alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Maedeng, Tradisi Warga Susut Cari Sapi Pilihan Jelang Tawur Kesanga

GIANYAR – Menjelang Tawur Sasih Kesanga yang berlangsung 24 Maret, masyarakat Desa Adat Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, menggelar tradisi Maedeng, kemarin.

Tradisi itu untuk mencari sapi pilihan. Daging sapi pilihan akan dijadikan ulam caru (daging untuk upcara, red).

Saat tradisi digelar, masyarakat desa yang punya sapi membawa sapi mereka ke setra desa adat setempat pada pagi hari mulai pukul 07.00. Sapi kemudian dicek oleh prajuru adat. Upacara itu berlangsung hingga pukul 10.00.

Setelah prajuru memilih anak sapi yang dipakai ulam, yakni godel jantan dan betina, maka peternak diperkenankan membawa ternak sapinya pulang kembali.

Selajutnya  krama adat akan menggelar samuan (pertemuan) di Pura Dalem setempat, untuk membahas proses tawur agung kesanga.

Baca Juga:  Komitmen Bali Resik Sampah Plastik, RSBM Terjunkan Ambulans & Pegawai

Bendesa Adat Susut, I Wayan Sudarsa menjelaskan upacara itu dilakukan secara turun temurun. Sampai sekarang pihaknya belum berani meniadakan kegiatan karena takut kena musibah.

Dijelaskan, upacara tersebut dilakukan untuk mencari, atau memilih anakan sapi yang dipakai untuk ulam tawur kesanga yang ada di desa adat Susut. “Untuk ulam tawur kesanga kami pantang untuk membeli,” jelasnya. 

Dalam kesempatan itu untuk anakan sapi yang dipih adalah yang mulus, tidak cacat bawaaan baik pada bulu maupun bagian tubuh lainnya.

Dalam pelaksanaannya, dipilih dulu anakan sapi  hingga puluh ekor untuk nominasi. Selanjutnya prajuru akan kembali memilah di antara puluhan sapi itu untuk yang paling baik. 

Baca Juga:  5.000 Peserta Siap Ramaikan Pramuka Peduli Festival 2018

“Untuk warga yang ternaknya kena adagan (pilihan) pasti mngiklaskannya. Selain takut hukum niskala, pihak adat juga memberikan ganti rugi,” imbuhnya. 

Lanjut dia, anakan sapi itu akan disembelih untuk ulam cari saat Pangerupukan. Lokasi penyembelihan dilakukan di Pura Dalem setempat. 

Setelah diolah menjadi bahan upacara agama, akan dihaturkan di Catus Pata Banjar (perempatan, red) dan di Pura Dalem.

Selanjutnya digelar Tawur Kasanga. “Setelah upacara, daging sapi ini akan dibagikan ke krama sesuai jumlah KK,” tandasnya. 



GIANYAR – Menjelang Tawur Sasih Kesanga yang berlangsung 24 Maret, masyarakat Desa Adat Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, menggelar tradisi Maedeng, kemarin.

Tradisi itu untuk mencari sapi pilihan. Daging sapi pilihan akan dijadikan ulam caru (daging untuk upcara, red).

Saat tradisi digelar, masyarakat desa yang punya sapi membawa sapi mereka ke setra desa adat setempat pada pagi hari mulai pukul 07.00. Sapi kemudian dicek oleh prajuru adat. Upacara itu berlangsung hingga pukul 10.00.

Setelah prajuru memilih anak sapi yang dipakai ulam, yakni godel jantan dan betina, maka peternak diperkenankan membawa ternak sapinya pulang kembali.

Selajutnya  krama adat akan menggelar samuan (pertemuan) di Pura Dalem setempat, untuk membahas proses tawur agung kesanga.

Baca Juga:  Banjir Kritik, Baliho Ucapan Nyepi Berbahasa Inggris Akhirnya Diganti

Bendesa Adat Susut, I Wayan Sudarsa menjelaskan upacara itu dilakukan secara turun temurun. Sampai sekarang pihaknya belum berani meniadakan kegiatan karena takut kena musibah.

Dijelaskan, upacara tersebut dilakukan untuk mencari, atau memilih anakan sapi yang dipakai untuk ulam tawur kesanga yang ada di desa adat Susut. “Untuk ulam tawur kesanga kami pantang untuk membeli,” jelasnya. 

Dalam kesempatan itu untuk anakan sapi yang dipih adalah yang mulus, tidak cacat bawaaan baik pada bulu maupun bagian tubuh lainnya.

Dalam pelaksanaannya, dipilih dulu anakan sapi  hingga puluh ekor untuk nominasi. Selanjutnya prajuru akan kembali memilah di antara puluhan sapi itu untuk yang paling baik. 

Baca Juga:  Pesawat Mendarat Sejam Setelah Bandara Ngurah Rai Buka

“Untuk warga yang ternaknya kena adagan (pilihan) pasti mngiklaskannya. Selain takut hukum niskala, pihak adat juga memberikan ganti rugi,” imbuhnya. 

Lanjut dia, anakan sapi itu akan disembelih untuk ulam cari saat Pangerupukan. Lokasi penyembelihan dilakukan di Pura Dalem setempat. 

Setelah diolah menjadi bahan upacara agama, akan dihaturkan di Catus Pata Banjar (perempatan, red) dan di Pura Dalem.

Selanjutnya digelar Tawur Kasanga. “Setelah upacara, daging sapi ini akan dibagikan ke krama sesuai jumlah KK,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/