Eka Prasetya, Buleleng
UMAT yang bersembahyang di Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja, terlihat ramai. Mereka tengah mendengarkan ceramah dari khotib, usai melangsungkan salat Idul Fitri.
Usai ceramah, sejumlah pengurus masjid bergegas turun. Mereka menjemput Penglingsir Puri Buleleng, Anak Agung Ngurah Parwata Pandji dari kediamannya.
Tak lama kemudian, Parwata datang dengan mengenakan pakaian adat berwarna putih. Dia diiringi sang istri, Ni Putu Karnadhi yang juga bergelar Jro Mkele Dhyatmika, serta putranya, Anak Agung Ngurah Fajar.
Parwata Pandji dan putranya langsung menuju lantai atas masjid, bertemu dengan para sesepuh di Kelurahan Kampung Singaraja. Sementara Karnadhi bergabung dengan jemaah wanita di lantai bawah masjid.
Pagi itu, Sabtu (23/4), penglingsir puri dan tokoh umat muslim di Kampung Singaraja, duduk bersama. Sejajar dalam satu barisan yang sama. Mereka juga melakukan makan bersama, dari satu wadah makanan yang sama.
Tradisi makan bersama itu biasa dilaksanakan setiap hari raya Idul Fitri. Masyarakat setempat menyebutnya bancakan. Tradisi itu serupa dengan tradisi megibung atau makan bersama. Hal itu bermakna mempererat jalinan silaturahmi dan kebersamaan antara puri dengan umat.
Tokoh Kampung Singaraja, Muhammad Zein Usman mengungkapkan, tradisi itu telah berlangsung sejak lama. Setiap hari raya, umat menggelar tradisi bancakan dan selalu dihadiri tokoh puri.
Menurut Zein, keberadaan umat muslim di Kampung Singaraja tak lepas dari keterlibatan puri. Pada tahun 1587, tatkala Raja Buleleng I Gusti Anglurah Panji Sakti menaklukan Blambangan, ia membawa pengikut beragama muslim ke Buleleng. Pengikut itu salah satunya ditempatkan di Kelurahan Kampung Singaraja.
“Tempat tinggal dan masjid kami saat ini juga hadiah dari puri. Baru sekitar lima tahun ini jadi hak milik. Sebelumnya tanah kampung ini milik puri semua,” kata Zein.
Sementara itu Penglingsir Puri Buleleng Anak Agung Ngurah Parwata Pandji berharap jalinan silaturahmi antara puri dan umat dapat terus terjaga. Sebab hubungan itu telah terjalin selama berabad-abad.“Mudah-mudahan kerukunan ini bisa terus dilanjutkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Jangan sampai putus menyama braya,” pesan Parwata. (*) Editor : Donny Tabelak