WARNA-WARNI lukisan memakai cat akrilik di atas kanvas itu seakan reportase dari si pelukis yang bercerita lagi kepada pengunjung.
Di sisi lain, ada sejumlah patung memakai bahan dari fiber dan pelat besi. Patung ini menampilkan objek tunggal berupa wayang dengan potongan-potongan setiap figurnya.
Dalam penuturannya kepada Jawa Pos Radar Bali, Anak Agung Ngurah Paramartha menyampaikan patung yang ia buat lebih merepresentasikan tentang aspek kediriannya sebagai personal. "Ada dua patung yang berjudul It's Me dan I Don't Care. It's Me secara gestur berdecak pinggang dan pada judul I Don't Care menutup telinga," jelasnya.
Ngurah Paramartha tidak membataskan karya-karya pamerannya kali ini dengan tema spesifik, karena karya yang dihasilkan dari keterpikatannya atas tumpukan-tumpukan warna melahirkan image yang beragam. Namun, secara umum yang terlihat dari keberagaman tema yang dihadirkan Ngurah dalam setiap karyanya adalah aspek naratif yang begitu kuat dari visualnya.
Cerita-cerita pewayangan Mahabarata dan Ramayana dihadirkan dalam karyanya seperti yang berjudul; "Facing The Goddess of Fortune" menggambarkan sosok Dewi Sita dan Rahwana.
Juga ada kisah kepahlawanan dan pengorbanan Bisma dalam epos Mahabarata digambarkan dalam karya yang berjudul "The End of A Service". " Pada dua karya tersebut melihat interpretasi atas ikonografi atau kerap disebut pakem dikembangkan dan dipadukan dengan gaya visual naifis dan hamparan warna-warna yang saling tumpang tindih," tutur Pria yang lahir 14 Oktober 1974 ini.
Pria berambut gondrong ini juga menghadirkan artefak peninggalan Suku Maya dalam interpretasinya memiliki kedekatan visual dengan berbagai artefak arkeologi di beberapa wilayah di Nusantara. Seperti di Candi Cetho dan Sukuh.
Selain itu, ia juga menggambarkan dari narasi-narasi keseharian apa yang dirasakan dan dilihatnya. "Seperti lukisan judul lupa nama ingat rasa biasanya tulisan di belakang truk. Juga ada lukisan judul sering makan di warung babi guling, "imbuhnya.
Selama pameran mulai April sampai Akhir Mei ini, sudah ada lukisannya laku terjual. Pameran ini bertajuk Kadaut yang bermakna ketertarikan dan keterpikatan.
Dia berharap pameran ini tidak hanya menghadirkan pengalaman empirik Nurah dalam melukis, tetapi juga mampu menghadirkan perasaan kadaut bagi yang melihat serta mengapresiasi karyanya. [ni kadek novi febriani/radar bali]
Editor : Hari Puspita