alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Pemkot Mojokerto Bawa Nuansa Majapahit dan Soekarno

DENPASAR, radarbali.id- Pemerintah Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur memberi warna berbeda di ajang Pertemuan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Outlook 2021 yang berlangsung di Segara Village, Sanur, Kota Denpasar, Sabtu (18/12) lalu.

Dihadiri 42 Walikota se-Indonesia, Kota Mojokerto menghadirkan nuansa Majapahitan lewat sederet produk industri kecil dan menengah.

Di antaranya Batik Mojokerto yang memiliki motif khas sejarah masa kerajaan Majapahit serta kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di booth khusus Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto terdapat pula motif Babad Majapahit. Motif ini mengisahkan peperangan Majapahit di hutan Tarik.

Motif Alas Majapahit menggambarkan flora dan fauna seperti badak, kupu-kupu, burung, dan burung teratai. Motif Gebyar Surya Majapahit dan motif Kelor Mojopahit juga memanjakan mata pengunjung.

 Tak ketinggalan, alas kaki khas Mojokerto kualitas ekspor pun dipajang. Termasuk kerajinan fiber beraneka bentuk. Salah satunya berwujud Soekarno kecil.

 Walikota Mojokerto, Hj. Ika Puspitasari, SE. mengatakan agenda APEKSI Outlook 2021 membawa misi yang sama dengan hajatan sebelumnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni bangkit di masa pandemi Covid-19.

Melalui APEKSI ujar Ika Puspitasari pemerintah kota se-Indonesia bersinergi dan berkolaborasi dalam rangka membangun daerah masing-masing dengan mengedepankan kearifan lokal serta potensi yang dimiliki. 

“Di dalam rangkaian agenda APEKSI di Sanur, Bali tahun 2021 ini, kami dari Kota Mojokerto menyediakan salah satu booth pameran UMKM dengan membawa produk-produk hasil UMKM Kota Mojokerto. Produk unggulan yang sudah menjadi komoditas ekspor Kota Mojokerto adalah alas kaki berupa sepatu dan sandal.

Sudah berpuluh-puluh tahun alas kaki kami diekspor ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Selain itu, kami berupaya mengembangkan salah satu warisan budaya tak benda berupa batik khas Mojokerto yang motif dasarnya Surya Majapahit,” ucap walikota perempuan pertama dan termuda di Kota Mojokerto tersebut.

Baca Juga:  Warga Jember Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kos di Kuta Selatan

 

Pejabat kelahiran Mojokerto, 12 April 1979 yang aktif sebagai Sekretaris PC. Muslimat NU sejak 2010 dan Bendahara LPBI NU (2013-sekarang) itu merinci Surya Majapahit adalah simbol dari Kerajaan Majapahit yang kemudian dikembangkan oleh para pembatik Kota Mojokerto lewat berbagai motif turunan di antaranya motif bunga matahari.

Motif ini menjadi ciri khas Kota Mojokerto dan dipilih sebagai pakaian seragam seluruh ASN dan Non ASN di Pemerintah Kota Mojokerto.

 Selain batik, ibu dua anak yang bersuamikan Ir. Supriyadi Karima Saiful itu menjelaskan Pemkot Mojokerto juga membawa kerajinan yang dibuat dalam rangka nguri uri budoyo Jawi atau melestarikan warisan budaya Majapahit.

“Ada desain kapal Majapahit dan berbagai jenis kapal lainnya yang dimasukkan ke dalam botol. Desain-desain tersebut telah dipatenkan. Juga ada kriya dalam bentuk Surya Majapahit dan yang baru saja dikembangkan di Kota Mojokerto adalah Soekarno versi anak kecil atau sekolah dasar.

Sang proklamator mengemban pendidikan sekolah dasar dan tinggal selama delapan setengah tahun di Kota Mojokerto.

Jejak Sang Proklamator saat ini sedang dikembangkan menjadi potensi pariwisata sejarah untuk melengkapi potensi wisata sejarah yang menjadi wisata strategis nasional, yaitu warisan Kerajaan Majapahit yang berdiri megah pada abad-13 di Mojokerto,” jelasnya.

Baca Juga:  Pecundangi Tim-tim Jawa Timur, PSS Sleman Fokus Kontra Bali United

 

Terkait sosok Soekarno kecil dan Kota Mojokerto, Hj. Ika Puspitasari menyebut hubungan tersebut diuraikan secara gamblang dalam buku berjudul Soekarno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Terdapat satu capture yang berkisah tentang Mojokerto. “Disampaikan bahwa sejak 1907 hingga 1915 Soekarno yang kala itu bernama Kusno tinggal di Kota Mojokerto dikarenakan harus mengikuti ayahnya, yaitu Bapak Raden Soekemi yang bertugas sebagai pengawas di salah satu sekolah di Mojokerto.

Jejak dua tempat Soekarno atau Kusno sedang mengenyam pendidikan dasar, yaitu Sekolah Ongko Loro (Tweede Inlandsche School, red) dan ILS, Europeesche Lagere School sudah kami tetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Kebetulan dua sekolah tersebut sampai saat ini juga masih berfungsi sebagai sekolah,” ungkapnya sembari menyebut Sekolah Ongko Loro kini bernama SD Negeri Purwo Tengah Kota Mojokerto dan ILS menjadi SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

 

Imbuhnya, di kedua sekolah tersebut dibangun patung Soekarno versi usia 12 tahun dengan pakaian khas akulturasi budaya Jawa dan Belanda. Bawahannya menggunakan kain batik dengan atasan jas dan dasi kupu-kupu. Soekarno versi 12 tahun ini mengenakan blangkon batik.

 

“Ke depan, khusus SD Negeri Purwo Tengah akan kami jadikan sebagai galeri tentang Soekarno.

 Alhamdulillah ini sekarang sudah masuk dalam program kerja Kemendikbud Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia.

Insya Allah tahun depan sudah mulai dibangun dengan konten-konten digital yang bisa dijadikan sebagai tempat mendapatkan ilmu terkait Soekarno dengan cara yang lebih menarik sehingga anak-anak generasi Z dan milenial lebih tertarik mempelajari sejarah,” tutupnya. (adv)


DENPASAR, radarbali.id- Pemerintah Kota Mojokerto, Provinsi Jawa Timur memberi warna berbeda di ajang Pertemuan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Outlook 2021 yang berlangsung di Segara Village, Sanur, Kota Denpasar, Sabtu (18/12) lalu.

Dihadiri 42 Walikota se-Indonesia, Kota Mojokerto menghadirkan nuansa Majapahitan lewat sederet produk industri kecil dan menengah.

Di antaranya Batik Mojokerto yang memiliki motif khas sejarah masa kerajaan Majapahit serta kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di booth khusus Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto terdapat pula motif Babad Majapahit. Motif ini mengisahkan peperangan Majapahit di hutan Tarik.

Motif Alas Majapahit menggambarkan flora dan fauna seperti badak, kupu-kupu, burung, dan burung teratai. Motif Gebyar Surya Majapahit dan motif Kelor Mojopahit juga memanjakan mata pengunjung.

 Tak ketinggalan, alas kaki khas Mojokerto kualitas ekspor pun dipajang. Termasuk kerajinan fiber beraneka bentuk. Salah satunya berwujud Soekarno kecil.

 Walikota Mojokerto, Hj. Ika Puspitasari, SE. mengatakan agenda APEKSI Outlook 2021 membawa misi yang sama dengan hajatan sebelumnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni bangkit di masa pandemi Covid-19.

Melalui APEKSI ujar Ika Puspitasari pemerintah kota se-Indonesia bersinergi dan berkolaborasi dalam rangka membangun daerah masing-masing dengan mengedepankan kearifan lokal serta potensi yang dimiliki. 

“Di dalam rangkaian agenda APEKSI di Sanur, Bali tahun 2021 ini, kami dari Kota Mojokerto menyediakan salah satu booth pameran UMKM dengan membawa produk-produk hasil UMKM Kota Mojokerto. Produk unggulan yang sudah menjadi komoditas ekspor Kota Mojokerto adalah alas kaki berupa sepatu dan sandal.

Sudah berpuluh-puluh tahun alas kaki kami diekspor ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Selain itu, kami berupaya mengembangkan salah satu warisan budaya tak benda berupa batik khas Mojokerto yang motif dasarnya Surya Majapahit,” ucap walikota perempuan pertama dan termuda di Kota Mojokerto tersebut.

Baca Juga:  Dari Era Piringan Hitam, Dengan Teknologi Nge-DJ makin Enjoy

 

Pejabat kelahiran Mojokerto, 12 April 1979 yang aktif sebagai Sekretaris PC. Muslimat NU sejak 2010 dan Bendahara LPBI NU (2013-sekarang) itu merinci Surya Majapahit adalah simbol dari Kerajaan Majapahit yang kemudian dikembangkan oleh para pembatik Kota Mojokerto lewat berbagai motif turunan di antaranya motif bunga matahari.

Motif ini menjadi ciri khas Kota Mojokerto dan dipilih sebagai pakaian seragam seluruh ASN dan Non ASN di Pemerintah Kota Mojokerto.

 Selain batik, ibu dua anak yang bersuamikan Ir. Supriyadi Karima Saiful itu menjelaskan Pemkot Mojokerto juga membawa kerajinan yang dibuat dalam rangka nguri uri budoyo Jawi atau melestarikan warisan budaya Majapahit.

“Ada desain kapal Majapahit dan berbagai jenis kapal lainnya yang dimasukkan ke dalam botol. Desain-desain tersebut telah dipatenkan. Juga ada kriya dalam bentuk Surya Majapahit dan yang baru saja dikembangkan di Kota Mojokerto adalah Soekarno versi anak kecil atau sekolah dasar.

Sang proklamator mengemban pendidikan sekolah dasar dan tinggal selama delapan setengah tahun di Kota Mojokerto.

Jejak Sang Proklamator saat ini sedang dikembangkan menjadi potensi pariwisata sejarah untuk melengkapi potensi wisata sejarah yang menjadi wisata strategis nasional, yaitu warisan Kerajaan Majapahit yang berdiri megah pada abad-13 di Mojokerto,” jelasnya.

Baca Juga:  Silahturahmi dan Berbagi Keceriaan BSM, Ceriakan PKR

 

Terkait sosok Soekarno kecil dan Kota Mojokerto, Hj. Ika Puspitasari menyebut hubungan tersebut diuraikan secara gamblang dalam buku berjudul Soekarno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.

Terdapat satu capture yang berkisah tentang Mojokerto. “Disampaikan bahwa sejak 1907 hingga 1915 Soekarno yang kala itu bernama Kusno tinggal di Kota Mojokerto dikarenakan harus mengikuti ayahnya, yaitu Bapak Raden Soekemi yang bertugas sebagai pengawas di salah satu sekolah di Mojokerto.

Jejak dua tempat Soekarno atau Kusno sedang mengenyam pendidikan dasar, yaitu Sekolah Ongko Loro (Tweede Inlandsche School, red) dan ILS, Europeesche Lagere School sudah kami tetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Kebetulan dua sekolah tersebut sampai saat ini juga masih berfungsi sebagai sekolah,” ungkapnya sembari menyebut Sekolah Ongko Loro kini bernama SD Negeri Purwo Tengah Kota Mojokerto dan ILS menjadi SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

 

Imbuhnya, di kedua sekolah tersebut dibangun patung Soekarno versi usia 12 tahun dengan pakaian khas akulturasi budaya Jawa dan Belanda. Bawahannya menggunakan kain batik dengan atasan jas dan dasi kupu-kupu. Soekarno versi 12 tahun ini mengenakan blangkon batik.

 

“Ke depan, khusus SD Negeri Purwo Tengah akan kami jadikan sebagai galeri tentang Soekarno.

 Alhamdulillah ini sekarang sudah masuk dalam program kerja Kemendikbud Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia.

Insya Allah tahun depan sudah mulai dibangun dengan konten-konten digital yang bisa dijadikan sebagai tempat mendapatkan ilmu terkait Soekarno dengan cara yang lebih menarik sehingga anak-anak generasi Z dan milenial lebih tertarik mempelajari sejarah,” tutupnya. (adv)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/