alexametrics
26.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Rubrik Sastra Cetak “Berguguran”, Jengki: Ruang Online Menjanjikan

DENPASAR – Coronavirus disease alias Covid-19 memberikan pukulan telak bagi dunia sastra tanah air. Tak sedikit media massa mainstream yang mengurangi jumlah halaman untuk penghematan.

Dan, ruang atau rubrik sastra menjadi pilihan utama untuk dihilangkan karena tidak bisa dijual. Sebaliknya, justru menimbulkan pengeluaran lebih; honor sastrawan.

Karena corona, banyak sastrawan yang “merana”. “Memang banyak sastrawan dan pencinta sastra menyayangkan dan prihatin dengan berkurangnya atau banyak ditutupnya rubrik-rubrik sastra

di media cetak. Sebab selama ini sastrawan banyak bergantung pada ruang-ruang sastra tersebut sebagai media penyaluran karya mereka.

Sebab selain bisa dimuat, jika lolos seleksi, juga mendapatkan imbalan atau honor,” ucap penyair Wayan Jengki Sunarta.

Meski demikian, Jengki yang juga piawai menulis cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni tak menampik sejatinya media cetak mulai ditinggalkan pembacanya.

Di sisi lain, media online berkembang pesat. Pembeli, pelanggan, pemasang iklan pun berkurang dan beralih ke media online.

“Sebelum corona, dampak ini sangat terasa sekali. Jangankan ruang sastra, bahkan ada beberapa  koran yang terpaksa gulung tikar karena tidak mampu menutupi biaya operasionalnya,” tandas penyuka seni, batu akik dan barang antik itu.

Jengki menyebut di Bali ada beberapa koran yang selama ini konsisten menyediakan ruang sastra. Namun, pada akhirnya mereka juga harus realistis menghadapi kondisi, yakni melakukan pemangkasan rubrik.

“Dan korban pertama adalah ruang sastra yang dianggap kurang peminat, kurang mendapatkan iklan, dan sebagainya. Ya pada kenyataannya sastra memang eksklusif dengan peminat terbatas

ketimbang rubrik olahraga, misalnya. Saya pikir ini cara-cara media cetak untuk bertahan hidup dengan memangkas rubrik atau mengurangi halaman,” tandasnya.

Apakah media online bisa menggantikan posisi media cetak sebagai “dapur olah sastra”? Jengki menjawab dalam konteks pemuatan karya sastra, media online menjadi alternatif yang menjanjikan.

Dengan catatan dikelola dengan serius dan ada sistem seleksi yang ketat. Jengki menyayangkan banyak media online kurang selektif terhadap karya yang masuk sehingga media online memunculkan citra gampangan.

Di sisi lain, kelebihan media online adalah kemudahan untuk diakses dari berbagai wilayah yang memiliki jaringan internet.

“Media online saya kira bisa menggantikan posisi media cetak. Apalagi di zaman sekarang ini di mana orang-orang memerlukan akses mendapatkan informasi yang cepat dan beragam. 

Tentu saja media online harus dikelola dengan benar dan bertanggung jawab terhadap konten yang dimuatnya. Artinya tetap memenuhi kaidah-kaidah etika jurnalistik,” rincinya.

Terkait konsekuensi tidak adanya rubrik sastra di media mainstream lokal Bali, alumnus Jurusan Antropologi Universitas Udayana itu tak menampik para sastrawan kehilangan ruang sastra, tempat mereka menempa diri.

“Dan tentu saja kehilangan kesempatan mendapatkan honor hehe. Persoalannya sangat sedikit ruang-ruang sastra yang terpercaya yang diasuh oleh redaktur yang berkompeten.

Nah, jika media online mampu memenuhi hal ini, redaktur yang kompeten dan imbalan yang layak bagi karya yang dimuat, saya kira media online akan mampu menjadi ruang sastra yang berwibawa,” tegas Jengki. 



DENPASAR – Coronavirus disease alias Covid-19 memberikan pukulan telak bagi dunia sastra tanah air. Tak sedikit media massa mainstream yang mengurangi jumlah halaman untuk penghematan.

Dan, ruang atau rubrik sastra menjadi pilihan utama untuk dihilangkan karena tidak bisa dijual. Sebaliknya, justru menimbulkan pengeluaran lebih; honor sastrawan.

Karena corona, banyak sastrawan yang “merana”. “Memang banyak sastrawan dan pencinta sastra menyayangkan dan prihatin dengan berkurangnya atau banyak ditutupnya rubrik-rubrik sastra

di media cetak. Sebab selama ini sastrawan banyak bergantung pada ruang-ruang sastra tersebut sebagai media penyaluran karya mereka.

Sebab selain bisa dimuat, jika lolos seleksi, juga mendapatkan imbalan atau honor,” ucap penyair Wayan Jengki Sunarta.

Meski demikian, Jengki yang juga piawai menulis cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni tak menampik sejatinya media cetak mulai ditinggalkan pembacanya.

Di sisi lain, media online berkembang pesat. Pembeli, pelanggan, pemasang iklan pun berkurang dan beralih ke media online.

“Sebelum corona, dampak ini sangat terasa sekali. Jangankan ruang sastra, bahkan ada beberapa  koran yang terpaksa gulung tikar karena tidak mampu menutupi biaya operasionalnya,” tandas penyuka seni, batu akik dan barang antik itu.

Jengki menyebut di Bali ada beberapa koran yang selama ini konsisten menyediakan ruang sastra. Namun, pada akhirnya mereka juga harus realistis menghadapi kondisi, yakni melakukan pemangkasan rubrik.

“Dan korban pertama adalah ruang sastra yang dianggap kurang peminat, kurang mendapatkan iklan, dan sebagainya. Ya pada kenyataannya sastra memang eksklusif dengan peminat terbatas

ketimbang rubrik olahraga, misalnya. Saya pikir ini cara-cara media cetak untuk bertahan hidup dengan memangkas rubrik atau mengurangi halaman,” tandasnya.

Apakah media online bisa menggantikan posisi media cetak sebagai “dapur olah sastra”? Jengki menjawab dalam konteks pemuatan karya sastra, media online menjadi alternatif yang menjanjikan.

Dengan catatan dikelola dengan serius dan ada sistem seleksi yang ketat. Jengki menyayangkan banyak media online kurang selektif terhadap karya yang masuk sehingga media online memunculkan citra gampangan.

Di sisi lain, kelebihan media online adalah kemudahan untuk diakses dari berbagai wilayah yang memiliki jaringan internet.

“Media online saya kira bisa menggantikan posisi media cetak. Apalagi di zaman sekarang ini di mana orang-orang memerlukan akses mendapatkan informasi yang cepat dan beragam. 

Tentu saja media online harus dikelola dengan benar dan bertanggung jawab terhadap konten yang dimuatnya. Artinya tetap memenuhi kaidah-kaidah etika jurnalistik,” rincinya.

Terkait konsekuensi tidak adanya rubrik sastra di media mainstream lokal Bali, alumnus Jurusan Antropologi Universitas Udayana itu tak menampik para sastrawan kehilangan ruang sastra, tempat mereka menempa diri.

“Dan tentu saja kehilangan kesempatan mendapatkan honor hehe. Persoalannya sangat sedikit ruang-ruang sastra yang terpercaya yang diasuh oleh redaktur yang berkompeten.

Nah, jika media online mampu memenuhi hal ini, redaktur yang kompeten dan imbalan yang layak bagi karya yang dimuat, saya kira media online akan mampu menjadi ruang sastra yang berwibawa,” tegas Jengki. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/