alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Kekeringan Mematikan, Puluhan Juta Jiwa Terancam Bencana

JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu Negara terkaya dalam sumberdaya air karena menyimpan 6% potensi air dunia.

Tetapi pulau terpadat di Negara ini terancam kehabisan air. Sumber air melimpah Indonesia tercantum dalam laporan badan kerjasama lintas negara, Water Environment Partnership in Asia (WEPA).

Pemerintah memprediksi musim kemarau tahun ini bakal mengakibatkan  48.491.666 jiwa terancam kekeringan di 28 provinsi. Hingga, diprediksi kemarau tahun ini akan lebih kering dari 2018 lalu.

Berdasar data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terjadi mulai Juli sampai Oktober 2019.

Sedangkan,hasil prakiraan curah hujan, menurut BMKG, sebanyak 64,94 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah (di bawah 100 mm/bulan) pada bulan Agustus 2019.

BMKG menyatakan, musim kemarau tahun 2019 akan terjadi kekeringan panjang akibat beberapa factor. Yaitu fenomena El Nino, kuatnya Muson Australia, dan anomali peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim.

Merujuk data ketersediaan air yang disusun Pusat Litbang Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, satu orang di Jawa misalnya saat ini bisa mendapat 1.169 meter kubik air per tahun.

Ketersediaan air yang setara 58 truk tangki air berbobot 20 ribu liter itu dilabeli status ‘adatekanan’.

Bahkan, ketersediaan air untuk setiap satu penduduk Jawa diprediksi akan terus menurun hingga mencapai 476 meter kubik per tahun pada 2040.

Angka itu dikategorikan kelangkaan total. N. Imam Akbari, selaku Senior Vice President ACT menyatakan kekeringan atau kemarau yang berkepanjang ini akan ada banyak aspek yang disoroti. “Dengan terjadinya kemarau ada kualitas kehidupan sosial yang terdampak.

Misalnya, debit air yang berkurang, akan mempengaruhi konsumsi air. Sedangkan, air adalah kebutuhan vital manusia.

Manusia sendiri masih bisa bertahan ketika tidak makan, namun ketika tidak ada air (tidakminum), hanya akan bertahan dalam hitungan hari,” ungkapnya.

 

Kejadian Kemarau Panjang Dunia

Sebuah riset yang dirilis di Eropa belum lama ini bahkan menunjukkan bahwa bulan Juli atau pertengahan tahun 2015 adalah bulan dengan suhu rata-rata terpanas sejak seabad terakhir.

Baca Juga:  Gelar Piodalan, Undang Ida Mas Dalem Segara, Kirim Pesan Menyentuh

Misalnya, di India, bencana suhu panas tinggi akibat musim kemarau panjang di India pada tahun 2015 menurut riset dari World Resources Institute (WRI) telah membunuh lebih dari 2.000 jiwa hanya dalam waktu sebulan.

Suhu di Mumbai sebagai salah satu kota terpadat di India bahkan menembus 50°C.  India saat itu sedang mengalami krisis air atau kekeringan terparah di muka bumi.

Selain itu, AfrikaTimur antara Juli 2011 hingga pertengahan tahun 2012 kekeringan melanda Afrika Timur. Republik Rakyat Cina (RRC) pun mengalami kekeringan terparah tepatnya pada tahun 2010-2011.

Akibat bencana ini jutaan hektar lading gandum gagal panen dan ribuan rumah penduduk harus direlokasi dan masih banyak lainnya sejarah kekeringan di belahan dunia lain (Texas, Vietnam, Australia, Brazil,dll).

 

Kemiskinan dan Gizi Buruk sebagai Dampak Kekeringan

Stunting adalah Kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama. Indonesia ditetapkan sebagai Negara dengan status gizi buruk karena 30,8% balita di Indonesia menderita stunting.

WHO menetapkan batas toleransi stunting maksimal 20% jumlah keseluruhan balita World Food Programme (WFP) menyatakan adanya hubungan timbal balik antara gizi buruk dan kemiskinan.

Misalnya, di Nusa Tenggara Timur (NTT), sector pertanian menjadi yang paling terdampak atas terjadinya kemarau panjang.

Akibatnya, jumlah penduduk miskin makin tinggi, dan NTT tercatat sebagai Provinsi dengan prevalensi balita stunting terbesar di Indonesia (42,6%) .

Sebagai gambaran, ACT pun pernah membersamai bagaimana dampak kekeringan yang terjadi di Somalia pada tahun 2011, dimana Somalia dilanda kekeringan selama 4 tahun lamanya.

“Tentu saja banyak sekali korban kekeringan, hingga hampir semua balitanya mengalami gizi buruk dan dampak social lainnya. Tentu hal ini jangan sampai terjadi di negeri kita.

Melalui Mobile Water Tank dan Sumur Wakaf, ACT terus berinovasi memberikan bantuan baik yang sifatnya jangka pendek hingga jangka panjang,” tambah Imam.

Baca Juga:  Puncak Anniversary Quest San Hotel Denpasar nan Istimewa

 

Kondisi Terkini

Puncak musim kemarau tahun 2019 di Indonesia diprakirakan terjadi pada bulan Juli hingga September, dengan komposisi puncak musim kemarau di 44 ZOM (Zona Musim) terjadi pada bulan Juli, 233 ZOM di bulan Agustus, dan 51 ZOM di bulan September.

ZOM (Zona Musim) adalah penyebutan untuk daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan.

Berdasar kajian studi latar belakang RPJMN Bidang Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas 2018, ketersediaan air di Pulau Jawa hanya mencapai  100 juta m3.

Sementara, kebutuhannya mencapai  120 juta m3.Pada 2020, diperkirakan sebagian besar wilayah Pulau Jawa berada pada zona kuning atau kritis.

Berdasar kondisi itu, Imam pun mengajak masyarakat Indonesia untuk langsung beraksi dengan kondisi yang ada.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk bahu-membahu mengirimkan bantuannya melalui aksi-aksi nyata untuk saudara-saudara kita di bit.ly/DermawanAtasiKekeringan.

Satu hal bahwa sesungguhnya, apa yang kita keluarkan sebenarnya untuk diri kita. Apabila kita memberikan kebaikan, maka sebuah kebaikan itu akan kembali ke diri kita termasuk keburukan.

Alam semesta itu tergantung respon kita.Sejatinya, kita adalah seberapa besar kita lakukan apa yang kita lakukan untuk orang lain,

itulah yang memaknai seberapa hebat hati kita. Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi Dermawan. Dermawan, mari atasi kekeringan,” ajak Imam.

 

Ancaman Kekeringan Akibat Perubahan Iklim Global

Dari tahun ke tahun, Perubahan Iklim menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah ancaman kekeringan dan kelangkaan air bersih bagi umat manusia.

Di tahun 2025, sekitar 2,7 miliar orang  atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah. (Dinar, A- 1998).

Khusus Pulau Jawa, diperkirakan akan mengalami defisit air sepanjang tahun (12 bulan) di tahun 2025. Lalu, di tahun 2050 diperkirakan 2/3 penduduk bumi akan mengalami kekurangan air di tahun 2050.[rba]



JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu Negara terkaya dalam sumberdaya air karena menyimpan 6% potensi air dunia.

Tetapi pulau terpadat di Negara ini terancam kehabisan air. Sumber air melimpah Indonesia tercantum dalam laporan badan kerjasama lintas negara, Water Environment Partnership in Asia (WEPA).

Pemerintah memprediksi musim kemarau tahun ini bakal mengakibatkan  48.491.666 jiwa terancam kekeringan di 28 provinsi. Hingga, diprediksi kemarau tahun ini akan lebih kering dari 2018 lalu.

Berdasar data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terjadi mulai Juli sampai Oktober 2019.

Sedangkan,hasil prakiraan curah hujan, menurut BMKG, sebanyak 64,94 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah (di bawah 100 mm/bulan) pada bulan Agustus 2019.

BMKG menyatakan, musim kemarau tahun 2019 akan terjadi kekeringan panjang akibat beberapa factor. Yaitu fenomena El Nino, kuatnya Muson Australia, dan anomali peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim.

Merujuk data ketersediaan air yang disusun Pusat Litbang Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR, satu orang di Jawa misalnya saat ini bisa mendapat 1.169 meter kubik air per tahun.

Ketersediaan air yang setara 58 truk tangki air berbobot 20 ribu liter itu dilabeli status ‘adatekanan’.

Bahkan, ketersediaan air untuk setiap satu penduduk Jawa diprediksi akan terus menurun hingga mencapai 476 meter kubik per tahun pada 2040.

Angka itu dikategorikan kelangkaan total. N. Imam Akbari, selaku Senior Vice President ACT menyatakan kekeringan atau kemarau yang berkepanjang ini akan ada banyak aspek yang disoroti. “Dengan terjadinya kemarau ada kualitas kehidupan sosial yang terdampak.

Misalnya, debit air yang berkurang, akan mempengaruhi konsumsi air. Sedangkan, air adalah kebutuhan vital manusia.

Manusia sendiri masih bisa bertahan ketika tidak makan, namun ketika tidak ada air (tidakminum), hanya akan bertahan dalam hitungan hari,” ungkapnya.

 

Kejadian Kemarau Panjang Dunia

Sebuah riset yang dirilis di Eropa belum lama ini bahkan menunjukkan bahwa bulan Juli atau pertengahan tahun 2015 adalah bulan dengan suhu rata-rata terpanas sejak seabad terakhir.

Baca Juga:  Harris Rider Community Gelar Fun Touring dan Bakti Sosial

Misalnya, di India, bencana suhu panas tinggi akibat musim kemarau panjang di India pada tahun 2015 menurut riset dari World Resources Institute (WRI) telah membunuh lebih dari 2.000 jiwa hanya dalam waktu sebulan.

Suhu di Mumbai sebagai salah satu kota terpadat di India bahkan menembus 50°C.  India saat itu sedang mengalami krisis air atau kekeringan terparah di muka bumi.

Selain itu, AfrikaTimur antara Juli 2011 hingga pertengahan tahun 2012 kekeringan melanda Afrika Timur. Republik Rakyat Cina (RRC) pun mengalami kekeringan terparah tepatnya pada tahun 2010-2011.

Akibat bencana ini jutaan hektar lading gandum gagal panen dan ribuan rumah penduduk harus direlokasi dan masih banyak lainnya sejarah kekeringan di belahan dunia lain (Texas, Vietnam, Australia, Brazil,dll).

 

Kemiskinan dan Gizi Buruk sebagai Dampak Kekeringan

Stunting adalah Kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama. Indonesia ditetapkan sebagai Negara dengan status gizi buruk karena 30,8% balita di Indonesia menderita stunting.

WHO menetapkan batas toleransi stunting maksimal 20% jumlah keseluruhan balita World Food Programme (WFP) menyatakan adanya hubungan timbal balik antara gizi buruk dan kemiskinan.

Misalnya, di Nusa Tenggara Timur (NTT), sector pertanian menjadi yang paling terdampak atas terjadinya kemarau panjang.

Akibatnya, jumlah penduduk miskin makin tinggi, dan NTT tercatat sebagai Provinsi dengan prevalensi balita stunting terbesar di Indonesia (42,6%) .

Sebagai gambaran, ACT pun pernah membersamai bagaimana dampak kekeringan yang terjadi di Somalia pada tahun 2011, dimana Somalia dilanda kekeringan selama 4 tahun lamanya.

“Tentu saja banyak sekali korban kekeringan, hingga hampir semua balitanya mengalami gizi buruk dan dampak social lainnya. Tentu hal ini jangan sampai terjadi di negeri kita.

Melalui Mobile Water Tank dan Sumur Wakaf, ACT terus berinovasi memberikan bantuan baik yang sifatnya jangka pendek hingga jangka panjang,” tambah Imam.

Baca Juga:  Geber Kreativitas Milenial di Honda Genio Custom Playground

 

Kondisi Terkini

Puncak musim kemarau tahun 2019 di Indonesia diprakirakan terjadi pada bulan Juli hingga September, dengan komposisi puncak musim kemarau di 44 ZOM (Zona Musim) terjadi pada bulan Juli, 233 ZOM di bulan Agustus, dan 51 ZOM di bulan September.

ZOM (Zona Musim) adalah penyebutan untuk daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan.

Berdasar kajian studi latar belakang RPJMN Bidang Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas 2018, ketersediaan air di Pulau Jawa hanya mencapai  100 juta m3.

Sementara, kebutuhannya mencapai  120 juta m3.Pada 2020, diperkirakan sebagian besar wilayah Pulau Jawa berada pada zona kuning atau kritis.

Berdasar kondisi itu, Imam pun mengajak masyarakat Indonesia untuk langsung beraksi dengan kondisi yang ada.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk bahu-membahu mengirimkan bantuannya melalui aksi-aksi nyata untuk saudara-saudara kita di bit.ly/DermawanAtasiKekeringan.

Satu hal bahwa sesungguhnya, apa yang kita keluarkan sebenarnya untuk diri kita. Apabila kita memberikan kebaikan, maka sebuah kebaikan itu akan kembali ke diri kita termasuk keburukan.

Alam semesta itu tergantung respon kita.Sejatinya, kita adalah seberapa besar kita lakukan apa yang kita lakukan untuk orang lain,

itulah yang memaknai seberapa hebat hati kita. Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi Dermawan. Dermawan, mari atasi kekeringan,” ajak Imam.

 

Ancaman Kekeringan Akibat Perubahan Iklim Global

Dari tahun ke tahun, Perubahan Iklim menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah ancaman kekeringan dan kelangkaan air bersih bagi umat manusia.

Di tahun 2025, sekitar 2,7 miliar orang  atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah. (Dinar, A- 1998).

Khusus Pulau Jawa, diperkirakan akan mengalami defisit air sepanjang tahun (12 bulan) di tahun 2025. Lalu, di tahun 2050 diperkirakan 2/3 penduduk bumi akan mengalami kekurangan air di tahun 2050.[rba]


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/