alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Punah Tahun 70-an, Tari Tenun Gaya Buleleng Dibangkitkan Lagi

SINGARAJA – Tari tenun dengan gaya Buleleng, dikenalkan pada publik. Tari ini sempat punah pada tahun 1970-an silam. Kini tarian itu telah direkonstruksi.

Meski belum sempurna, namun hasil rekonstruksi itu diklaim sudah mendekati aslinya. Selama ini masyarakat lebih menganal Tari Tenun yang diciptakan oleh I Nyoman Ridet, seniman asal Banjar Campuhan, Desa Kerobokan, Badung.

Namun di Buleleng sebenarnya ada pula Tari Tenun dengan gaya kekebyaran dauh enjung, yang diciptakan oleh mendiang Ketut Merdana.

Ketut Merdana sendiri dikenal sebagai seniman yang sangat produktif. Sayangnya, saat ia tutup usia, banyak pula karya-karyanya yang hilang tak ditarikan lagi. Akibatnya banyak tari-tari ciptaannya yang punah.

Kali ini Tari Tenun gaya Buleleng direkonstruksi oleh Sanggar Seni Langun Kerthi Budaya, Desa Lokapaksa.

Untuk pertama kalinya, setelah punah selama empat dasa warsa, Tari Tenun ditampilkan di hadapan masyarakat Buleleng.

Tari itu ditampilkan saat penampilan Gong Kebyar Mebarung Dangin Enjung-Dauh Enjung di Sasana Budaya Singaraja, serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2019.

Baca Juga:  Siswa Unjuk Karya dalam Fragmentari Nilai Pahlawan

Secara umum, Tari Tenun menceritakan aktifitas wanita sehari-hari pada masa lampau. Wanita pada masa tersebut, selalu menenun di rumah untuk mengisi waktu luang.

Tari Tenun dengan gaya Buleleng, disebut menggabungkan gaya Bali Selatan yang kemudian dikreasikan ulang oleh Ketut Merdana. Baik itu dalam hal karawitan maupun tari.

Ketua Sangar Langun Kerthi Budaya Gusti Bagus Muliawan mengatakan, saat menggali tari tersebut ia harus mencari sejumlah penglingsir seni yang ada di Buleleng.

Terutama yang ada di Desa Kedis, yang notabene tanah kelahiran seniman Ketut Merdana. Selain itu ia juga mencoba menggali lewat arsip-arsip yang ada.

“Akhirnya kami dapat gambaran seperti apa gerak tari dan karawitannya. Jadinya seperti yang kami pentaskan malam ini (Kamis malam, Red).

Perbedaan yang paling mencolok itu dari sisi karawitan. Kalau dari gerak tari, memang ada banyak kemiripan dengan Tari Tenun ciptaan Nyoman Ridet,” kata Muliawan.

Baca Juga:  Gebrak Panggung Soundrenaline 2019, Gugun Blues Shelter Geber GBS Fest

Menurutnya memang ada beberapa hal yang masih perlu disempurnakan. Baik dalam hal karawitan maupun gerak tari. Hal lain yang perlu diperbaiki adalah segi pakaian.

“Kami masih pakai pakaian gaya Bali Selatan. Kalau tari tenun gaya Bali Utara yang berbeda itu dari hiasan kepalanya. Kedepan ini akan kami sempurnakan lagi,” imbuhnya.

Sementara itu Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng Wayan Sujana mengatakan, pihaknya sengaja mendorong sanggar-sanggar yang ada di Buleleng menggali karya-karya maestro seni yang dulu sempat bersinar.

Sehingga karya-karya itu dapat dikenal lagi oleh generasi kini. “Ini memang baru pertama kali ditarikan. Memang banyak karya-karya almarhum Ketut Merdana yang hilang,

setelah beliau meninggal. Penyebabnya karena tak ditarikan lagi. Selama ada narasumber yang bisa memberikan gambaran karya-karya maestro dulu, kami akan terus lakukan penggalian,” kata Sujana. 



SINGARAJA – Tari tenun dengan gaya Buleleng, dikenalkan pada publik. Tari ini sempat punah pada tahun 1970-an silam. Kini tarian itu telah direkonstruksi.

Meski belum sempurna, namun hasil rekonstruksi itu diklaim sudah mendekati aslinya. Selama ini masyarakat lebih menganal Tari Tenun yang diciptakan oleh I Nyoman Ridet, seniman asal Banjar Campuhan, Desa Kerobokan, Badung.

Namun di Buleleng sebenarnya ada pula Tari Tenun dengan gaya kekebyaran dauh enjung, yang diciptakan oleh mendiang Ketut Merdana.

Ketut Merdana sendiri dikenal sebagai seniman yang sangat produktif. Sayangnya, saat ia tutup usia, banyak pula karya-karyanya yang hilang tak ditarikan lagi. Akibatnya banyak tari-tari ciptaannya yang punah.

Kali ini Tari Tenun gaya Buleleng direkonstruksi oleh Sanggar Seni Langun Kerthi Budaya, Desa Lokapaksa.

Untuk pertama kalinya, setelah punah selama empat dasa warsa, Tari Tenun ditampilkan di hadapan masyarakat Buleleng.

Tari itu ditampilkan saat penampilan Gong Kebyar Mebarung Dangin Enjung-Dauh Enjung di Sasana Budaya Singaraja, serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2019.

Baca Juga:  Tak Terurus, Rumah Srimben Ibu Bung Karno Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Secara umum, Tari Tenun menceritakan aktifitas wanita sehari-hari pada masa lampau. Wanita pada masa tersebut, selalu menenun di rumah untuk mengisi waktu luang.

Tari Tenun dengan gaya Buleleng, disebut menggabungkan gaya Bali Selatan yang kemudian dikreasikan ulang oleh Ketut Merdana. Baik itu dalam hal karawitan maupun tari.

Ketua Sangar Langun Kerthi Budaya Gusti Bagus Muliawan mengatakan, saat menggali tari tersebut ia harus mencari sejumlah penglingsir seni yang ada di Buleleng.

Terutama yang ada di Desa Kedis, yang notabene tanah kelahiran seniman Ketut Merdana. Selain itu ia juga mencoba menggali lewat arsip-arsip yang ada.

“Akhirnya kami dapat gambaran seperti apa gerak tari dan karawitannya. Jadinya seperti yang kami pentaskan malam ini (Kamis malam, Red).

Perbedaan yang paling mencolok itu dari sisi karawitan. Kalau dari gerak tari, memang ada banyak kemiripan dengan Tari Tenun ciptaan Nyoman Ridet,” kata Muliawan.

Baca Juga:  Tutup Akses Jalan Milik Pemerintah, Disbud Buleleng Protes Puri Agung

Menurutnya memang ada beberapa hal yang masih perlu disempurnakan. Baik dalam hal karawitan maupun gerak tari. Hal lain yang perlu diperbaiki adalah segi pakaian.

“Kami masih pakai pakaian gaya Bali Selatan. Kalau tari tenun gaya Bali Utara yang berbeda itu dari hiasan kepalanya. Kedepan ini akan kami sempurnakan lagi,” imbuhnya.

Sementara itu Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng Wayan Sujana mengatakan, pihaknya sengaja mendorong sanggar-sanggar yang ada di Buleleng menggali karya-karya maestro seni yang dulu sempat bersinar.

Sehingga karya-karya itu dapat dikenal lagi oleh generasi kini. “Ini memang baru pertama kali ditarikan. Memang banyak karya-karya almarhum Ketut Merdana yang hilang,

setelah beliau meninggal. Penyebabnya karena tak ditarikan lagi. Selama ada narasumber yang bisa memberikan gambaran karya-karya maestro dulu, kami akan terus lakukan penggalian,” kata Sujana. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/