Sejak Rabu (18/2/2026), masa Pra-Paskah resmi dimulai—sebuah perjalanan spiritual selama 40 hari untuk menempa batin, bertobat, dan mati raga sebelum merayakan fajar kebangkitan Yesus Kristus.
DI atas dahi setiap umat, seulas abu berwarna kelabu digoreskan. Sebuah simbol kuno yang menjadi lonceng pembuka bagi umat Katolik untuk memasuki masa "padang gurun".
Suasana khidmat yang terasa khas, kali ini. Karena tahun 2026 ini, suasana terasa sedikit berbeda. Masa puasa dan pantang umat Katolik hadir beriringan dengan bulan suci Ramadan bagi umat Islam.
Momentum ini seolah menjadi undangan semesta bagi semua insan untuk kembali menoleh ke dalam diri, mempertanyakan kembali kualitas iman yang sering kali tergerus hiruk-pikuk dunia.
Bukan Cuma Sekadar Menahan Lapar
Dalam tradisi Katolik, puasa memiliki aturan yang spesifik: makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Sementara pantang, adalah seni melepaskan kelekatan pada kesenangan duniawi—mulai dari daging, rokok, garam, gula, hingga hiburan.
Namun, bagi Pastor Yohanes Tanumiarja, SVD, atau yang akrab disapa Romo Yan, ritual ini jauh melampaui urusan perut.
"Mulai dengan Rabu Abu agar kita jangan jadi 'abu-abu'. Artinya, jangan sampai hidup kita hambar tanpa harapan akan kebangkitan," ujar Pastor Pembina Gereja Katolik KDMD tersebut dengan nada dalam.
Musuh Terbesar adalah Cermin Diri
Menurut Romo Yan, selama 40 hari ke depan, musuh utama yang harus dihadapi bukanlah setan yang kasat mata, melainkan egoisme yang bersemayam dalam diri. Sifat sombong dan angkuh sering kali membuat manusia merasa "cukup" tanpa Tuhan.
Di era teknologi yang serba canggih, godaan menjadi semakin halus. Romo Yan mengamati bagaimana manusia modern sering kali terjebak dalam sikap nggih-nggih saja—mengiyakan segala arus tanpa filter moral—sehingga tanpa sadar terjerumus ke dalam lingkaran dosa.
"Di situlah setan masuk, saat iman kurang dirawat. Kita terbius godaan duniawi yang nampaknya enak, padahal itu menjerumuskan," tambahnya.
Membiasakan Kebenaran
Masa Pra-Paskah adalah sebuah "kursus singkat" untuk mengubah pola hidup. Pesan sentralnya jelas: jangan lagi membenarkan kebiasaan yang salah, tetapi mulailah membiasakan kebenaran.
Umat diajak untuk berjalan mendekat kepada Allah dengan cara merendahkan diri serendah-rendahnya. Sebab, dalam teologi Kristiani, hanya mereka yang berani merendahkan diri dalam pertobatanlah yang akan diangkat setinggi-tingginya pada hari kemenangan nanti.
"Masih ada satu pintu yang terbuka untuk tidak terjebak dalam lingkaran setan dan tidak jauh dari Allah," pungkas Romo Yan dengan tegas. "Pintu itu adalah pertobatan."
Kini, di tengah kesunyian doa dan deru lapar yang sesekali menyapa, umat Katolik memulai langkah pertamanya. Bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk menemukan kembali martabat mereka sebagai manusia yang menang atas dosa dan maut.[*]
Editor : Hari Puspita