Rabu, 26 Jan 2022
Radar Bali
Home / Features
icon featured
Features
Buku Lejong ke Labuan Bajo Karya Ketut Efrata

Tak Sekedar Eksotisme, Tapi juga Ulas Kehidupan Nyata Masyarakat Bajo

05 Desember 2021, 21: 39: 53 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Tak Sekedar Eksotisme, Tapi juga Ulas Kehidupan Nyata Masyarakat Bajo

KARYA PERDANA: Ketut Efrata (dua dari kanan) saat acara bedah buku dan peluncuran buku berjudul 'Lejong ke Labuan Bajo' di Kulidan Kitchen & Space, di Guwang, Gianyar, Bali, Minggu (5/12/2021) (Istimewa)

Share this      

SETELAH setahun digarap, buku berjudul “Lejong ke Labuan Bajo” versi digital (e-Book) karya Ketut Efrata, Minggu (5/12/2021) resmi diluncurkan.

Melibatkan editor yang juga jurnalis senior (Alm) Komar Najib Kilalawang.

Penulis muda asal Bali ini berharap, dengan hadirnya karya buku perdananya, ia bukan hanya ingin mengajak pembacanya untuk lebih tahu tentang eksotisme dan mutiara yang terpendam di balik pulau dengan julukan 'Morning City' ini.

Baca juga: Mesuryak Digelar Sederhana karena Masih Kondisi Pandemi Covid-19

Tetapi, lebih dari itu, sebagai penulis, Efrata juga secara natural ingin menunjukkan kepada para pembacanya untuk berselancar lebih jauh tentang kehidupan nyata dari masyarakat asli Bajo_sebutan Labuan Bajo, di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

DIDIK D.PRAPTONO, Gianyar

LEGA, begitulah ungkapan perasaan Ketut Efrata setelah hampir setahun berjibaku untuk menyusun dan menyelesaikan buku karya perdananya berjudul “Lejong ke Labuan Bajo”  

Buku setebal 238 halaman itu akhirnya kelar dan resmi diluncurkan dalam dua versi. Selain versi cetak, buku karya Ketut Efrata, ini juga diluncurkan dengan versi digital .

Ditemui di sela bedah buku dan peluncuran buku ‘Lejong ke Labuan Bajo” di Kulidan Kitchen & Space, di Guwang, Gianyar, Bali, selaku penulis, Ketut Efrata, mengatakan bahwa ia ingin bukunya ini bermanfaat bagi banyak orang, terutama bagi masyarakat setempat.

“Kata lain, buku berjudul ‘Lejong ke Labuan Bajo” ini hadir bukan hanya sekedar ingin memberi pesan tentang eksotisme atau keindahan destinasi yang ditawarkan Pulau Labuan Bajo.

Namun lebih penting dari itu, adalah soal pesan moral dan keberpihakan kehidupan masyarakat setempat yang sederhana dan mengesankan,”ungkapnya mengawali bedah buku.  

Idenya untuk menulis buku ini dimulai ketika ia melakukan perjalanan wisata tahun lalu (September 2020) ke Labuan Bajo dan melakukan sailing untuk melihat-lihat keindahan alam Labuan Bajo.

Tapi di luar dugaan, perjumpaannya dengan anak-anak remaja setempat membuahkan ide yang kuat untuk kembali menggugah dirinya membukukan kisah mereka.

Dari keinginan itu, niatannya tergerak untuk melihat lebih banyak cerita-cerita manis masyarakat setempat, yang tidak banyak didapatkannya dari media-media pada umumnya.

Atas kerinduan itulah, buku Lejong ke Labuan Bajo ini ditulis.

Dalam memulai penggarapan buku ini, Efrata banyak berkonsultasi dengan editor yang juga jurnalis senior Komar N Kilalawang (Alm), sosok yang mulai dikenalnya saat mendapatkan pelatihan dari LSPP (Lembaga Study Pers dan Pembangunan) di Makassar tahun 2010 silam.

“Jika tidak ada beliau, mungkin buku ini tidak akan ada. Beliau ini yang mendorong dan selalu mendengarkan keluh kesah saat saya merasa ragu,” demikian kisah Efrata, mengingat kenangannya bersama sang editor yang telah mengadap Sang Pencipta beberapa bulan lalu, tepat saat buku ini hendak naik cetak.

“Satu pesan beliau yang akan saya pegang adalah: jika kamu ragu, ingatlah patokannya adalah bahwa tulisanmu harus memihak kepada kehidupan,” kenangnya.

Maka, sejalan dengan pesan tersebut, Buku Lejong ke Labuan Bajo lebih banyak menulis tentang cerita masyarakat setempat yang masih hidup dalam kesederhanaan.

Ada kisah keluarga Suciati yang menempati rumah panggung. Juga anak-anak SD dengan cita-cita yang setinggi langit, meski fasilitas belajar minim dan berdampingan dengan sapi-sapi sekitar.

Hampiri pula uniknya warga di Pulau Rinca yang berdampingan dengan Komodo.

Dari Labuan Bajo ini, penulis juga ingin agar pembaca bukunya bisa belajar untuk hidup dalam damai, meski meyakini dan menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda.

“Kisah tentang keindahan alam Labuan Bajo juga ada, tapi sangat sedikit porsinya,” kata Efrata. 

Lanjutnya, hal tersebut karena sudah banyak media-media yang membahas tentang hal itu. 

Sementara, belum banyak yang mendokumentasikan kearifan lokal yang ada pada masyarakat.

Padahal, bagi Efrata, hal tersebut sama penting dan seharusnya mendapat porsi yang sama untuk sama-sama diperhatikan.

Semoga dengan acara Bedah Buku ini, buku Lejong ke Labuan Bajo bisa lebih dikenal oleh masyarakat.

Sehingga, makin banyak yang mengenal Labuan Bajo tidak saja dari keindahan alamnya, tapi juga dari keunikan masyarakatnya.

“Terakhir secara pribadi, selain kepada para pihak yang sudah membantu dalam pelibatan pembuatan buku, selaku penulis, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada para sponsor yang mendukung acara ini yaitu Kuliden Kitchen & Space dan Yayasan Dhyana Pura,”tukas Tata_panggilan akrab Ketut Efrata.

(rb/pra/pra/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia