BERAS merah sudah cukup familiar di telinga masyarakat. Biasanya beras merah menjadi makanan untuk mencegah diabetes sekaligus mengontrol kolesterol. Banyak juga yang menggunakannya sebagai menu diet.
Kendati lebih sehat, beras merah belum lazim dikonsumsi. Harganya dianggap terlalu tinggi bila dibandingkan dengan beras biasa.
Lazimnya beras merah tentu saja diolah menjadi nasi. Namun tak demikian dengan I Wayan Subagia Arimbawa. Pria asal Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar itu mengolah beras merah menjadi produk minuman herbal hingga camilan.
Minuman herbal misalnya, diolah menjadi teh. Minuman itu cocok dikonsumsi rutin untuk mengontrol gula darah. Selain itu dia juga mengolah beras merah jadi produk berbentuk kerupuk. Kedua produk itu dinilai lebih sehat karena mengadung protein, vitamin, mineral, serta lemak tak jenuh.
Subagia menceritakan, ide membuat produk tersebut sebenarnya terlintas secara sederhana. Pada era yang serba cepat, masyarakat cenderung terburu-buru. Mereka tak sempat mengonsumsi makanan sehat.
“Jangankan buat nasi dengan bahan dasar beras merah, sarapan saja belum tentu sempat. Makanya saya terpikir bagaimana membuat produk yang praktis tapi sehat,” kata Subagia.
Ia berusaha mengolah sedemikian rupa beras merah hingga menjadi minuman herbal. Selain itu ia juga menyiapkan kudapan sehat berbentuk kerupuk. “Biasanya kalau kerja kan ada keinginan ngemil. Saya buatkan produk camilan yang sehat, ya kerupuk beras merah ini,” imbuhnya.
Produk-produk tersebut ia jual dengan harga beragam. Khusus produk minuman herbal dijual seharga Rp 25 ribu untuk di luar Buleleng, sementara di lokal Buleleng dijual seharga Rp 20 ribu. Sedangkan produk kerupuk beras merah dipasarkan seharga Rp 10 ribu di Buleleng dan Rp 15 ribu untuk luar kabupaten.
Dalam hal pemasaran, dia juga telah merambah loka pasar digital. Upaya itu cukup efektif. Produk-produk itu terjual ke kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Ia juga menggandeng salah satu agen pemasaran yang berbasis di Palangkaraya. Agen itu membantu produknya terjual hingga ke Timur Tengah, tepatnya di Dubai.
Untuk melakukan penetrasi pasar, dia berencana melengkapi perizinan yang dibutuhkan. Salah satu yang paling penting adalah label halal. “Perizinan sudah dilengkapi. Sekarang sedang dalam proses menunggu label halal. Dari Dinas Perdagangan sudah membantu proses pengurusan,” ujarnya.
Berkat kegigihannya Subagia mengaku berhasil mengantongi omzet sebesar Rp 5 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Dia pun masih berencana melakukan upaya modernisasi terhadap usahanya. Salah satunya dengan menggunakan mesin dalam proses pengemasan. Sehingga lebih cepat dan efisien. [eka prasetya/radar bali]
Editor : Hari Puspita