alexametrics
28.7 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Teater Keliling Bawa Pesan Patriotisme

RadarBali.com – Kelompok Teater Keliling Jakarta, berusaha menyampaikan pesan-pesan patriotisme di hadapan publik Buleleng.

Saat melakukan pementasan di Wantilan Sasana Budaya, Kamis (10/8) malam lalu, mereka membawakan lakon Sang Saka yang kental dengan pesan-pesan nasionalisme serta patriotisme.

Lakon Sang Saka merupakan sekuel kedua dari naskah Jas Merah. Sebelumnya mereka juga memproduksi sekuel pertama berjudul Tentang Pahlawan,yang bercerita mengenai perjuangan para pahlawan di era lampau.

Naskah Sang Saka sendiri berkisah tentang tiga orang sahabat yang bertemu kembali untuk berpetualang mencari harta karun, yang sedang menjadi ulasan terpenting di dunia maya.

Mereka membawa serta dua orang kenalan dalam petualangan itu. Perjalanan perburuan ini membuka rahasia pada diri mereka, tentang pemuda-pemudi yang lupa diri dan memupuskan rasa cinta pada negeri.

Harta karun berhasil mereka temukan, akan tetapi itu bukan yang mereka bayangkan selama ini. Harta itu menuntun mereka ke sebuah dimensi waktu imajiner detik-detik proklamasi kemerdakaan.

Baca Juga:  Rhythm Rebels Sukses Menggebrak Korea Selatan

Harta karun itu kemudian dipahami bernama Sang Saka Merah Putih. Selama pementasan berdurasi 90 menit itu penonton diajak menebak-nebak apa sebenarnya harta karun itu.

Baru pada akhir pementasan, penonton memahami bahwa harta itu adalah Sang Saka Merah Putih.

Aktor-aktor yang terlibat dalam pementasan sempat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu, penonton pun langsung berdiri, teringat kembali dengan semangat patriotisme.

Pementasan kemudian ditutup dengan lagu-lagu wajib nasional. Sutradara Teater Keliling, Rudolf Puspa mengatakan, naskah ini sengaja dipentaskan untuk mengingatkan kembali anak muda pada sejarah bangsa.

Naskah itu dipentaskan ke seluruh Indonesia sejak setahun terakhir, dan sengaja menyasar kantong-kantong pemuda di tiap provinsi.

Baca Juga:  Pandangan Brilian Robi Navicula Antara "Odalan dan Sampah"

Menurut Rudolf, naskah itu tercetus dari hasil teater ini keliling Indonesia sejak tahun 1974 silam. Sejak lama mereka menemukan kegelisahan-kegelisahan soal nasionalisme di kalangan pemuda.

“Kegelisahan kami semakin muncul kira-kira tahun 2010. Artinya memperkuat dari hasil keliling kami dari tahun 1974, dan yang kami temukan hal semacam ini. Selama beberapa tahun ke depan, sepertinya fokus kami masih pada soal patriotisme,” kata Rudolf Puspa.

Untuk naskah Sang Saka, Teater Keliling sudah mementaskannya keliling Indonesia sejak setahun terakhir.

Mereka akan melanjutkan perjalanan keliling mereka ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan akan mengakhiri pementasan di Papua pada akhir tahun nanti. 



RadarBali.com – Kelompok Teater Keliling Jakarta, berusaha menyampaikan pesan-pesan patriotisme di hadapan publik Buleleng.

Saat melakukan pementasan di Wantilan Sasana Budaya, Kamis (10/8) malam lalu, mereka membawakan lakon Sang Saka yang kental dengan pesan-pesan nasionalisme serta patriotisme.

Lakon Sang Saka merupakan sekuel kedua dari naskah Jas Merah. Sebelumnya mereka juga memproduksi sekuel pertama berjudul Tentang Pahlawan,yang bercerita mengenai perjuangan para pahlawan di era lampau.

Naskah Sang Saka sendiri berkisah tentang tiga orang sahabat yang bertemu kembali untuk berpetualang mencari harta karun, yang sedang menjadi ulasan terpenting di dunia maya.

Mereka membawa serta dua orang kenalan dalam petualangan itu. Perjalanan perburuan ini membuka rahasia pada diri mereka, tentang pemuda-pemudi yang lupa diri dan memupuskan rasa cinta pada negeri.

Harta karun berhasil mereka temukan, akan tetapi itu bukan yang mereka bayangkan selama ini. Harta itu menuntun mereka ke sebuah dimensi waktu imajiner detik-detik proklamasi kemerdakaan.

Baca Juga:  Rambah Taipei, Antonius Kho Ramaikan Art Revolution

Harta karun itu kemudian dipahami bernama Sang Saka Merah Putih. Selama pementasan berdurasi 90 menit itu penonton diajak menebak-nebak apa sebenarnya harta karun itu.

Baru pada akhir pementasan, penonton memahami bahwa harta itu adalah Sang Saka Merah Putih.

Aktor-aktor yang terlibat dalam pementasan sempat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu, penonton pun langsung berdiri, teringat kembali dengan semangat patriotisme.

Pementasan kemudian ditutup dengan lagu-lagu wajib nasional. Sutradara Teater Keliling, Rudolf Puspa mengatakan, naskah ini sengaja dipentaskan untuk mengingatkan kembali anak muda pada sejarah bangsa.

Naskah itu dipentaskan ke seluruh Indonesia sejak setahun terakhir, dan sengaja menyasar kantong-kantong pemuda di tiap provinsi.

Baca Juga:  Pandangan Brilian Robi Navicula Antara "Odalan dan Sampah"

Menurut Rudolf, naskah itu tercetus dari hasil teater ini keliling Indonesia sejak tahun 1974 silam. Sejak lama mereka menemukan kegelisahan-kegelisahan soal nasionalisme di kalangan pemuda.

“Kegelisahan kami semakin muncul kira-kira tahun 2010. Artinya memperkuat dari hasil keliling kami dari tahun 1974, dan yang kami temukan hal semacam ini. Selama beberapa tahun ke depan, sepertinya fokus kami masih pada soal patriotisme,” kata Rudolf Puspa.

Untuk naskah Sang Saka, Teater Keliling sudah mementaskannya keliling Indonesia sejak setahun terakhir.

Mereka akan melanjutkan perjalanan keliling mereka ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan akan mengakhiri pementasan di Papua pada akhir tahun nanti. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/