alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Kendala Beternak Tikus itu Kanibal Bila Belum Diberi Makan 

Wayan Sudarma tetap menekuni peternakan tikus meski omzetnya merosot. Sebab, tidak banyak kendala berarti. Kecuali, tikus jadi kanibal bila belum diberi makan.  

___

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

___ 

SEBELUM pandemi  Covid-19 melanda, income bersih yang diperoleh Wayan Sudarma bisa mencapai Rp 2-3 juta. Itu dia dapat dari penjualan 40-50 ekor dalam.

 

“Sejak pandemi, syukur dapat Rp 20 ribu sehari. Itu pun masih bruto,” terangnya. 

 

 

Bahkan, saat koran ini tiba di lokasi ternak, dia belum memperoleh garus. “Astungkara belum ada, Pak,” ujarnya sambil berkelakar.

 

Penurunan omzet mencapai 80 persen. Semenjak pandemi, biasanya mahasiswa beli untuk penelitian. Ada bedah perut, mulut dan sebagainya.  

 

“Sekarang kan mahasiswa mungkin belum boleh belajar tatap muka,” terangnya. Apabila digunakan penelitian, tikus jantan lebih dipilih. “Karena stamina jantan lebih kuat. Kan ini untuk diteliti,” jelasnya.

 

Selain itu, dulu, sejumlah kebun binatang (zoo) di Bali menjadi langganannya. “Sekarang kebun binatang ada yang tutup. Mereka kasih makan ularnya pakai kepala ayam,” jelasnya.

 

Diakui, kepala ayam lebih murah dibanding tikus. Kepala ayam Rp 10 ribu dapat sekilo, lumayan ngirit. “Cuma berpengaruh sama warna kulit ular,” bebernya.

 

 

Meski omzetnya menurun, namun Sudarma tetap semangat memelihara ribuan ekor tikus. Yakni mengganti alas sekam setiap tiga hari sekali. “Untuk sekam saya beli dari petani Rp 10 ribu per karung besar tiap tiga hari,” jelasnya.

 

 

Sedangkan, untuk pakannya, sebulan menghabiskan satu karung pakan babi. Juga diselingi nasi, pepaya dan kangkung. “Kalau air disediakan tiap hari. Ini pakan organik saya rasa buah yang saya berikan sama khasiatnya dengan vitamin,” jelasnya.

 

Sudarma menerangkan, saat musim hujan seperti ini, tikus bisa beranak hingga 10 ekor sehari. “Kalau musim panas paling banyak lima ekor. Pernah tikus sampai langka karena kemarau panjang,” jelasnya.

 

Kendala lain selama pemeliharaan adalah tikus punya sifat kanibal. “Induk bisa makan anaknya sendiri. Kalau pas saya sibuk acara adat. Tikus belum makan, anaknya bisa dimakan atau saling makan,” bebernya.

 

 

Selama pandemi ini, Sudarma juga tak kalah akal dalam pemasaran. Dia mendiskon tikus Rp 2000 dibanding harga di pasar hewan. “Saya juga menyasar komunitas reptil. Ada yang dari Tabanan nyari ke sini. Saya kasih diskon dua ribu per ekor. Untuk bensin,” jelasnya.

 

 

Menurutnya, tikus peliharannya itu bisa sebagai pakan ular, biawak, dan burung hantu. Hanya saja, reptil dan burung tidak terus menerus diberi pakan tikus.

 

“Kalau untuk binatang ini kan selingan saja. Seminggu-dua minggu, maklum ular nggak makan tiap hari makan. Yang punya burung hantu juga diselingi ayam atau telur puyuh,” jelasnya.

 

 

Ditanya soal bayi tikus yang dicampur arak, Sudarma tidak menganjurkan. “Saya dengar ini untuk sakit asma. Ada juga yang dicampur arak. Cuma saya tidak menganjurkan,” pungkasnya. (Habis)

Baca juga >>>>>> Dulu Bisa Ternak Tikus sampai 2.500-an Ekor, Kini 1.000-an Saja



Wayan Sudarma tetap menekuni peternakan tikus meski omzetnya merosot. Sebab, tidak banyak kendala berarti. Kecuali, tikus jadi kanibal bila belum diberi makan.  

___

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

___ 

SEBELUM pandemi  Covid-19 melanda, income bersih yang diperoleh Wayan Sudarma bisa mencapai Rp 2-3 juta. Itu dia dapat dari penjualan 40-50 ekor dalam.

 

“Sejak pandemi, syukur dapat Rp 20 ribu sehari. Itu pun masih bruto,” terangnya. 

 

 

Bahkan, saat koran ini tiba di lokasi ternak, dia belum memperoleh garus. “Astungkara belum ada, Pak,” ujarnya sambil berkelakar.

 

Penurunan omzet mencapai 80 persen. Semenjak pandemi, biasanya mahasiswa beli untuk penelitian. Ada bedah perut, mulut dan sebagainya.  

 

“Sekarang kan mahasiswa mungkin belum boleh belajar tatap muka,” terangnya. Apabila digunakan penelitian, tikus jantan lebih dipilih. “Karena stamina jantan lebih kuat. Kan ini untuk diteliti,” jelasnya.

 

Selain itu, dulu, sejumlah kebun binatang (zoo) di Bali menjadi langganannya. “Sekarang kebun binatang ada yang tutup. Mereka kasih makan ularnya pakai kepala ayam,” jelasnya.

 

Diakui, kepala ayam lebih murah dibanding tikus. Kepala ayam Rp 10 ribu dapat sekilo, lumayan ngirit. “Cuma berpengaruh sama warna kulit ular,” bebernya.

 

 

Meski omzetnya menurun, namun Sudarma tetap semangat memelihara ribuan ekor tikus. Yakni mengganti alas sekam setiap tiga hari sekali. “Untuk sekam saya beli dari petani Rp 10 ribu per karung besar tiap tiga hari,” jelasnya.

 

 

Sedangkan, untuk pakannya, sebulan menghabiskan satu karung pakan babi. Juga diselingi nasi, pepaya dan kangkung. “Kalau air disediakan tiap hari. Ini pakan organik saya rasa buah yang saya berikan sama khasiatnya dengan vitamin,” jelasnya.

 

Sudarma menerangkan, saat musim hujan seperti ini, tikus bisa beranak hingga 10 ekor sehari. “Kalau musim panas paling banyak lima ekor. Pernah tikus sampai langka karena kemarau panjang,” jelasnya.

 

Kendala lain selama pemeliharaan adalah tikus punya sifat kanibal. “Induk bisa makan anaknya sendiri. Kalau pas saya sibuk acara adat. Tikus belum makan, anaknya bisa dimakan atau saling makan,” bebernya.

 

 

Selama pandemi ini, Sudarma juga tak kalah akal dalam pemasaran. Dia mendiskon tikus Rp 2000 dibanding harga di pasar hewan. “Saya juga menyasar komunitas reptil. Ada yang dari Tabanan nyari ke sini. Saya kasih diskon dua ribu per ekor. Untuk bensin,” jelasnya.

 

 

Menurutnya, tikus peliharannya itu bisa sebagai pakan ular, biawak, dan burung hantu. Hanya saja, reptil dan burung tidak terus menerus diberi pakan tikus.

 

“Kalau untuk binatang ini kan selingan saja. Seminggu-dua minggu, maklum ular nggak makan tiap hari makan. Yang punya burung hantu juga diselingi ayam atau telur puyuh,” jelasnya.

 

 

Ditanya soal bayi tikus yang dicampur arak, Sudarma tidak menganjurkan. “Saya dengar ini untuk sakit asma. Ada juga yang dicampur arak. Cuma saya tidak menganjurkan,” pungkasnya. (Habis)

Baca juga >>>>>> Dulu Bisa Ternak Tikus sampai 2.500-an Ekor, Kini 1.000-an Saja



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/