alexametrics
29.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Sisi Lain dari Program TMMD ke-114 di Desa Sangketan, Penebel Tabanan

Jadi Berkah Bagi Buruh Angkut Material, Pengeluaran Dana Desa Tertangani

Program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-114 bukan hanya soal membangun dan memperbaiki jalan desa semata. Melainkan terdapat nilai ekonomi, salah satunya sebagai pemasukkan tambahan penghasilan setiap hari bagi ibu-ibu buruh angkut material. Selain itu mengurangi beban pengeluaran desa untuk masalah infrastruktur.

 

TABANAN, Juliadi Radar Bali

 

22 kilometer jalan yang harus ditempuh untuk menuju lokasi TMMD ke-114 yang dilakukan Kodim 1619/Tabanan di Desa Sangketan, Penebel.  Perjalanan menuju lokasi TMMD membutuhkan waktu kurang dari 1 jam bila mengendarai sepeda motor dari Kota Tabanan.

 

Ketika bertandang ke lokasi TMMD yang membuka akses jalan dari Desa Sangketan Kecamatan Penebel menuju Desa Wanagiri, Selemadeg, pada Minggu (31/7). Cuaca mendung menyelimuti Tabanan. Sejatinya jalan menuju lokasi TMMD persis menuju arah Pura Luhur Muncak Sari, jalannya beraspal meski beberapa jalan agak sedikit rusak dan berlubang.

 

Saat tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WITA, papan baliho tampak terpasang, beberapa deretan truck pengangkut material pasir dan kerikil antri terparkir. Sementara itu beberapa personil TNI dari Kodim 1619/Tabanan terlihat mengawasi dan melakukan pengerjaan pelebaran jalan. Lantaran jalan yang sempit terpaksa material pasir dan kerikil harus dipindah kembali ke mobil pickup untuk diturunkan ke lokasi TMMD.

 

Menariknya, saat pasir dan kerikil diangkut tampak terlihat adanya dua orang ibu-ibu rumah tangga yakni Ni Wayan Kariani, 56 dan Ni Wayan Mariani, 48 sedang ikut bekerja menurunkan material.

 

Ternyata keduanya merupakan buruh angkut bahan material di lokasi TMMD. Mereka layaknya seperti pria kekar dengan tenaga kuat. “Sudah dari pra TMMD kami ikut bekerja disini,” ucap Ni Wayan Kariani sambil menarik nafasnya menurunkan material kerikil yang diangkut dari daerah Karangasem, Bali.

 

Ni Wayan Kariani mengaku semenjak adanya TMMD setiap harinya dirinya bekerja bersama Mariani. Meski telah lama menjadi pekerja buruh angkut material. Namun dengan adanya TMMD justru dirinya merasa terbantu, karena pemasukan penghasilannya bertambah. “Kalau biasanya belum ada TMMD paling besar upah yang kami terima setelah angkut dan turunkan material sebesar Rp 150 ribu. Sekarang setelah adanya TMMD bisa kami dapat upah Rp 400 ribu dalam sehari,” akunya.

 

Menurunkan pasir dan kerikil dari atas truck untuk dipindahkan ke lokasi sehari bisa 2 sampai 3 kali ia turunkan. Sekali turunkan material dapat upah Rp 200 ribu. Tetapi menurunkan bahan material ini untuk pengerjaan betonisasi jalan tergantung cuaca pula. Di lokasi TMMD ini kerap kali turun hujan. “Ya kalau turunkan material kendala cuaca dan juga Medan,” ungkap perempuan asal Banjar Dinas Tegal Kukuh, Marga.

Baca Juga:  Produksi Sedikit & Pasar Potensial, Petani Penebel Genjot Beras Hitam

 

Ni Wayan Kariani menambahkan untuk uang hasil yang dia dapat dari TMMD selain bisa digunakan untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Juga dapat disimpan untuk biaya upacara nanti. “Jadi ada simpanan uang lebih hasil kerja di TMMD ini bisa untuk di tabung. Bila ada upacara (piodalan), kan bisa kami ambil,” tuturnya.

 

Disisi lain Perbekel Desa Sangketan I Nyoman Sugiarta mengatakan dengan adanya pelaksanaan TMMD ke-114 yang dilakukan oleh Kodim 1619/Tabanan tentunya sangat membantu meringankan beban belanja desa khususnya di bidang infrastruktur. Karena realitanya kegiatan prioritas Desa Sangketan salah satunya adalah pengerasan jalan desa.

 

Perlu diketahui Desa Sangketan memiliki jalan terpanjang dari 18 desa yang ada di Kecamatan Penebel. Khusus kondisi di masa pandemi Covid-19 pada tahun anggaran 2022. Pihaknya belum bisa melakukan pekerjaan pengerasan jalan yang bersumber dari dana desa (DD).

 

Ini karena 68 persen DD untuk program wajib. Yakni 40 persen untuk BLT Dana Desa, 20 persen untuk ketahanan pangan dan 8 persen diploting untuk pencegahan Covid-19, sisanya 32 persen untuk pendidikan, pencegahan stunting dan pemberdayaan.

 

Sementara Alokasi Dana Desa (ADD) dari Kabupaten sangat menurun drastis dibandingkan dengan sebelum adanya Pandemi Covid-19 ini. Yakni kurang lebih Rp 630 juta dan inipun diperuntukan operasional selama 1 tahun anggaran. “Jadi kami sangat bersyukur desa kami menjadi lokasi TMMD. Jika gunakan dana desa, maka 2 tahun baru selesai jalan sepanjang 1.150 meter dikerjakan. Karena harus tunggu anggaran keluar. Sementara TMMD butuh waktu beberapa bulan saja perbaikan jalan tersebut tuntas dikerjakan. Beban desa tertanggulangi dalam masalah infrastruktur,” terangnya.

 

Sugiarta melanjutkan program TMMD di desa sejatinya bukan hanya kegiatan fisik saja yang ia dapat dari TNI, tetapi kegiatan nonfisik pun diberikan. Seperti sanitasi, edukasi bahasa narkoba dan pencegahan stunting.

 

Besar harapan pihaknya setelah Jalan dari Desa Sangketan menuju Desa Wanagiri ini diperlebar akan berdampak mempermudah mobilitas masyarakat menuju tempat ibadah, menuju desa-desa lain, Kecamatan dan Kabupaten Buleleng, pertanian Perkebunan.

Baca Juga:  Pengangguran Meningkat Gegara Pandemi, Berharap Bisa Bekerja Kembali

 

“Saya yakin pula potensi Pariwisata pun bisa terangkat sesuai sumberdaya alam yang kami miliki. Karena sejumlah villa sudah terbangun disini. Saya ingin Desa Sangketan semakin maju, karena bagaimanpun Desa adalah miniaturnya Kabupaten bahkan Negara ini,” tandasnya.

 

Sementara itu, Komandan Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Ferry Adianto yang juga selaku Dansatgas TMMD ke-114 Tabanan mengatakannya TMMD ke-114 ini selain melibatkan personel Kodim 1619/Tabanan juga dilakukan bersama masyarakat setempat. TMMD yang membuka akses jalan dari Desa Sangketan Kecamatan Penebel menuju Desa Wanagiri, Selemadeg.

 

Pengerjaannya berupa pelebaran badan jalan dari semula 3 meter menjadi 6 meter dengan panjang  1.150 meter. Kemudian pengerasan dan betonisasi badan jalan dengan lebar 4 meter sepanjang 1.150 meter, pembuatan plat beton untuk gorong-gorong dengan lebar 5 meter dan panjang 2,5 meter dengan  tinggi 2 meter. “Selain itu pembuatan plat beton dengan panjang 3 meter lebar 3 meter tinggi 3 meter termasuk pembuatan 3 Ls gorong-gorong yang sudah di tentukan titiknya dan pembuatan senderan,” tuturnya.

 

Meski demikian, saat TMMD dilaksanakan salah satu kendala di lapangan yang pihaknya hadapi soal faktor cuaca, mengingat lokasi TMMD kerap kali diguyur hujan. Sehingga personilnya di lapangan perlu menyiasati saat melaksanakan pengerjaan jalan tersebut.

 

Target pihaknya tuntas tepat waktu 24 Agustus mendatang, sehingga sekarang pihaknya intensif pengerjaan dengan mengerahkan sejumlah personil TNI. “Kita maksimalkan turunkan personil untuk bekerja, walaupun diguyur hujan di lokasi kegiatan TMMD,” ungkap Letkol Inf Ferry.

 

Dandim 1619/Tabanan menambahkan TMMD tidak hanya kegiatan fisik yang lebih ditonjolkan, namun ada pula  kegiatan non fisik berupa pameran UMKM, penyuluhan-penyuluhan untuk generasi muda dan pembekalan kewirausahaan maupun pertanian dan perkebunan bagi masyarakat. Ada pula tambahan kegiatan bedah rumah dan jambanisasi dengan menggandeng instansi terkait baik dari pemerintah, BUMN maupun swasta. “Mudah-mudahan dengan tuntas pengerjaan akses jalan dari Desa Sangketan menuju desa Wanagiri kedepan diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Karena selama ini akses jalan tersebut untuk menuju Pura Luhur Muncak Sari juga akses jalan antar kecamatan yang nantinya dapat dilalui dua kendaraan sekaligus,” pungkasnya. (*)



Program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-114 bukan hanya soal membangun dan memperbaiki jalan desa semata. Melainkan terdapat nilai ekonomi, salah satunya sebagai pemasukkan tambahan penghasilan setiap hari bagi ibu-ibu buruh angkut material. Selain itu mengurangi beban pengeluaran desa untuk masalah infrastruktur.

 

TABANAN, Juliadi Radar Bali

 

22 kilometer jalan yang harus ditempuh untuk menuju lokasi TMMD ke-114 yang dilakukan Kodim 1619/Tabanan di Desa Sangketan, Penebel.  Perjalanan menuju lokasi TMMD membutuhkan waktu kurang dari 1 jam bila mengendarai sepeda motor dari Kota Tabanan.

 

Ketika bertandang ke lokasi TMMD yang membuka akses jalan dari Desa Sangketan Kecamatan Penebel menuju Desa Wanagiri, Selemadeg, pada Minggu (31/7). Cuaca mendung menyelimuti Tabanan. Sejatinya jalan menuju lokasi TMMD persis menuju arah Pura Luhur Muncak Sari, jalannya beraspal meski beberapa jalan agak sedikit rusak dan berlubang.

 

Saat tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WITA, papan baliho tampak terpasang, beberapa deretan truck pengangkut material pasir dan kerikil antri terparkir. Sementara itu beberapa personil TNI dari Kodim 1619/Tabanan terlihat mengawasi dan melakukan pengerjaan pelebaran jalan. Lantaran jalan yang sempit terpaksa material pasir dan kerikil harus dipindah kembali ke mobil pickup untuk diturunkan ke lokasi TMMD.

 

Menariknya, saat pasir dan kerikil diangkut tampak terlihat adanya dua orang ibu-ibu rumah tangga yakni Ni Wayan Kariani, 56 dan Ni Wayan Mariani, 48 sedang ikut bekerja menurunkan material.

 

Ternyata keduanya merupakan buruh angkut bahan material di lokasi TMMD. Mereka layaknya seperti pria kekar dengan tenaga kuat. “Sudah dari pra TMMD kami ikut bekerja disini,” ucap Ni Wayan Kariani sambil menarik nafasnya menurunkan material kerikil yang diangkut dari daerah Karangasem, Bali.

 

Ni Wayan Kariani mengaku semenjak adanya TMMD setiap harinya dirinya bekerja bersama Mariani. Meski telah lama menjadi pekerja buruh angkut material. Namun dengan adanya TMMD justru dirinya merasa terbantu, karena pemasukan penghasilannya bertambah. “Kalau biasanya belum ada TMMD paling besar upah yang kami terima setelah angkut dan turunkan material sebesar Rp 150 ribu. Sekarang setelah adanya TMMD bisa kami dapat upah Rp 400 ribu dalam sehari,” akunya.

 

Menurunkan pasir dan kerikil dari atas truck untuk dipindahkan ke lokasi sehari bisa 2 sampai 3 kali ia turunkan. Sekali turunkan material dapat upah Rp 200 ribu. Tetapi menurunkan bahan material ini untuk pengerjaan betonisasi jalan tergantung cuaca pula. Di lokasi TMMD ini kerap kali turun hujan. “Ya kalau turunkan material kendala cuaca dan juga Medan,” ungkap perempuan asal Banjar Dinas Tegal Kukuh, Marga.

Baca Juga:  Orang Tua, Mari Berpikir: Semua Anak adalah “Anak Saya” yang Wajib Dijaga!

 

Ni Wayan Kariani menambahkan untuk uang hasil yang dia dapat dari TMMD selain bisa digunakan untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Juga dapat disimpan untuk biaya upacara nanti. “Jadi ada simpanan uang lebih hasil kerja di TMMD ini bisa untuk di tabung. Bila ada upacara (piodalan), kan bisa kami ambil,” tuturnya.

 

Disisi lain Perbekel Desa Sangketan I Nyoman Sugiarta mengatakan dengan adanya pelaksanaan TMMD ke-114 yang dilakukan oleh Kodim 1619/Tabanan tentunya sangat membantu meringankan beban belanja desa khususnya di bidang infrastruktur. Karena realitanya kegiatan prioritas Desa Sangketan salah satunya adalah pengerasan jalan desa.

 

Perlu diketahui Desa Sangketan memiliki jalan terpanjang dari 18 desa yang ada di Kecamatan Penebel. Khusus kondisi di masa pandemi Covid-19 pada tahun anggaran 2022. Pihaknya belum bisa melakukan pekerjaan pengerasan jalan yang bersumber dari dana desa (DD).

 

Ini karena 68 persen DD untuk program wajib. Yakni 40 persen untuk BLT Dana Desa, 20 persen untuk ketahanan pangan dan 8 persen diploting untuk pencegahan Covid-19, sisanya 32 persen untuk pendidikan, pencegahan stunting dan pemberdayaan.

 

Sementara Alokasi Dana Desa (ADD) dari Kabupaten sangat menurun drastis dibandingkan dengan sebelum adanya Pandemi Covid-19 ini. Yakni kurang lebih Rp 630 juta dan inipun diperuntukan operasional selama 1 tahun anggaran. “Jadi kami sangat bersyukur desa kami menjadi lokasi TMMD. Jika gunakan dana desa, maka 2 tahun baru selesai jalan sepanjang 1.150 meter dikerjakan. Karena harus tunggu anggaran keluar. Sementara TMMD butuh waktu beberapa bulan saja perbaikan jalan tersebut tuntas dikerjakan. Beban desa tertanggulangi dalam masalah infrastruktur,” terangnya.

 

Sugiarta melanjutkan program TMMD di desa sejatinya bukan hanya kegiatan fisik saja yang ia dapat dari TNI, tetapi kegiatan nonfisik pun diberikan. Seperti sanitasi, edukasi bahasa narkoba dan pencegahan stunting.

 

Besar harapan pihaknya setelah Jalan dari Desa Sangketan menuju Desa Wanagiri ini diperlebar akan berdampak mempermudah mobilitas masyarakat menuju tempat ibadah, menuju desa-desa lain, Kecamatan dan Kabupaten Buleleng, pertanian Perkebunan.

Baca Juga:  Ternyata! Mortir yang Ditemukan di Penebel Tabanan Masih Aktif

 

“Saya yakin pula potensi Pariwisata pun bisa terangkat sesuai sumberdaya alam yang kami miliki. Karena sejumlah villa sudah terbangun disini. Saya ingin Desa Sangketan semakin maju, karena bagaimanpun Desa adalah miniaturnya Kabupaten bahkan Negara ini,” tandasnya.

 

Sementara itu, Komandan Dandim 1619/Tabanan Letkol Inf Ferry Adianto yang juga selaku Dansatgas TMMD ke-114 Tabanan mengatakannya TMMD ke-114 ini selain melibatkan personel Kodim 1619/Tabanan juga dilakukan bersama masyarakat setempat. TMMD yang membuka akses jalan dari Desa Sangketan Kecamatan Penebel menuju Desa Wanagiri, Selemadeg.

 

Pengerjaannya berupa pelebaran badan jalan dari semula 3 meter menjadi 6 meter dengan panjang  1.150 meter. Kemudian pengerasan dan betonisasi badan jalan dengan lebar 4 meter sepanjang 1.150 meter, pembuatan plat beton untuk gorong-gorong dengan lebar 5 meter dan panjang 2,5 meter dengan  tinggi 2 meter. “Selain itu pembuatan plat beton dengan panjang 3 meter lebar 3 meter tinggi 3 meter termasuk pembuatan 3 Ls gorong-gorong yang sudah di tentukan titiknya dan pembuatan senderan,” tuturnya.

 

Meski demikian, saat TMMD dilaksanakan salah satu kendala di lapangan yang pihaknya hadapi soal faktor cuaca, mengingat lokasi TMMD kerap kali diguyur hujan. Sehingga personilnya di lapangan perlu menyiasati saat melaksanakan pengerjaan jalan tersebut.

 

Target pihaknya tuntas tepat waktu 24 Agustus mendatang, sehingga sekarang pihaknya intensif pengerjaan dengan mengerahkan sejumlah personil TNI. “Kita maksimalkan turunkan personil untuk bekerja, walaupun diguyur hujan di lokasi kegiatan TMMD,” ungkap Letkol Inf Ferry.

 

Dandim 1619/Tabanan menambahkan TMMD tidak hanya kegiatan fisik yang lebih ditonjolkan, namun ada pula  kegiatan non fisik berupa pameran UMKM, penyuluhan-penyuluhan untuk generasi muda dan pembekalan kewirausahaan maupun pertanian dan perkebunan bagi masyarakat. Ada pula tambahan kegiatan bedah rumah dan jambanisasi dengan menggandeng instansi terkait baik dari pemerintah, BUMN maupun swasta. “Mudah-mudahan dengan tuntas pengerjaan akses jalan dari Desa Sangketan menuju desa Wanagiri kedepan diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Karena selama ini akses jalan tersebut untuk menuju Pura Luhur Muncak Sari juga akses jalan antar kecamatan yang nantinya dapat dilalui dua kendaraan sekaligus,” pungkasnya. (*)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/