Selasa, 30 Nov 2021
Radar Bali
Home / Features
icon featured
Features
Melihat Pengungsi Eks Timtim di Buleleng (2)

Sampai di Bali, Ratusan KK Transmigran asal Bali Berstatus Pengungsi

17 Oktober 2021, 10: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Sampai di Bali, Ratusan KK Transmigran asal Bali Berstatus Pengungsi

Pengungsi eks Timtim masih di tanah hutan di Sumberklampok, Gerokgak, Buleleng. (EKA PRASETYA/ RADAR BALI)

Share this      

Ratusan KK transmigram asal Bali ini sudah 14 tahun menghuni Timtim. Awalnya, mereka berniat mengubah nasib di tanah bekas jajahan Portugis itu. Tapi apa mau dikata, Referendum yang menghasilkan Timtim lepas dari Indonesia membuyarkan mimpi mereka. Mereka pun pulang ke Bali, dengan status pengungsi.

EKA PRASETYA, Singaraja

Baca juga: Kaki Bengkak Sebesar Guling, Andalkan Non Medis karena Tak Ada Biaya

RATUSAN transmigran asal Bali ini akhirnya bisa keluar dari Timtim pasca-Referendum yang memenangkan prokemerdekaan. Di Kota Kupang, mereka harus menginap semalam di Bundaran PU.

Keesokan harinya, kenang Kisid, mereka diberangkatkan ke Bali melalui Pelabuhan Tenau, Kupang. Para transmigran itu harus terombang-ambing di laut selama 26 jam, hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Benoa.

Begitu menginjakkan kaki di Bali, para transmigran itu resmi berubah status menjadi Pengungsi Eks Timtim. Mereka kemudian dijemput oleh kepala daerah masing-masing. Mereka ditempatkan di Gedung Kesenian Gde Manik selama sepekan.

Nengah Kisid, masih ingat, saat itu Bupati Buleleng Ketut Wiratha Sindhu menginstruksikan para perbekel menjemput warganya. Hanya saja ada 107 kepala keluarga yang memilih bertahan. Mereka tak punya aset lagi di kampung halaman. Sehingga mereka memilih bertahan.

“Dari 107 kepala keluarga itu, sebanyak 46 keluarga berasal dari Kabupaten Karangasem, 2 keluarga dari Kabupaten Badung, dan 59 kepala keluarga lainnya berasal dari Kabupaten Buleleng,” beber lelaki berusia 58 tahun ini.

Pemerintah memutuskan memindahkan mereka ke lokasi transit di Desa Pemaron. Lokasi itu kini dimanfaatkan sebagi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng.

Selama setahun 107 kepala keluarga menghuni lokasi transit tanpa kepastian. Mereka akhirnya diungsikan ke Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, oleh pemerintah saat itu. (bersambung)

(rb/eps/yor/JPR)




 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia