama – Giri Stage. (ken)



GIANYAR, Radar Bali- Perhelatan hari pertama Ubud Village Jazz Festival ke-9 yang berlokasi di Arma Museum & Resort Ubud terasa begitu antusias.

Merupakan festival jazz pertama yang dilangsungkan di Bali setelah open border diberlakukan bagi para turis domestik dan mancanegara.

Setelah rangkaian panjang Rood To Ubud Village Jazz Festival yang menggelar konser mini selama sebulan di berbagai lokasi di Bali sebagai agenda promosi, akhirnya tiba juga pada panggung utama, Jumat, 12 Agustus 2022.

Area festival dibuka mulai pukul 10 pagi secara gratis hingga pukul 16.30 bagi para pengunjung yang ingin menikmati sajian kuliner.

Menghadirkan 27 gerai dengan turut mempromosikan UKM Bali dan berbagai produk kebanggaan Indonesia yang mulai dikenal secara internasional.

Para pengunjung disambut oleh tatanan desain arsitektur festival nan unik, artistik, yang terasa natural dan sangat Bali.

Kolaborasi antara tim kreatif desain arsitektur UVJF 9, Putu “Klick” Swantara dan Diana Surya, dengan para sahabat kreatif dari Universitas Warmadewa – Bali jurusan arsitektur mengusung material lokal dengan ide kearifan tradisi Bali yang dipoles secara modern.

Seluruh tampilan gerai hingga panggung menggunakan material bambu beratap daun kelapa.

Pada Giri Stage sebagai panggung utama nampak dekorasi menggantung berbentuk segitiga yang mengusung konsep giri atau gunung yang dideformasi.

Pantulan artistik pencahayaan dan video mapping memberikan nuansa yang begitu jazzy dan sangat Bali.

Berdiri dengan gagah di tengah area festival sebuah desain menara dari rangkaian bambu dengan konektor taring dari besi, merupakan inovasi mahasiswa Warmadewa, merespons ulang teknik konektor taring khas Bali yang sudah dilakukan turun-temurun dalam penggunaan struktur bambu masyarakat Bali.

Baca Juga:  Ubud Village Jazz Festival 2022 Siap Menghentak

Rangkaian dekorasi pun dibeli dari penjual perlengkapan upacara adat sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.

Tepat pukul 17.00 Panacea membuka panggung dengan ramuan musik jazz yang dipadukan dengan beberapa genre lain dan membawakan aransemen orisinal mereka.

Penonton terlihat membuka semangatnya dengan tepuk tangan meriah. Kuintet jazz yang dibentuk pada 2022 ini berasal dari satu almamater universitas yang sama – UPH Jakarta.

Mereka adalah Rainer James (tenor saksofon), John Eleazar (terompet), Lana Joy (piano), Joseph Elnando (bass), dan Kenny Eliezer (drum).

Terbilang masih baru namun Panacea sudah berprestasi meraih juara pertama di UPH National Jazz Kompetisi 2022.

Penampilan kedua pukul 18.00 begitu menggemaskan dan mendapat banyak apresiasi dari para penonton.

Gev Delano, musisi prodigi, pemain bass Indonesia berasal dari Semarang yang masih sangat muda berusia 12 tahun, mengundang decak kagum dari para penonton dengan sajian permainannya.

Lantunan jazz dan fusion genre latin begitu dinikmati saat dia mainkan di atas panggung.

Terlihat dari raut wajahnya yang begitu ekspresif dan natural mengikuti setiap irama bersama dengan pemain muda berbakat lainnya dari Bali; Krisna Dharmawan (gitar), Gede Yudistira (keyboard), dan Grady Boanerges (drum) yang tergabung dalam Gev Delano Project.

Bakat-bakat muda dan bersemangat dari jazz tanah air ini sungguh fenomenal!

Pukul 19.00, penonton menyaksikan rangkaian acara Opening Ceremony yang turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Bali dan begitu bersemangat ketika sambutan diberikan oleh Sandiaga Salahuddin Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia yang mendukung UVJF sepenuhnya sebagai salah satu event yang lolos dalam seleksi Kharisma Event Nusantara sebagai event berskala internasional dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Baca Juga:  Festival Pesona Bau Nyale Masuk 100 Wonderful Event 2018

Selain menjadi salah satu daya tarik pariwisata Bali melalui lini musik, UVJF juga turut menggerakkan roda perekonomian kreatif di sekitarnya melalui perhelatan ini.

Sebuah kebanggaan besar bagi kami atas dukungan Pemprov Bali, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dan seluruh sponsor yang menjadi spirit bagi seluruh musisi yang berpartisipasi, sahabat-sahabat UKM Bali dan kami khususnya selaku panitia UVJF untuk terus berkarya dalam festival tahun selanjutnya.

Selanjutnya pada pukul 19.30, di atas Giri Stage bintang utama hari ini, Sun Kim- gitaris muda berbakat asal Seoul lulusan Berkley dengan gelar master, mengangkat suasana dengan kolaborasinya bersama musisi asal Bali – Gustu Brahmanta (drum) dan Kevin Suwandhi (keyboard).

Sun Kim merupakan bintang muda yang sedang banyak dibicarakan oleh generasi baru Korea Selatan dengan keunikannya dalam interpretasi musik jazz yang terasa muda dan menyegarkan.

Sebuah warna baru dalam kancah musik jazz dunia.

Dari Subak Stage terdengar lantang tiupan saksofon tenor yang “straight-ahead”, ciri khas Dennis Junio, saksofonis tenor berbakat asal Jakarta yang mempersembahkan “Tribute to Hank Mobley”.

Nuansa hard bop dan soul jazz menggiring para penonton bernostalgia akan Mobley.

Udara malam di Ubud nan dingin menghangat dengan penampilan Soulfeggio yang menyajikan “Tribute to Natalie Cole”.

Sentuhan vokal jazz yang halus nan anggun khas Natalie Cole manis dibawakan oleh Qeeqee (vokal) sebagai penutup festival hari pertama ini dari panggung utama – Giri Stage. (ken)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/