alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Gong Kebyar Mebarung dengan Gong Smarandhana Cetak Sejarah Baru

RadarBali.com – Sejarah baru tercipta pada kancah seni tradisi di Bali. Kesenian gong kebyar mebarung dengan gong smarandhana.

Kedua gamelan gong itu merepresentasikan dua pusat kesenian berbeda, yakni Buleleng dan Denpasar. Hal itu menjadi pementasan yang apik dan sangat dinanti-nanti.

Gong mebarung itu ditampilkan di Wantilan Puri Seni Sasana Budaya Buleleng, Sabtu (14/10) malam dalam acara bertajuk “Menyurat Yang Silam, Menggurat Yang Datang”, yang digagas Mahima Institute Indonesia.

Acara itu pun dipadati masyarakat Buleleng dan para penggiat seni di Kabupaten Buleleng. Ketua Majelis Pertimbangan Seni dan Budaya (Listibiya) Bali Prof. I Made Bandem juga turut hadir.

Pementasan itu memang sangat unik. Gamelan gong kebyar disandingkan dengan gamelan smarandhana.

Hal itu seolah menyandingkan hal yang lampau dengan masa kini. Maklum saja, gamelan smarandhana tercipta hasil dari pengembangan gamelan gong kebyar.

Malam itu, gamelan gong kebyar dimainkan oleh Padepokan Seni Dwi Mekar. Mereka menampilkan dua tabuh, yakni Baratayuda dan Sari Anom yang diciptakan Pan Wadres dan Gde Manik pada tahun 1950-an silam.

Kedua tabuh ini sempat punah dan direkonstruksi kembali oleh Padepokan Seni Dwi Mekar. Sementara perangkat gamelan smarandhana dimainkan oleh Sanggar Wrdhi Cwaram Denpasar.

Mereka memainkan dua tabuh karya Wayan Gde Yudane yang berjudul Spring dan Journey. Teknik tabuh Sanggar Wrdhi Cwaram juga sangat mumpuni.

Mereka tak hanya mengandalkan ingatan dan rasa, namun juga menggunakan partitur layaknya bermain orkestra.

Ketua Padepokan Seni Dwi Mekar, Gede Pande Olit Satria Kusuma Yuda menuturkan, kedua tabuh itu sengaja direkonstruksi untuk mendokumentasikan kembali karya-karya maestro Buleleng.

Selama ini karya-karya itu tak pernah tercatat, sehingga sempat hilang dimakan waktu. Kini pihaknya pun terus berusaha mengumpulkan tabuh-tabuh maestro Buleleng yang sempat hilang.

Pada pementasan Sabtu malam lalu, ada dua tabuh ciptaan Pan Wadres dan Gde Manik – maestro gong kebyar Buleleng – yang sempat punah.

Keduanya Tabuh Bratayuda dan Sari Anom. Tabuh Bratayuda direkonstruksi oleh Made Pasca Wirsutha, sementara tabuh Sari Anom direkonstruksi oleh dirinya.

Konon Tabuh Bratayuda diciptakan pada tahun 1950-an saat masa jaya gong kebyar di Buleleng. Tabuh itu begitu masyhur hingga setiap desa sekaa kala itu bisa memainkan tabuh ini.

Sementara tabuh Sari Anom disebut penggalan dari tabuh Manik Amutus yang diciptakan Gde Manik.

“Ceritanya almarhum Gde Manik mengutus Pak (Made) Kranca menyebarkan tabuh itu. Akhirnya jadi tabuh Sari Anom yang merupakan penggalan dari tabuh Manik Amutus,” cerita Olit.

Sementara itu komposer Wayan Gde Yudane mengatakan, tabuh-tabuh ciptaannya merupakan hasil sebuah perenungan.

Yudana selalu berupaya mencari hal baru yang belum ia ketahui. Ia tak menampik tabuh-tabuh ciptaannya sulit dipahami oleh orang kebanyakan.

“Musik seperti ini biasanya didengar dengan telinga, bukan mulut. Kita terbiasa menonton sambil bicara. Tabuh ini tidak bisa didengar begitu. Kalau telinga dan mulut berbarengan, maka tidak akan dapat imajinasinya,” kata Yudane.

Ketua Listibiya Bali Prof. I Made Bandem mengatakan, pementasan malam itu adalah sejarah baru di dunia tabuh.

“Ini pertama kalinya gong kebyar dan smarandhana bertemu dan mebarung. Gong kebyar dimainkan sanggar dari Buleleng, smarandhana dimainkan sanggar dari Denpasar.

Perlu diketahui dan dipahami bahwa smarandhana itu hasil pengembangan dari gong kebyar, dan ini pertama kalinya mereka bertemu dan mebarung pada satu panggung yang sama,” kata Bandem.

Bandem mengatakan, sesuai dengan karakternya, gong kebyar terlebih lagi barungan gong pacek yang digunakan Padepokan Seni Dwi Mekar, akan menghasilkan karakter yang cepat dan dinamis.

Sementara gamelan smarandhana akan menghasilkan karakter serupa dengan aspek pengembangan yang lebih luas.

Penyebabnya, gong kebyar hanya memiliki laras pelog lima nada, sedangkan smarandhana memiliki laras pelog tujuh nada.

Bandem bahkan menyebut tabuh-tabuh karya Wayan Gde Yudane sudah lebih maju 100 tahun.

“Mungkin tahun ini belum banyak yang bisa seperti ini. Tapi dengan intelektualitas, 100 tahun lagi gamelan akan seperti (ciptaan Gde Yudane) ini,” tandas Bandem.



RadarBali.com – Sejarah baru tercipta pada kancah seni tradisi di Bali. Kesenian gong kebyar mebarung dengan gong smarandhana.

Kedua gamelan gong itu merepresentasikan dua pusat kesenian berbeda, yakni Buleleng dan Denpasar. Hal itu menjadi pementasan yang apik dan sangat dinanti-nanti.

Gong mebarung itu ditampilkan di Wantilan Puri Seni Sasana Budaya Buleleng, Sabtu (14/10) malam dalam acara bertajuk “Menyurat Yang Silam, Menggurat Yang Datang”, yang digagas Mahima Institute Indonesia.

Acara itu pun dipadati masyarakat Buleleng dan para penggiat seni di Kabupaten Buleleng. Ketua Majelis Pertimbangan Seni dan Budaya (Listibiya) Bali Prof. I Made Bandem juga turut hadir.

Pementasan itu memang sangat unik. Gamelan gong kebyar disandingkan dengan gamelan smarandhana.

Hal itu seolah menyandingkan hal yang lampau dengan masa kini. Maklum saja, gamelan smarandhana tercipta hasil dari pengembangan gamelan gong kebyar.

Malam itu, gamelan gong kebyar dimainkan oleh Padepokan Seni Dwi Mekar. Mereka menampilkan dua tabuh, yakni Baratayuda dan Sari Anom yang diciptakan Pan Wadres dan Gde Manik pada tahun 1950-an silam.

Kedua tabuh ini sempat punah dan direkonstruksi kembali oleh Padepokan Seni Dwi Mekar. Sementara perangkat gamelan smarandhana dimainkan oleh Sanggar Wrdhi Cwaram Denpasar.

Mereka memainkan dua tabuh karya Wayan Gde Yudane yang berjudul Spring dan Journey. Teknik tabuh Sanggar Wrdhi Cwaram juga sangat mumpuni.

Mereka tak hanya mengandalkan ingatan dan rasa, namun juga menggunakan partitur layaknya bermain orkestra.

Ketua Padepokan Seni Dwi Mekar, Gede Pande Olit Satria Kusuma Yuda menuturkan, kedua tabuh itu sengaja direkonstruksi untuk mendokumentasikan kembali karya-karya maestro Buleleng.

Selama ini karya-karya itu tak pernah tercatat, sehingga sempat hilang dimakan waktu. Kini pihaknya pun terus berusaha mengumpulkan tabuh-tabuh maestro Buleleng yang sempat hilang.

Pada pementasan Sabtu malam lalu, ada dua tabuh ciptaan Pan Wadres dan Gde Manik – maestro gong kebyar Buleleng – yang sempat punah.

Keduanya Tabuh Bratayuda dan Sari Anom. Tabuh Bratayuda direkonstruksi oleh Made Pasca Wirsutha, sementara tabuh Sari Anom direkonstruksi oleh dirinya.

Konon Tabuh Bratayuda diciptakan pada tahun 1950-an saat masa jaya gong kebyar di Buleleng. Tabuh itu begitu masyhur hingga setiap desa sekaa kala itu bisa memainkan tabuh ini.

Sementara tabuh Sari Anom disebut penggalan dari tabuh Manik Amutus yang diciptakan Gde Manik.

“Ceritanya almarhum Gde Manik mengutus Pak (Made) Kranca menyebarkan tabuh itu. Akhirnya jadi tabuh Sari Anom yang merupakan penggalan dari tabuh Manik Amutus,” cerita Olit.

Sementara itu komposer Wayan Gde Yudane mengatakan, tabuh-tabuh ciptaannya merupakan hasil sebuah perenungan.

Yudana selalu berupaya mencari hal baru yang belum ia ketahui. Ia tak menampik tabuh-tabuh ciptaannya sulit dipahami oleh orang kebanyakan.

“Musik seperti ini biasanya didengar dengan telinga, bukan mulut. Kita terbiasa menonton sambil bicara. Tabuh ini tidak bisa didengar begitu. Kalau telinga dan mulut berbarengan, maka tidak akan dapat imajinasinya,” kata Yudane.

Ketua Listibiya Bali Prof. I Made Bandem mengatakan, pementasan malam itu adalah sejarah baru di dunia tabuh.

“Ini pertama kalinya gong kebyar dan smarandhana bertemu dan mebarung. Gong kebyar dimainkan sanggar dari Buleleng, smarandhana dimainkan sanggar dari Denpasar.

Perlu diketahui dan dipahami bahwa smarandhana itu hasil pengembangan dari gong kebyar, dan ini pertama kalinya mereka bertemu dan mebarung pada satu panggung yang sama,” kata Bandem.

Bandem mengatakan, sesuai dengan karakternya, gong kebyar terlebih lagi barungan gong pacek yang digunakan Padepokan Seni Dwi Mekar, akan menghasilkan karakter yang cepat dan dinamis.

Sementara gamelan smarandhana akan menghasilkan karakter serupa dengan aspek pengembangan yang lebih luas.

Penyebabnya, gong kebyar hanya memiliki laras pelog lima nada, sedangkan smarandhana memiliki laras pelog tujuh nada.

Bandem bahkan menyebut tabuh-tabuh karya Wayan Gde Yudane sudah lebih maju 100 tahun.

“Mungkin tahun ini belum banyak yang bisa seperti ini. Tapi dengan intelektualitas, 100 tahun lagi gamelan akan seperti (ciptaan Gde Yudane) ini,” tandas Bandem.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/