30.4 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

Uniknya Upacara Ngusaba Desa, Desa Adat Banyuning,Khas Nyepi Desa

Tradisi ini memang beda, Ini khas Desa Adat Banyuning.  Di sini ada upacara ngusaba desa. Puncak dari ngusaba desa akan jatuh pada purnama kanem. Sesuai dresta, ada upacara pecaruan yang harus dilaksanakan.

SEJUMLAH pecalang berjaga dari simpang empat Jalan Pulau Komodo hingga di sisi timur Pura Desa Banyuning. Mereka tengah sibuk mengatur lalu lintas. Sebab sebagian badan jalan digunakan sebagai lokasi upacara pecaruan.

Rabu (23/11) sore, Desa Adat Banyuning menggelar upacara pecaruan desa. Upacara itu digelar bertepatan dengan tilem sasih kalima pada rahina buda pon tolu. Pecaruan merupakan bagian dari ngusaba desa di Desa Adat Banyuning. Upacara ngusaba desa sendiri akan mencapai puncaknya pada purnama kaenem yang jatuh pada rahina wraspati pon wariga, Kamis (8/12) mendatang.

Bendesa Adat Banyuning Wayan Suweta mengungkapkan sebelum upacara ngusaba desa wajib dilaksanakan pecaruan desa. Sarana yang digunakan pun beda dengan pecaruan biasa. Sesuai dresta, Desa Adat Banyuning menggunakan angsa, kuluk bang bungkem, sapi, kambing, dan babi sebagai sarana pecaruan.

“Kami juga tidak tahu apakah ini masuk tingkatan manca kelud atau balik sumpah. Kami belum dapatkan. Kami hanya menyebut ini pecaruan desa,” ujar Suweta.

Baca Juga:  Orang Tua Deg-degan, Berharap Setelah Vaksinasi Bisa Belajar Normal

Setelah pecaruan desa, maka akan dilanjutkan dengan nyepi desa yang jatuh pada Kamis (24/11). Prosesi nyepi desa itu hanya mengikat bagi krama Desa Adat Banyuning. Prosesinya pun serupa. Yakni amati karya, amati geni, amati lelungaan, dan amati lelanguan.

“Hanya bedanya kami tidak bisa menutup jalan raya. Karena akses jalan di desa kami ini sangat vital, dan tidak ada jalur alternatif lain,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kelurahan Banyuning, Nyoman suardika mengungkapkan, pecaruan bermakna membersihkan bhuana agung dan bhuana alit.

Bila mengacu pada sastra, pecaruan seharusnya dilakukan di catus pata desa adat. Tapi menurut dresta di Desa Adat Banyuning, pecaruan dilakukan di depan pura desa.

Baca Juga:  Tanam Mangrove di Pantai Pidada, Berharap Bisa Tanggulangi Abrasi

Demikian pula dengan nama sarana pecaruan. Hingga kini belum ditemukan di dalam sastra agama. “Ada purwa dresta yang dijalankan turun temurun tanpa tertulis. Seperti disini nama carunya kita nggak tahu karena itu bagian dari purwa dresta. Ada juga dresta mawa cara, yang artinya hanya berlaku di satu desa. Seperti yang dilakukan di Desa Adat Banyuning dalam upacara ngusaba desa, jelas bagian dari dresta,” tegasnya. (eka prasetya)

 



Tradisi ini memang beda, Ini khas Desa Adat Banyuning.  Di sini ada upacara ngusaba desa. Puncak dari ngusaba desa akan jatuh pada purnama kanem. Sesuai dresta, ada upacara pecaruan yang harus dilaksanakan.

SEJUMLAH pecalang berjaga dari simpang empat Jalan Pulau Komodo hingga di sisi timur Pura Desa Banyuning. Mereka tengah sibuk mengatur lalu lintas. Sebab sebagian badan jalan digunakan sebagai lokasi upacara pecaruan.

Rabu (23/11) sore, Desa Adat Banyuning menggelar upacara pecaruan desa. Upacara itu digelar bertepatan dengan tilem sasih kalima pada rahina buda pon tolu. Pecaruan merupakan bagian dari ngusaba desa di Desa Adat Banyuning. Upacara ngusaba desa sendiri akan mencapai puncaknya pada purnama kaenem yang jatuh pada rahina wraspati pon wariga, Kamis (8/12) mendatang.

Bendesa Adat Banyuning Wayan Suweta mengungkapkan sebelum upacara ngusaba desa wajib dilaksanakan pecaruan desa. Sarana yang digunakan pun beda dengan pecaruan biasa. Sesuai dresta, Desa Adat Banyuning menggunakan angsa, kuluk bang bungkem, sapi, kambing, dan babi sebagai sarana pecaruan.

“Kami juga tidak tahu apakah ini masuk tingkatan manca kelud atau balik sumpah. Kami belum dapatkan. Kami hanya menyebut ini pecaruan desa,” ujar Suweta.

Baca Juga:  HIV/AIDS di Jembrana Meningkat, Diskriminasi ODHA Masih Ada

Setelah pecaruan desa, maka akan dilanjutkan dengan nyepi desa yang jatuh pada Kamis (24/11). Prosesi nyepi desa itu hanya mengikat bagi krama Desa Adat Banyuning. Prosesinya pun serupa. Yakni amati karya, amati geni, amati lelungaan, dan amati lelanguan.

“Hanya bedanya kami tidak bisa menutup jalan raya. Karena akses jalan di desa kami ini sangat vital, dan tidak ada jalur alternatif lain,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kelurahan Banyuning, Nyoman suardika mengungkapkan, pecaruan bermakna membersihkan bhuana agung dan bhuana alit.

Bila mengacu pada sastra, pecaruan seharusnya dilakukan di catus pata desa adat. Tapi menurut dresta di Desa Adat Banyuning, pecaruan dilakukan di depan pura desa.

Baca Juga:  Tanam Mangrove di Pantai Pidada, Berharap Bisa Tanggulangi Abrasi

Demikian pula dengan nama sarana pecaruan. Hingga kini belum ditemukan di dalam sastra agama. “Ada purwa dresta yang dijalankan turun temurun tanpa tertulis. Seperti disini nama carunya kita nggak tahu karena itu bagian dari purwa dresta. Ada juga dresta mawa cara, yang artinya hanya berlaku di satu desa. Seperti yang dilakukan di Desa Adat Banyuning dalam upacara ngusaba desa, jelas bagian dari dresta,” tegasnya. (eka prasetya)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/