alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Woow…Kamus Tari Bali Difabel Antar Mahasiswi Undiksha Juara II Pimnas

SINGARAJA – Kamus Tari Bali bagi disabilitas rungu, ternyata dibuat oleh mahasiswi. Kamus yang diberi nama lengkap Kamus Dasar Gerakan Tari Bali itu pun

berhasil meraih peringkat kedua pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-30, yang diselenggarakan di Makassar pada tahun 2017 lalu.

Kamus Tari Bali itu mulai diaplikasikan pada ajang Pagelaran Tari Pendet Oleh Disabilitas Rungu Terbanyak, di Auditorium Undiksha Singaraja, Minggu (14/1) lalu.

Kamus itu pun memudahkan proses penyeragaman isyarat dan gerak tari, bagi anak-anak disabilitas rungu.

Adalah lima orang mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Undiksha yang menginisiasi terbentuknya Kamus Tari Bali itu.

Kelimanya adalah Ni Putu Riska Arsanti, Ni Wayan Nik Lisa, Ni Putu Trisna Hendrayani, Putu Suryanti, dan IGA Candra Dewi. Mereka dibina oleh dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha, I Wayan Sujana.

Baca Juga:  Kabupaten Gianyar Ajukan Tiga Tradisi jadi Warisan Budaya

Ide membuat Kamus Tari Bali itu sebenarnya berawal dari hal sederhana. Saat itu, mahasiswi ini mendapatkan mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Mereka pun diwajibkan melakukan observasi langsung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) terdekat. Ketika itu mereka melihat guru dan siswa sedang latihan menari.

Meski tak bisa mendengar suara tabuh, siswa-siswa disabilitas rungu itu bisa menari dengan baik. Cukup melihat bahasa isyarat yang digunakan oleh guru.

Sayangnya bahasa isyarat yang digunakan pun tidak pasti. “Bahasa isyarat yang digunakan itu tidak baku. Hanya berdasarkan kesepakatan antara guru dengan siswa.

Jadi isyarat di tempat yang satu dengan tempat lain beda-beda. Ini menyulitkan guru dan siswa saat belajar menari,” tutur Ketua Tim Penelitian, IGA Candra Dewi.

Baca Juga:  Gemuruh Baleganjur Buka Buleleng Festival

Mereka pun langsung tercetus ide membuat kamus gerakan tari bagi para disabilitas rungu. Proposal penelitian pun diajukan ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Gayung bersambut, proposal penelitian mereka diterima. Begitu mendapat kabar proposal diterima, mereka langsung melakukan penelitian yang difokuskan di SLB Negeri 2 Denpasar (dulu SLB-B Negeri Sidakarya, Red).

Butuh waktu hingga setahun, hingga kamus dasar Tari Bali bagi disabilitas rungu itu benar-benar rampung.

Total ada 42 halaman dalam kamus itu, yang merangkum 42 macam gerakan dasar tari. Dari 42 macam gerakan tari itu, ada 23 gerakan dasar tari untuk putri dan 19 gerakan dasar tari bagi putra. 



SINGARAJA – Kamus Tari Bali bagi disabilitas rungu, ternyata dibuat oleh mahasiswi. Kamus yang diberi nama lengkap Kamus Dasar Gerakan Tari Bali itu pun

berhasil meraih peringkat kedua pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-30, yang diselenggarakan di Makassar pada tahun 2017 lalu.

Kamus Tari Bali itu mulai diaplikasikan pada ajang Pagelaran Tari Pendet Oleh Disabilitas Rungu Terbanyak, di Auditorium Undiksha Singaraja, Minggu (14/1) lalu.

Kamus itu pun memudahkan proses penyeragaman isyarat dan gerak tari, bagi anak-anak disabilitas rungu.

Adalah lima orang mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Undiksha yang menginisiasi terbentuknya Kamus Tari Bali itu.

Kelimanya adalah Ni Putu Riska Arsanti, Ni Wayan Nik Lisa, Ni Putu Trisna Hendrayani, Putu Suryanti, dan IGA Candra Dewi. Mereka dibina oleh dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha, I Wayan Sujana.

Baca Juga:  Demo Kian Meluas, Mahasiswa Ditantang Lakukan Judicial Review

Ide membuat Kamus Tari Bali itu sebenarnya berawal dari hal sederhana. Saat itu, mahasiswi ini mendapatkan mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Mereka pun diwajibkan melakukan observasi langsung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) terdekat. Ketika itu mereka melihat guru dan siswa sedang latihan menari.

Meski tak bisa mendengar suara tabuh, siswa-siswa disabilitas rungu itu bisa menari dengan baik. Cukup melihat bahasa isyarat yang digunakan oleh guru.

Sayangnya bahasa isyarat yang digunakan pun tidak pasti. “Bahasa isyarat yang digunakan itu tidak baku. Hanya berdasarkan kesepakatan antara guru dengan siswa.

Jadi isyarat di tempat yang satu dengan tempat lain beda-beda. Ini menyulitkan guru dan siswa saat belajar menari,” tutur Ketua Tim Penelitian, IGA Candra Dewi.

Baca Juga:  Sembroli Bereksperimen Lewat Wayang Bondres

Mereka pun langsung tercetus ide membuat kamus gerakan tari bagi para disabilitas rungu. Proposal penelitian pun diajukan ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Gayung bersambut, proposal penelitian mereka diterima. Begitu mendapat kabar proposal diterima, mereka langsung melakukan penelitian yang difokuskan di SLB Negeri 2 Denpasar (dulu SLB-B Negeri Sidakarya, Red).

Butuh waktu hingga setahun, hingga kamus dasar Tari Bali bagi disabilitas rungu itu benar-benar rampung.

Total ada 42 halaman dalam kamus itu, yang merangkum 42 macam gerakan dasar tari. Dari 42 macam gerakan tari itu, ada 23 gerakan dasar tari untuk putri dan 19 gerakan dasar tari bagi putra. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/