alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Dua Karya Sastrawan Buleleng Dibedah

RadarBali.com – Dua buku kumpulan puisi karya sastrawan Buleleng, dibedah dalam acara Forum Diskusi Sastra yang dilangsungkan di Rumah Belajar Komunitas Mahima, siang kemarin.

Bedah buku itu bukan hanya melibatkan kalangan sastrawan, juga melibatkan Balai Bahasa Bali. Dua karya sastra yang dibedah itu adalah buku antologi puisi berjudul Seribu Pagi Secangkir Cinta karya Wulan Dewi Saraswati, serta antologi puisi berbahasa Inggris berjudul Burning Hair karya Kadek Sonia Piscayanti.

Buku mereka berdua dibedah oleh Kepala Balai Bahasa Bali Wayan Tama dan sastrawan Made Adnyana Ole.

Proses dialog dipandu oleh Wayan Artika yang juga dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha Singaraja.

Dalam proses bedah buku itu, bukan hanya membahas secara mendalam karya-karya kedua sastrawan.

Baca Juga:  Rangkaian Pesona Khazanah Ramadan 2018, Dispar NTB Gelar Bedah Buku

Kedua pembicara juga membagi cara-cara untuk menghasilkan sebuah karya sastra, terutama dalam bentuk puisi.

“Proses puitik itu tidak hanya dihasilkan ketika penyair sedang menderita seperti sakit, kematian, atau ditinggalkan orang yang dicintai. Ada juga kisah-kisah puitik yang diangkat dari kisah perjalanan, bahkan daun yang rontok pun di mata penyair bisa menjadi kisah puitik,” kata Adnyana Ole.

Sementara itu Kepala Balai Bahasa Bali, I Wayan Tama mengungkapkan, proses bedah buku dalam Forum Diskusi Sastra, diharapkan menumbuhkan gairah literasi di masyarakat.

Balai Bahasa terus berupaya memberdayakan masyarakat yang tergabung dalam komunitas-komunitas sastra, apalagi gairah berkarya di sejumlah daerah kini makin tumbuh.

“Kami sengaja menggelar diskusi-diskusi sederhana seperti ini. Harapannya agar kegiatan sastra itu bisa hidup dan tercipta budaya tulis-menulis di masyarakat,” kata Tama.

Baca Juga:  Budayawan Prediksi Kuba Seperti Tiongkok

Tahun ini, Balai Bahasa Bali juga menyiapkan anggaran untuk membuat tujuh buah buku. Dua buku diantaranya untuk penunjang bahan ajar. Sementara lima buku lainnya untuk karya sastra, baik itu yang berbentuk antologi puisi, novel, maupun kumpulan cerpen.

“Intinya kami meningkatkan dan memberdayakan masyarakat yang terekrut dalam komunitas, agar terangsang membudayakan gerakan literasi ini,” tandasnya.



RadarBali.com – Dua buku kumpulan puisi karya sastrawan Buleleng, dibedah dalam acara Forum Diskusi Sastra yang dilangsungkan di Rumah Belajar Komunitas Mahima, siang kemarin.

Bedah buku itu bukan hanya melibatkan kalangan sastrawan, juga melibatkan Balai Bahasa Bali. Dua karya sastra yang dibedah itu adalah buku antologi puisi berjudul Seribu Pagi Secangkir Cinta karya Wulan Dewi Saraswati, serta antologi puisi berbahasa Inggris berjudul Burning Hair karya Kadek Sonia Piscayanti.

Buku mereka berdua dibedah oleh Kepala Balai Bahasa Bali Wayan Tama dan sastrawan Made Adnyana Ole.

Proses dialog dipandu oleh Wayan Artika yang juga dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha Singaraja.

Dalam proses bedah buku itu, bukan hanya membahas secara mendalam karya-karya kedua sastrawan.

Baca Juga:  Navicula Rilis Video Klip Dinasti Matahari, Bisa Ditonton di Youtube

Kedua pembicara juga membagi cara-cara untuk menghasilkan sebuah karya sastra, terutama dalam bentuk puisi.

“Proses puitik itu tidak hanya dihasilkan ketika penyair sedang menderita seperti sakit, kematian, atau ditinggalkan orang yang dicintai. Ada juga kisah-kisah puitik yang diangkat dari kisah perjalanan, bahkan daun yang rontok pun di mata penyair bisa menjadi kisah puitik,” kata Adnyana Ole.

Sementara itu Kepala Balai Bahasa Bali, I Wayan Tama mengungkapkan, proses bedah buku dalam Forum Diskusi Sastra, diharapkan menumbuhkan gairah literasi di masyarakat.

Balai Bahasa terus berupaya memberdayakan masyarakat yang tergabung dalam komunitas-komunitas sastra, apalagi gairah berkarya di sejumlah daerah kini makin tumbuh.

“Kami sengaja menggelar diskusi-diskusi sederhana seperti ini. Harapannya agar kegiatan sastra itu bisa hidup dan tercipta budaya tulis-menulis di masyarakat,” kata Tama.

Baca Juga:  Antara Telenta Bernyanyi dan Lingkungan

Tahun ini, Balai Bahasa Bali juga menyiapkan anggaran untuk membuat tujuh buah buku. Dua buku diantaranya untuk penunjang bahan ajar. Sementara lima buku lainnya untuk karya sastra, baik itu yang berbentuk antologi puisi, novel, maupun kumpulan cerpen.

“Intinya kami meningkatkan dan memberdayakan masyarakat yang terekrut dalam komunitas, agar terangsang membudayakan gerakan literasi ini,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/