Rabu, 26 Jan 2022
Radar Bali
Home / Features
icon featured
Features
Melihat Tari Sanghyang Jaran di Banjarangkan

Para Penari pun Tak Merasakan Panas atau Terbakar saat Injak-Injak Api

03 Desember 2021, 15: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Para Penari pun Tak Merasakan Panas atau Terbakar saat Injak-Injak Api

Penari Sanghyang Jarang saat menginjak bara api dalam pujawali di Pura Puseh Sari, Desa Banjarangkang, Klungkung, Rabu (1/12) malam. (ISTIMEWA)

Share this      

Tari Sanghyang Jaran dipentaskan saat pujawali atau piodalan di Pura Puseh Sari, Desa Adat Banjarangkan, tepatnya pada Buda Umanis Medangsia atau Rabu (1/12) malam. Tarian sakral itu dipentaskan dengan tujuan untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan.

 

Baca juga: Bermodal Rp8.500, Siswa Sulap Sisa Minyak Babi Guling Jadi Biodiesel

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

 

SEORANG pemangku pemucuk Pura Puseh Sari Desa Banjarangkan terlihat memimpin persembahyangan, Rabu (1/12) malam. Sejumlah orang mengikuti persembahyangan yang dilakukan sebagai awal sebelum pementasan Tari Sanghyang Jaran.

Tari Sanghyang Jaran merupakan warisan pengempon Puseh Sari Desa Adat Banjarangkang, Klungkung. Tari ini dilengkapi dengan perwujudan berupa kuda terbuat dari kayu, beserta atribut lainnya dengan tiga jenis warna yakni putih, kuning, dan hitam putih.

Karena merupakan tari sakral, pementasan Tari Sanghyang Jaran tak sembarang dipentaskan. Untuk melakukan pun harus dilakukan melalui serangkaian ritual.

Setelah persembahyangan berakhir, sekaa kidung sanghyang akan duduk bersila tepat di depan bangunan Pelinggih Pengaruman dan disiapkan pengasepan yakni kerajinan tanah liat yang diisi dengan bara api di atas sebuah dulang.

Para tetua kemudian membuat simbol tapak dara pada tubuh penari. Ketika bara api sudah dirasa siap, maka sekaa gending yang terdiri dari para pemuda pura tersebut mulai melantunkan nyanyian pemanggil roh sanghyang.

Sanghyang Jaran baru akan beraksi ketika lagu dimulai. Semakin lama tempo dan semakin kencang irama nyanyian, para penari mulai kehilangan kesadaran dengan mengepak-ngepakkan badannya layaknya seekor kuda. Semakin lama, tubuh penari semakin kehilangan kontrol untuk menuju ke api.

Puncaknya, para penari akan melompati dan menginjak-nginjak bara api yang telah disediakan secara membabi buta. Meski begitu, tidak satupun dari para penari yang merasa panas bara api, terluka, apalagi terbakar. Padahal, mereka telanjang kaki.  

Kidung yang mengiringi tarian itu merupakan kidung khas yang hanya ada di Pura Puseh Sari.

“Dari kidung atau nyanyian yang dilantunkan dapat ditafsirkan bahwa Sanghyang Jaran dibangunkan untuk diajak meliang-liang atau melila cita atau jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan harapan semua senang, bahagia,” terang Bendesa Adat Banjarangkan, A.A. Gede Dharma Putra.

Lebih lanjut Putra mengatakan, Sanghyang Jaran seolah menjadi momentum dan harapan baru bagi masyarakat Banjarangkan di tengah pandemi saat ini. Kedua tradisi yang berlafaskan budaya agraris ini menjadi tonggak baru bagi kehidupan masyarakat di Desa Banjarangkan ke depan agar lebih maju, makmur dan terlepas dari berbagai petaka.

“Perubahan musim yang ekstrem, sebagai sebuah ciri akan terjadinya wabah penyakit. Untuk mencegah penyebaran penyakit inilah, Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan ini,” tandasnya.

(rb/ayu/yor/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia