alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, October 6, 2022

Upaya Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt Kembangkan Produk Unggulan

Kelor Jadi Komoditas Unggulan, Bisa Diolah Jadi Teh hingga Kue

Desa Lokapaksa selama ini dikenal dengan sentra penghasil ternak kerbau. Kini lembaga pemerintahan di desa setempat tengah melirik potensi baru. Yakni mengolah kelor jadi produk unggulan. Seperti apa?

Eka Prasetya, Buleleng

KELOR. Apa yang tertanam di benak anda saat membaca kata tersebut? Hal yang paling mudah diingat, tentu saja sayur kelor. Makanan tersebut identik dengan masakan khas masyarakat Bali, meski tak semua orang mengonsumsi makanan itu.

Di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, kelor tak hanya diolah menjadi sayur. Tapi diolah menjadi komoditas yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Hal itu diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Tanaman kelor sebenarnya telah dikembangkan di desa tersebut sejak 2018 lalu. Saat itu lebih dari 600 batang bibit kelor ditanam di perkebunan serta halaman rumah warga. Proses penanaman itu dimotori Kelompok Tani Tri Hita Karana.

Baca Juga:  Bisnis Kopi Kian Gurih, Sayangnya Produksi Merosot karena Hujan Es

Seiring berjalannya waktu, tanaman-tanaman itu telah tumbuh besar. Biasanya daun kelor akan dijual ke warung-warung tradisional seharga Rp 3 ribu per ikat. Harga itu bisa naik menjadi Rp 5 ribu saat sampai di pasar tradisional.

Tak ingin sekadar jadi sayur mayur, kelompok tani setempat mengembangkan komoditas tersebut. Perbekel Lokapaksa Putu Dodik Tryana mengatakan, kelor-kelor itu diolah menjadi teh, tepung, hingga kue pia. Ternyata banyak masyarakat yang berminat dengan produk itu.

“Dari kelompok tani mengolah jadi teh dan tepung. Nah tepung itu jadi bahan dasar membuat kue, pengganti tepung beras. Akhirnya sekarang jadi komoditas unggulan. Kelompok tani menjual langsung lewat koperasi,” ungkap Dodik.

Baca Juga:  Prajuru yang Dipolisikan dan Warga Kena Kasepekang Berakhir Damai

Dodik mengungkapkan tanaman kelor yang dihasilkan terbilang unggul. Sebab daun yang tumbuh cukup lebar. Selain itu jumlahnya cukup banyak. Ia memperkirakan luas areal tanam sekurang-kurangnya mencapai 6 hektare yang meliputi dua dusun. Yakni Banjar Dinas Bukit Sari dan Banjar Dinas Kembang Sari.

Lebih lanjut Dodik mengungkapkan, saat ini masih tersisa sebuah pekerjaan rumah dalam pengembangan komoditas tersebut. Yakni mengoptimalkan pemanfaatan buah kelor. Buah yang tumbuh biasanya memiliki panjang 30 centimeter. Tapi di Desa Lokapaksa, buah itu bisa tumbuh hingga satu meter.

“Potensinya ada dan besar. Kami sudah kerjasama dengan Undiksha, untuk pengembangan pasar dan produk. Supaya bisa muncul produk-produk lain yang lebih variatif,” ujarnya. (*)

 

 



Desa Lokapaksa selama ini dikenal dengan sentra penghasil ternak kerbau. Kini lembaga pemerintahan di desa setempat tengah melirik potensi baru. Yakni mengolah kelor jadi produk unggulan. Seperti apa?

Eka Prasetya, Buleleng

KELOR. Apa yang tertanam di benak anda saat membaca kata tersebut? Hal yang paling mudah diingat, tentu saja sayur kelor. Makanan tersebut identik dengan masakan khas masyarakat Bali, meski tak semua orang mengonsumsi makanan itu.

Di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, kelor tak hanya diolah menjadi sayur. Tapi diolah menjadi komoditas yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Hal itu diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Tanaman kelor sebenarnya telah dikembangkan di desa tersebut sejak 2018 lalu. Saat itu lebih dari 600 batang bibit kelor ditanam di perkebunan serta halaman rumah warga. Proses penanaman itu dimotori Kelompok Tani Tri Hita Karana.

Baca Juga:  Kakak Gangguan Jiwa, Ibu Sakit, Rela Tak Menikah Demi Hidupi Keluarga

Seiring berjalannya waktu, tanaman-tanaman itu telah tumbuh besar. Biasanya daun kelor akan dijual ke warung-warung tradisional seharga Rp 3 ribu per ikat. Harga itu bisa naik menjadi Rp 5 ribu saat sampai di pasar tradisional.

Tak ingin sekadar jadi sayur mayur, kelompok tani setempat mengembangkan komoditas tersebut. Perbekel Lokapaksa Putu Dodik Tryana mengatakan, kelor-kelor itu diolah menjadi teh, tepung, hingga kue pia. Ternyata banyak masyarakat yang berminat dengan produk itu.

“Dari kelompok tani mengolah jadi teh dan tepung. Nah tepung itu jadi bahan dasar membuat kue, pengganti tepung beras. Akhirnya sekarang jadi komoditas unggulan. Kelompok tani menjual langsung lewat koperasi,” ungkap Dodik.

Baca Juga:  Bertahun-Tahun Rusak, Jalan di Desa Lokapaksa Akhirnya Diperbaiki

Dodik mengungkapkan tanaman kelor yang dihasilkan terbilang unggul. Sebab daun yang tumbuh cukup lebar. Selain itu jumlahnya cukup banyak. Ia memperkirakan luas areal tanam sekurang-kurangnya mencapai 6 hektare yang meliputi dua dusun. Yakni Banjar Dinas Bukit Sari dan Banjar Dinas Kembang Sari.

Lebih lanjut Dodik mengungkapkan, saat ini masih tersisa sebuah pekerjaan rumah dalam pengembangan komoditas tersebut. Yakni mengoptimalkan pemanfaatan buah kelor. Buah yang tumbuh biasanya memiliki panjang 30 centimeter. Tapi di Desa Lokapaksa, buah itu bisa tumbuh hingga satu meter.

“Potensinya ada dan besar. Kami sudah kerjasama dengan Undiksha, untuk pengembangan pasar dan produk. Supaya bisa muncul produk-produk lain yang lebih variatif,” ujarnya. (*)

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/