alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Setiap Hari Raya Galungan Tabungan di Bank Sampah pun Cair

Memang, hasil menabung sampah di Bank Sampah ibu-ibu Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, tidak lah seberapa. Namun, mereka telah turut menyelamatan lingkungan dari kerusakan akibat sampah plastik.

 

MAULANA SANDIJAYA, Tabanan

 

DESA Bengkel terdiri dari empat banjar. Agar bank sampah ibu-ibu PKK Desa Bengkel bisa berjalan rutin, maka setiap banjar digilir menyetorkan sampahnya sebulan sekali.

 

Kebetulan Jumat lalu (18/6) giliran Banjar Bengkel Gede. Sampah kemudian ditimbang dan dijual lagi pada bank sampah induk yang menjemput ke lokasi. Selama tiga sampai empat jam inilah mereka berjibaku mengurus sampah.

 

Yang mencengangkan, sekali mengumpulkan sampah dalam sepekan, satu banjar bisa menghasilkan 600 kg sampah. Paling sedikit 300 kg sampah.

 

“Jika sebulan, berapa banyak sampah yang berhasil kami selamatkan. Bayangkan, jika sampah itu kita buang sembarangan di sungai. Sampahnya akan ke laut dan ke mana-mana,” tutur perempuan asli Buleleng itu.

Baca Juga:  Tertulis di Literatur, Tuyul Masuk Bali Tahun 1.400

 

Selain memilah sampah anorganik, sebagian warga Bengkel juga mengolah sampah organik menjadi maggot untuk dijadikan pakan ternak. Salah satu warga yang menekuni usaha maggot adalah kakak ipar Shanti.

 

Diakui Shanti, hal tersulit untuk membangun unit bank sampah adalah membangun kesadaran warga. Bukan perkara mudah untuk meyakinkan warga desa agar mau memilah sampah. Terlebih nilai ekonominya kecil.

 

Shanti masih ingat, lima bulan lalu saat memulai mengajak warga peduli sampah. Tidak semua warga merespons ajakannya tersebut. Shanti memiliki cara jitu untuk menggerakkan warga, yakni dimulai dari rumah tangganya sendiri.

 

“Saya di rumah bikin tempat sampah dari kampil untuk memilah sampah organik dan anorganik. Ternyata tidak sulit, kok. Setelah itu saya baru ajak warga mengikuti saya,” jelasnya.

Baca Juga:  Fraksi Golkar-Nasdem Tabanan Tak Ikut Campur Bila Jadi Temuan KPK

 

Meski demikian, sampai saat ini menurut Shanti masih ada segelintir warga yang cuek, membuang sampah sembarangan.

 

Tantangan lain yaitu merekrut tenaga untuk membentuk kepengurusan bank sampah. Shanti harus mencari orang yang ikhlas bekerja. Rela meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga sekitar lima jam sebulan sekali.

 

Kepengurusan bank sampah ini biasanya mendapat keuntungan dari penjualan sampah ke bank sampah induk. Namun, keuntugannya tidak banyak. Keuntungan per kilogram hanya berkisar Rp 100 – 200.

 

“Hasil penjualan sampah ini kami cairkan enam bulan sekali pas Hari Raya Galungan. Ya, lumayan, setiap KK ada yang dapat Rp 90 ribu, banyak juga yang lebih,” paparnya.    

 

Gerakan memilah sampah dari sumbernya di Desa Bengkel ini sudah mulai terlihat hasilnya. Pemandangan bersih, rapi, dan asri tersaji saat memasuki Desa Bengkel. (habis)

- Advertisement -

- Advertisement -

Memang, hasil menabung sampah di Bank Sampah ibu-ibu Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, tidak lah seberapa. Namun, mereka telah turut menyelamatan lingkungan dari kerusakan akibat sampah plastik.

 

MAULANA SANDIJAYA, Tabanan


 

DESA Bengkel terdiri dari empat banjar. Agar bank sampah ibu-ibu PKK Desa Bengkel bisa berjalan rutin, maka setiap banjar digilir menyetorkan sampahnya sebulan sekali.

 

Kebetulan Jumat lalu (18/6) giliran Banjar Bengkel Gede. Sampah kemudian ditimbang dan dijual lagi pada bank sampah induk yang menjemput ke lokasi. Selama tiga sampai empat jam inilah mereka berjibaku mengurus sampah.

 

Yang mencengangkan, sekali mengumpulkan sampah dalam sepekan, satu banjar bisa menghasilkan 600 kg sampah. Paling sedikit 300 kg sampah.

 

“Jika sebulan, berapa banyak sampah yang berhasil kami selamatkan. Bayangkan, jika sampah itu kita buang sembarangan di sungai. Sampahnya akan ke laut dan ke mana-mana,” tutur perempuan asli Buleleng itu.

Baca Juga:  Anggaran Distop, Tabanan Sisir APBD untuk Biaya Karantina di Hotel

 

Selain memilah sampah anorganik, sebagian warga Bengkel juga mengolah sampah organik menjadi maggot untuk dijadikan pakan ternak. Salah satu warga yang menekuni usaha maggot adalah kakak ipar Shanti.

 

Diakui Shanti, hal tersulit untuk membangun unit bank sampah adalah membangun kesadaran warga. Bukan perkara mudah untuk meyakinkan warga desa agar mau memilah sampah. Terlebih nilai ekonominya kecil.

 

Shanti masih ingat, lima bulan lalu saat memulai mengajak warga peduli sampah. Tidak semua warga merespons ajakannya tersebut. Shanti memiliki cara jitu untuk menggerakkan warga, yakni dimulai dari rumah tangganya sendiri.

 

“Saya di rumah bikin tempat sampah dari kampil untuk memilah sampah organik dan anorganik. Ternyata tidak sulit, kok. Setelah itu saya baru ajak warga mengikuti saya,” jelasnya.

Baca Juga:  92 Persen Bank Sampah di Badung Mati Suri, Begini Langkah DLHK Badung

 

Meski demikian, sampai saat ini menurut Shanti masih ada segelintir warga yang cuek, membuang sampah sembarangan.

 

Tantangan lain yaitu merekrut tenaga untuk membentuk kepengurusan bank sampah. Shanti harus mencari orang yang ikhlas bekerja. Rela meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga sekitar lima jam sebulan sekali.

 

Kepengurusan bank sampah ini biasanya mendapat keuntungan dari penjualan sampah ke bank sampah induk. Namun, keuntugannya tidak banyak. Keuntungan per kilogram hanya berkisar Rp 100 – 200.

 

“Hasil penjualan sampah ini kami cairkan enam bulan sekali pas Hari Raya Galungan. Ya, lumayan, setiap KK ada yang dapat Rp 90 ribu, banyak juga yang lebih,” paparnya.    

 

Gerakan memilah sampah dari sumbernya di Desa Bengkel ini sudah mulai terlihat hasilnya. Pemandangan bersih, rapi, dan asri tersaji saat memasuki Desa Bengkel. (habis)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/