Kamis, 02 Dec 2021
Radar Bali
Home / Features
icon featured
Features
Budi Daya Lele dengan Bioflok di Penebel

Bioflok Berdiameter 3 Meter Bisa Tampung 3.000 Ekor Lele

24 September 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Bioflok Berdiameter 3 Meter Bisa Tampung 3.000 Ekor Lele

Budidaya ikan lele dengan metode bioflok yang dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Darma Bakti, Desa Riang Gede, Penebel, Tabanan. (IST)

Share this      

TABANAN – Beternak ikan lele kini tak perlu ribet dan membutuhkan lahan atau kolam yang luas. Tentu saja ada metode baru untuk mengmbangkan budidaya ikan air tawar tersebut. Salah satu dengan metode bioflok.

Budidaya ikan lele dengan metode bioflok inilah yang kini dikembangkan oleh Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Darma Bakti, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Lele termasuk ikan air tawar yang masih menjadi lauk favoritnya masyarakat Indonesia. Peternak ikan air tawar pun sampai banyak yang beternak lele. Namun bagi yang lahannya terbatas tentu bingung untuk memulai bisnis lele di lahan terbatas.

Baca juga: Sasar Penghobi Ikan Hias, Warga Didorong Budidaya Koi Dimasa Pandemi

Ada teknik yang namanya sistem bioflok. Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Darma Bakti, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Menariknya lagi dari budidaya ikan lele metode bioflok ini selain kolam ikan lebih bersih juga tak bau amis. Kemudian bentuk kolamnya pun berbeda biasanya kotak, namun ini bulat (silinder).

Ketua Pokdakan Mina Darma Bakti, Made Saka Putra mengaku Pokdakan Mina Darma Bakti baru beralih beternak ikan lele dengan metode bioflok ada sekitar dua tahun yang lalu.

Sebelumnya memang sudah lebih dulu memelihara ikan air tawar seperti lele, nila, dan karper. Akan tetapi pemeliharaannya secara konvensional. Yakni teknik mina padi kolam atau kolam biasa.

Beralihnya ke budidaya dengan metode bioflok setelah mereka mendapatkan bantuan anggaran sebesar Rp 166 juta lebih dari Kementerian Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Jadi tahun 2021 ini kami dapat anggaran berupa sarana dan prasarananya untuk budidaya ikan air tawar. Kemudian dari bantuan ini Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkenalkan bioflok.

“Kami tertarik dan membuat delapan kolam pemeliharaan ikan lele lewat sistem bioflok," terang Made Saka Putra, Kamis (23/9).

Menurutnya banyak kemudahan yang ia dapat setelah beternak ikan lele dengan metode bioflok. Di antaranya pemeliharaan ikan lebih praktis, artinya tidak memakan tempat yang banyak. Selanjutnya penghematan dari sisi biaya.

Sistem bioflok adalah sistem pemeliharaan ikan lele yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme atau bakteri pembentuk gumpalan sehingga bisa menghasilkan pakan untuk ternak lele itu sendiri.

“Cara ini akan menghemat biaya sekaligus menambah konsumsi pakan lele,” sebutnya.

Melakukan budidaya ikan lele dengan teknik bioflok caranya harus menyiapkan kolam terlebih dahulu. Dengan ukuran kolam diameter tiga meter yang dapat menampung sekitar 3.000 ekor lele.

Ternak lele dengan sistem bioflok umumnya menggunakan kolam bulat yang terbuat dari terpal.

Lalu di bagian dasar kolam, dipasang pipa sebagai jalan keluar kotoran lele yang mengendap. Kotoran ini nantinya akan dikeluarkan melalui pipa, dan nantinya bisa digunakan sebagai pupuk organik serta sumber pakan bagi lele tersebut.

“Nah untuk ketinggian air idealnya adalah 80 centimeter sampai 100 centimeter. Selain itu kolam kami juga lengkapi dengan aerator. Agar tak perlu pusing menguras kotoran didalam kolam,” bebernya.

Disinggung mengenai penjualan ikan lele yang ia ternak dengan metode bioflok, Made Saka mengakui dampak dari pandemi Covid-19 memang sangat terasa. Namun permintaan ikan lele masih tetap ada, meski tidak seramai sebelum adanya wabah Covid-19.

Kini dari delapan kolam yang menggunakan sistem bioflok tersebut bisa mendapatkan sekitar tiga ton ekor lele setiap kali panen. Dengan pemeliharaan ikan sekitar 3-4 bulan. Ikan lele dijual per kilogram, bukan per ekor.

"Kami jual ke pengepul. Saat ini harga ikan lele di petani sebesar Rp 17 ribu per kilogram," ungkapnya.

(rb/jul/yor/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia