alexametrics
28.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Cerita yang Tersisa dari Angkringan Festival 2022

“Kerasukan”, Bassis AA Rock n Roll Banting Gitar Bass hingga Patah

Angkringan Festival telah berakhir pada Minggu (12/6) lalu. Namun ajang konser tersebut masih menyisakan sejumlah ceritanya. Salah satunya dari penampilan band AA Rock n Roll. Terlebih setelah video penampilan mereka tersebar di media sosial pada Selasa (14/6) malam. Seperti apa ceritanya?

Eka Prasetya, Buleleng

KUINTET rock and roll asal Singaraja itu, terlihat benar-benar bersemangat. Terakhir mereka tampil dalam sebuah acara di Krisna Beachstreet pada Desember 2021 lalu. Setelah lima bulan menyepi, mereka kembali berkumpul di panggung yang sama.

 

Band ini mendapat kesempatan menjadi line up pada acara Angkringan Festival. Namun hanya tiga orang personel saja yang naik panggung. Mereka adalah John Djerink (gitar dan bokal), Surya Merta alias Kotak (bass), dan Agus PW (drum).

 

Ketiganya juga menggandeng Deika Putra sebagai additional gitar. Saat naik panggung, mereka membawakan enam buah lagu. Yakni dua buah lagu milik The S.I.G.I.T. yang berjudul Black Amplifier dan Damn Woman. Sedangkan empat lagu lainnya adalah ciptaan sendiri. Yakni Moral Infection, Let’s Rock n Roll, Out Your Way, dan #Nation.

 

Saat memain lagu #Nation, momen emosional itu terjadi. John Djerink, Agus PW, dan Kotak terlihat melakukan improvisasi. Terutama pada bagian akhir lagu. John beberapa kali membenturkan leher gitarnya pada simbal yang digebuk Agus PW.

 

Memang #Nation menjadi lagu yang sangat emosional bagi kuintet ini. Sebab lagu tersebut mengajak pendengarnya menekan ego sekaligus menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah dikotomi mayoritas-minoritas yang makin runcing.

 

Ketika lagu berakhir, Kotak melemparkan gitar bass miliknya. Bahkan kepala bass langsung patah karena membentur lantai panggung di Gedung Kesenian Gde Manik. Padahal gitar bass dengan merk Squire itu merupakan bass pertama dan satu-satunya yang dimiliki Kotak. Sekaligus menjadi gitar kesayangan sang pemain bass.

 

Itu merupakan kedua kalinya Kotak melempar gitarnya selama bermusik dengan AA Rock n Roll. Saat bermusik pada acara Road to Soundrenaline di Boshe Bali pada 2011 silam, ia juga sempat melakukan hal serupa. Namun saat itu gitar bass-nya tidak sampai rusak.

 

Vokalis AA Rock n Roll, John Djerink mengungkapkan, momen pada Angkringan Fest itu terjadi begitu saja. Ia menyebut momen itu sebagai “orgasme saat bermusik”. Para personel pun baru sadar bila Kotak melemparkan gitar miliknya, setelah mereka turun dari panggung. “Saya sendiri baru lihat detail momen-momen itu semalam,” kata Djerink.

 

Menurutnya momen itu memang dilakukan Kotak, karena sang pemain bass merasa puas dengan suasana di panggung. Baik dari sound system maupun kehadiran penonton. Terlebih Kotak baru sampai di tanah air pada akhir Mei lalu. Sejak awal 2019, ia telah merantau sebagai petani di Selandia Baru.

 

Konon selama di Selandia Baru, sang pemain bass tak banyak terlibat dengan aktivitas musik. Baik dengan sesama pekerja pertanian maupun dengan diaspora Indonesia yang ada di Selandia Baru.

 

Sebelum naik panggung, Kotak disebut merawat kembali gitar bass yang tersimpan di lemari. Maklum sudah 2 tahun lebih bass kesayangannya tak pernah tersentuh. Saat Angkringan Fest, gitar bass itu ia boyong ke atas panggung.

 

“Itu panggung pertama dia setelah merantau ke Selandia Baru. Memang kami merasa saat itu suasananya benar-benar dapat. Sehingga jadi momen emosional bagi kami. Dan setelah kejadian itu, dia sama sekali tidak menyesal. Pas di belakang panggung, ya itu jadi joke kami biar dia cepat punya bass baru,” tuturnya.

 

Lebih lanjut John menuturkan, meski sudah lama tidak bermain dalam formasi lengkap, mereka masih menemukan vibrasi yang sama sejak awal berdiri 13 tahun silam. Bahkan semakin lama vibrasi itu semakin bergairah.

 

“Mungkin karena selama ini kami bermain sesuai dengan semangat sendiri, berekspresi di atas panggung tanpa beban, akhirnya vibrasi itu terus tumbuh. Memang kami tidak perfeksionis saat di panggung, tapi bagi kami yang paling penting adalah bisa bermain dengan lepas,” demikian John Djerink.(*)

 

 



Angkringan Festival telah berakhir pada Minggu (12/6) lalu. Namun ajang konser tersebut masih menyisakan sejumlah ceritanya. Salah satunya dari penampilan band AA Rock n Roll. Terlebih setelah video penampilan mereka tersebar di media sosial pada Selasa (14/6) malam. Seperti apa ceritanya?

Eka Prasetya, Buleleng

KUINTET rock and roll asal Singaraja itu, terlihat benar-benar bersemangat. Terakhir mereka tampil dalam sebuah acara di Krisna Beachstreet pada Desember 2021 lalu. Setelah lima bulan menyepi, mereka kembali berkumpul di panggung yang sama.

 

Band ini mendapat kesempatan menjadi line up pada acara Angkringan Festival. Namun hanya tiga orang personel saja yang naik panggung. Mereka adalah John Djerink (gitar dan bokal), Surya Merta alias Kotak (bass), dan Agus PW (drum).

 

Ketiganya juga menggandeng Deika Putra sebagai additional gitar. Saat naik panggung, mereka membawakan enam buah lagu. Yakni dua buah lagu milik The S.I.G.I.T. yang berjudul Black Amplifier dan Damn Woman. Sedangkan empat lagu lainnya adalah ciptaan sendiri. Yakni Moral Infection, Let’s Rock n Roll, Out Your Way, dan #Nation.

 

Saat memain lagu #Nation, momen emosional itu terjadi. John Djerink, Agus PW, dan Kotak terlihat melakukan improvisasi. Terutama pada bagian akhir lagu. John beberapa kali membenturkan leher gitarnya pada simbal yang digebuk Agus PW.

 

Memang #Nation menjadi lagu yang sangat emosional bagi kuintet ini. Sebab lagu tersebut mengajak pendengarnya menekan ego sekaligus menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah dikotomi mayoritas-minoritas yang makin runcing.

 

Ketika lagu berakhir, Kotak melemparkan gitar bass miliknya. Bahkan kepala bass langsung patah karena membentur lantai panggung di Gedung Kesenian Gde Manik. Padahal gitar bass dengan merk Squire itu merupakan bass pertama dan satu-satunya yang dimiliki Kotak. Sekaligus menjadi gitar kesayangan sang pemain bass.

 

Itu merupakan kedua kalinya Kotak melempar gitarnya selama bermusik dengan AA Rock n Roll. Saat bermusik pada acara Road to Soundrenaline di Boshe Bali pada 2011 silam, ia juga sempat melakukan hal serupa. Namun saat itu gitar bass-nya tidak sampai rusak.

 

Vokalis AA Rock n Roll, John Djerink mengungkapkan, momen pada Angkringan Fest itu terjadi begitu saja. Ia menyebut momen itu sebagai “orgasme saat bermusik”. Para personel pun baru sadar bila Kotak melemparkan gitar miliknya, setelah mereka turun dari panggung. “Saya sendiri baru lihat detail momen-momen itu semalam,” kata Djerink.

 

Menurutnya momen itu memang dilakukan Kotak, karena sang pemain bass merasa puas dengan suasana di panggung. Baik dari sound system maupun kehadiran penonton. Terlebih Kotak baru sampai di tanah air pada akhir Mei lalu. Sejak awal 2019, ia telah merantau sebagai petani di Selandia Baru.

 

Konon selama di Selandia Baru, sang pemain bass tak banyak terlibat dengan aktivitas musik. Baik dengan sesama pekerja pertanian maupun dengan diaspora Indonesia yang ada di Selandia Baru.

 

Sebelum naik panggung, Kotak disebut merawat kembali gitar bass yang tersimpan di lemari. Maklum sudah 2 tahun lebih bass kesayangannya tak pernah tersentuh. Saat Angkringan Fest, gitar bass itu ia boyong ke atas panggung.

 

“Itu panggung pertama dia setelah merantau ke Selandia Baru. Memang kami merasa saat itu suasananya benar-benar dapat. Sehingga jadi momen emosional bagi kami. Dan setelah kejadian itu, dia sama sekali tidak menyesal. Pas di belakang panggung, ya itu jadi joke kami biar dia cepat punya bass baru,” tuturnya.

 

Lebih lanjut John menuturkan, meski sudah lama tidak bermain dalam formasi lengkap, mereka masih menemukan vibrasi yang sama sejak awal berdiri 13 tahun silam. Bahkan semakin lama vibrasi itu semakin bergairah.

 

“Mungkin karena selama ini kami bermain sesuai dengan semangat sendiri, berekspresi di atas panggung tanpa beban, akhirnya vibrasi itu terus tumbuh. Memang kami tidak perfeksionis saat di panggung, tapi bagi kami yang paling penting adalah bisa bermain dengan lepas,” demikian John Djerink.(*)

 

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/