alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Anak Punya Kenalan Turis, Cari Peruntungan Baru dengan Tanam Rosella

BAGI I Made Duarsa pertanian adalah dunianya. Bahkan pria berusia 65 tahun asal Banjar Palak, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali ini sangat biasa menekuni pekerjaannya sebagai petani.

 

Biasanya, Duarsa menanam cabai. Namun beberapa bulan terakhir, ia mencoba mencari peruntungan baru dengan menanam tanaman bunga rosella (Hibiscus sandariffa) atau asam paya. Bagaimana kisahnya?

 

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

 

USAHA Made Duarsa mencari peruntungan baru untuk menanam tanaman herbal rosella ini diakui baru dilakukan tiga bulan lalu.

 

Tananam yang banyak diyakini memiliki khasiat sebagai antioksidan dan antibakteri ini ia tanam di area jogging track Sudamala di Banjar Gelumpang, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Gianyar.

 

Menurutnya, alasan mendasar dirinya beralih dari biasa menanam cabai ke tanaman asal Afrika ini lebih karena adanya desakan dari anaknya

 

Kata Duarsa, anaknya memili kenalan turis asal Swiss yang menetap di Gianyar.

 

“Dulu biasanya anak saya beli Rosella yang sudah kering siap seduh. Kemudian turis kenalan anak saya mencoba kasih bibit untuk ditanam,” jelasnya, Sabtu (4/9).

 

Hasil panen kelopak bunga Rosella saat ini baru sebatas konsumsi terbatas.

 

“Mulai bisa dipanen setelah usia 2 bulan. Biasanya saya petik sesuai permintaan. Karena memang belum dijual ke pasaran,” aku Duarsa. 

 

Baca Juga:  Digelar 10 Tahun Sekali, Ngaben Tikus Diyakini Bisa Usir Hama Padi

Setiap kali petik, Duarsa bisa membawa pulang sekitar 20 kilogram rosella. “Sementara diambil sama tamu saja. Per kilogramnya puluhan ribu,” ungkap Duarsa 

 

Dengan memiliki tanaman sendiri, Duarsa juga rutin mengkonsumsi air rebusan rosella.

 

“Kalau dulu masih beli yang kering, satu kemasan harganya bisa Rp 10 ribu. Dapat sedikit, kalau sudah punya sekarang bisa setiap saat minum teh rosella,” tambah Duarsa

Kata Duarsa, menanam Rosella tidak terlalu sulit. “Nanamnya gampang. Pemeliharaannya juga gampang. Coba sekali ini ternyata hasilnya bagus,” jelasnya. 

 

Apalagi tanaman itu tidak memerlukan air yang terlalu banyak seperti tanaman padi. Duarsa pun mengkombinasikan lahannya dengan menanam cabai di petak lahan sekitar Rosella.

 

Duarsa mencoba tanaman ini pada lahan sekitar 1 are. Ke depan, mantan sopir ini berharap bisa mengembangkan lebih luas.

 

“Kalau tidak pandemi, turisnya bilang ada banyak permintaan dari luar negeri. Jadi bisa diekspor. Mudah-mudahan ke depan kondisi membaik,” harap Duarsa.

 

Untuk dikonsumsi sendiri, Duarsa menjemur kelopak rosella sekitar 1 sampai 2 hari.

 

Agar memudahkan pemisahan lidah kelopak dengan bijinya. Kemudian cuci air bersih dan jemur kembali selama 3-5 hari.

 

Remas kelopaknya, jika mudah menjadi bubuk, artinya kadar air telah mencapai 4-5 persen. Lalu, diseduh 2-3 gram teh rosella dengan air mendidih hingga larut dan air berubah menjadi kemerahan. 

Baca Juga:  Ternyata Trophy Balap Motor WSBK di Mandalika Dibuat di Gianyar Bali

 

Untuk diketahui, bunga rosella yang berwarna merah cerah ini mulanya dijadikan penghias halaman rumah.

 

Di negeri asalnya, Afrika, rosella dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosella.

 

Sementara di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan mentah. Adakalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula.

 

Berbeda lagi di Mesir, rosella diminum dingin pada musim panas dan diminum panas saat musim dingin.

 

Di Sudan, menjadi minuman keseharian dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu.

 

Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah batuk. Tak jarang, rosella juga dimanfaatkan untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung.

 

Selain itu, bubuk biji bunga rosela juga dapat dijadikan campuran minuman kopi.

 

Rosella juga banyak diyakni memiliki manfaat sangat banyak, antara lain untuk menurunkan asam urat, hipertensi, diabetes mellitus, memperbaiki metabolisme tubuh, melangsingkan tubuh, menghambat sel kanker,

mencegah sariawan dan panas dalam, menambah vitalitas, meredakan batuk, mencegah flu, antioksidan, antihipertensi, antikanker, antidepresi, antibiotik, aprodisiak, diuretik (peluruh kencing), sedatif, tonik, dan menurunkan absorpsi alkohol. 

- Advertisement -
- Advertisement -

BAGI I Made Duarsa pertanian adalah dunianya. Bahkan pria berusia 65 tahun asal Banjar Palak, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali ini sangat biasa menekuni pekerjaannya sebagai petani.

 

Biasanya, Duarsa menanam cabai. Namun beberapa bulan terakhir, ia mencoba mencari peruntungan baru dengan menanam tanaman bunga rosella (Hibiscus sandariffa) atau asam paya. Bagaimana kisahnya?


 

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

 

USAHA Made Duarsa mencari peruntungan baru untuk menanam tanaman herbal rosella ini diakui baru dilakukan tiga bulan lalu.

 

Tananam yang banyak diyakini memiliki khasiat sebagai antioksidan dan antibakteri ini ia tanam di area jogging track Sudamala di Banjar Gelumpang, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Gianyar.

 

Menurutnya, alasan mendasar dirinya beralih dari biasa menanam cabai ke tanaman asal Afrika ini lebih karena adanya desakan dari anaknya

 

Kata Duarsa, anaknya memili kenalan turis asal Swiss yang menetap di Gianyar.

 

“Dulu biasanya anak saya beli Rosella yang sudah kering siap seduh. Kemudian turis kenalan anak saya mencoba kasih bibit untuk ditanam,” jelasnya, Sabtu (4/9).

 

Hasil panen kelopak bunga Rosella saat ini baru sebatas konsumsi terbatas.

 

“Mulai bisa dipanen setelah usia 2 bulan. Biasanya saya petik sesuai permintaan. Karena memang belum dijual ke pasaran,” aku Duarsa. 

 

Baca Juga:  Urun Daya, Bagikan Nasi untuk Warga yang Jalani Isoman dan Karantina

Setiap kali petik, Duarsa bisa membawa pulang sekitar 20 kilogram rosella. “Sementara diambil sama tamu saja. Per kilogramnya puluhan ribu,” ungkap Duarsa 

 

Dengan memiliki tanaman sendiri, Duarsa juga rutin mengkonsumsi air rebusan rosella.

 

“Kalau dulu masih beli yang kering, satu kemasan harganya bisa Rp 10 ribu. Dapat sedikit, kalau sudah punya sekarang bisa setiap saat minum teh rosella,” tambah Duarsa

Kata Duarsa, menanam Rosella tidak terlalu sulit. “Nanamnya gampang. Pemeliharaannya juga gampang. Coba sekali ini ternyata hasilnya bagus,” jelasnya. 

 

Apalagi tanaman itu tidak memerlukan air yang terlalu banyak seperti tanaman padi. Duarsa pun mengkombinasikan lahannya dengan menanam cabai di petak lahan sekitar Rosella.

 

Duarsa mencoba tanaman ini pada lahan sekitar 1 are. Ke depan, mantan sopir ini berharap bisa mengembangkan lebih luas.

 

“Kalau tidak pandemi, turisnya bilang ada banyak permintaan dari luar negeri. Jadi bisa diekspor. Mudah-mudahan ke depan kondisi membaik,” harap Duarsa.

 

Untuk dikonsumsi sendiri, Duarsa menjemur kelopak rosella sekitar 1 sampai 2 hari.

 

Agar memudahkan pemisahan lidah kelopak dengan bijinya. Kemudian cuci air bersih dan jemur kembali selama 3-5 hari.

 

Remas kelopaknya, jika mudah menjadi bubuk, artinya kadar air telah mencapai 4-5 persen. Lalu, diseduh 2-3 gram teh rosella dengan air mendidih hingga larut dan air berubah menjadi kemerahan. 

Baca Juga:  Digelar 10 Tahun Sekali, Ngaben Tikus Diyakini Bisa Usir Hama Padi

 

Untuk diketahui, bunga rosella yang berwarna merah cerah ini mulanya dijadikan penghias halaman rumah.

 

Di negeri asalnya, Afrika, rosella dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosella.

 

Sementara di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan mentah. Adakalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula.

 

Berbeda lagi di Mesir, rosella diminum dingin pada musim panas dan diminum panas saat musim dingin.

 

Di Sudan, menjadi minuman keseharian dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu.

 

Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah batuk. Tak jarang, rosella juga dimanfaatkan untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung.

 

Selain itu, bubuk biji bunga rosela juga dapat dijadikan campuran minuman kopi.

 

Rosella juga banyak diyakni memiliki manfaat sangat banyak, antara lain untuk menurunkan asam urat, hipertensi, diabetes mellitus, memperbaiki metabolisme tubuh, melangsingkan tubuh, menghambat sel kanker,

mencegah sariawan dan panas dalam, menambah vitalitas, meredakan batuk, mencegah flu, antioksidan, antihipertensi, antikanker, antidepresi, antibiotik, aprodisiak, diuretik (peluruh kencing), sedatif, tonik, dan menurunkan absorpsi alkohol. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/