Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Pameran Lukisan dan Patung Gung Paramartha:Bercerita tentang Pewayangan hingga Kisah Pribadi

Hari Puspita • Minggu, 30 April 2023 | 03:05 WIB
NAIF FIGURATIF: Lukisan karya Anak Agung Ngurah Paramartha dipamerkan di Santrian Art Gallery  selama satu bulan.(foto : ni kadek novi febriani/radar bali)
NAIF FIGURATIF: Lukisan karya Anak Agung Ngurah Paramartha dipamerkan di Santrian Art Gallery selama satu bulan.(foto : ni kadek novi febriani/radar bali)
Perupa Anak Agung Ngurah Paramartha, 48,  memamerkan 13 karya lukisannya di Santrian Art Gallery,  Sanur sejak 7 April hingga 31 Mei. Inspirasi karya-karya ini berasal dari  epos dan pengalaman-pengalaman empirisnya  dengan karakter lukisan naif figuratif. Tidak hanya karya lukisan juga ada tiga patung yang dipamerkan. 

WARNA-WARNI  lukisan memakai cat akrilik di atas kanvas itu seakan reportase  dari si pelukis yang bercerita lagi kepada pengunjung.

Di sisi lain, ada sejumlah patung memakai bahan dari fiber dan pelat besi. Patung ini menampilkan objek tunggal berupa wayang dengan potongan-potongan setiap figurnya.

Dalam penuturannya kepada  Jawa Pos Radar Bali, Anak Agung Ngurah Paramartha menyampaikan patung yang ia buat lebih merepresentasikan tentang aspek kediriannya sebagai personal. "Ada dua patung yang berjudul It's Me dan I Don't Care. It's Me secara gestur berdecak pinggang dan pada judul I Don't Care menutup telinga," jelasnya.

Ngurah Paramartha tidak membataskan karya-karya pamerannya kali ini dengan tema spesifik, karena karya yang dihasilkan dari keterpikatannya atas tumpukan-tumpukan warna melahirkan image  yang beragam. Namun, secara umum yang terlihat dari keberagaman tema yang dihadirkan Ngurah dalam setiap karyanya adalah aspek naratif yang begitu kuat dari visualnya.

Cerita-cerita pewayangan Mahabarata dan Ramayana dihadirkan dalam karyanya seperti yang berjudul; "Facing The Goddess of Fortune" menggambarkan sosok Dewi Sita dan Rahwana.

Juga ada kisah kepahlawanan dan pengorbanan Bisma dalam epos Mahabarata digambarkan dalam karya yang berjudul "The End of A Service". " Pada dua karya tersebut melihat interpretasi atas ikonografi atau kerap disebut pakem dikembangkan dan dipadukan dengan gaya visual naifis dan hamparan warna-warna yang saling tumpang tindih," tutur Pria yang lahir 14 Oktober 1974 ini.

Pria berambut gondrong ini juga menghadirkan artefak peninggalan Suku Maya dalam interpretasinya memiliki kedekatan visual dengan berbagai artefak arkeologi di beberapa wilayah di Nusantara. Seperti di Candi Cetho dan Sukuh.

Selain itu, ia juga menggambarkan dari narasi-narasi keseharian apa yang dirasakan dan dilihatnya. "Seperti lukisan judul  lupa nama ingat rasa biasanya tulisan di belakang truk. Juga ada lukisan judul  sering makan di warung babi guling, "imbuhnya.

Selama pameran mulai April sampai Akhir Mei ini,  sudah ada lukisannya laku terjual. Pameran ini bertajuk Kadaut yang bermakna ketertarikan dan keterpikatan.

Dia berharap pameran ini tidak hanya menghadirkan pengalaman empirik Nurah dalam melukis, tetapi juga mampu menghadirkan perasaan kadaut bagi yang melihat serta  mengapresiasi karyanya. [ni kadek novi febriani/radar bali]

  Editor : Hari Puspita
#Seni Rupa #Pameran Seni Rupa #Pameran tunggal #Gung Paramartha #pameran lukisan dan patung