alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Aksi Manik Metu Bawakan Prembon Inovatif Tak Mengigit

RadarBali.com – Lakon Brahmana Keling Komunitas Seni Manik Metu, Banjar Tatasan Kelod, Tonja, Denpasar tampil dalam Bali Mandara Mahalango, Senin (17/7) malam.

Dikisahkan, di Kerajaan Gelgel yang dipimpin Dalem Waturenggong hendak menyelenggarakan yadnya di Pura Besakih. Raja memerintahkan patih Arya Tangkas menyiapkan upacara tersebut.

Dalam persiapan ini datang seorang pengemis berpenampilan compang-camping dan bau. Sang pengemis mengaku sebagai saudara raja dan ingin bertemu.

Patih Arya Tangkas berang dan menyiksa orang tersebut. Tak tahan disiksa, orang tersebut memastu (menyumpahi) upacara yadnya tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Singkat cerita, pastu yang pengemis bertuah; terjadi. Raja Dalem Waturenggong pun memerintahkan Patih Arya Tangkas untuk mencari orang tersebut.

Tujuannya agar upacara yadnya berjalan lancar. Raja bersedia menerimanya pengemis tersebut sebagai saudara.

Pementasan Komunitas Seni Manik Metu dikritik pengamat seni I Nyoman Astita. Prembon inovatif yang ditampilkan disebutnya kurang digarap dengan baik.

Baca Juga:  Gubernur Koster Siap Fasilitasi Komunitas Kreatif Digital

“Sebenarnya pementasan ini ceritanya bagus dan juga ada unsur sejarahnya. Hanya saja susunan dramatiknya kurang tergarap bagus,” ungkapnya.

Susunan dramatik yang kurang tergarap jelas Astita tampak pada alur-alur pentas yang datar alias terlalu lambat.

Akibatnya ditinjau dari aspek seni pertunjukkan banyak hal yang terkesan vakum dan kurang dinamis.

Alur alias plot pementasan yang kurang lancar juga berpengaruh pada posisi penari di atas panggung. Astita menyebut penampil kurang memperhatikan tata panggung.

Bahkan tak jarang penari menghadiahi penonton pantat alias membelakangi penonton. “Tetapi yang tiang lihat agak fatal itu adalah unggah-ungguh itu, yaitu menempatkan struktur lakon siapa raja, siapa patih, dan siapa punakawan. Itu tidak dijaga konsistensinya. Kemudian juga kadang-kadang raja itu ngomong matah seperti orang biasa. Karena  itu otomatis mengurangi karakter  sang raja,” papar Astita.

Baca Juga:  Oka Rusmini Didaulat Unit Kerja Presiden Jadi Ikon Indonesia Bareng..

Menurut Astita, pada bagian-bagain itu yang berbicara seharusnya adalah penasar. Sementara sang raja mesti kukuh dan konsisten dengan bahasa kawi. “Jadi dari segi itu (unggah-ungguhin red) penataan perlu diperhatikan.

Pendapat tak jauh berbeda disampaikan pengamat seni, Kadek Wahyudita. Dirinya melihat penggarapan pementasan perlu ditingkatkan.

Alasannya karena Bali Mandara Mahalango diharapkan menampilkan puncak-puncak pencapaian seni budaya Bali.

“Khusus soal inovasi dari prembon inovatif ini, saya belum melihat secara jelas inovasinya,” ujar Wahyudita.

Imbuhnya dari sisi musik pengiring masih tradisi dan ceritanya pun masih cerita tradisi. “Mungkin kalau dibilang inovasi karena ada penggabungan bondres, topeng dan sendratari. tetapi terus terang, belum tiyang lihat inovasinya,” ulas Astita.



RadarBali.com – Lakon Brahmana Keling Komunitas Seni Manik Metu, Banjar Tatasan Kelod, Tonja, Denpasar tampil dalam Bali Mandara Mahalango, Senin (17/7) malam.

Dikisahkan, di Kerajaan Gelgel yang dipimpin Dalem Waturenggong hendak menyelenggarakan yadnya di Pura Besakih. Raja memerintahkan patih Arya Tangkas menyiapkan upacara tersebut.

Dalam persiapan ini datang seorang pengemis berpenampilan compang-camping dan bau. Sang pengemis mengaku sebagai saudara raja dan ingin bertemu.

Patih Arya Tangkas berang dan menyiksa orang tersebut. Tak tahan disiksa, orang tersebut memastu (menyumpahi) upacara yadnya tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Singkat cerita, pastu yang pengemis bertuah; terjadi. Raja Dalem Waturenggong pun memerintahkan Patih Arya Tangkas untuk mencari orang tersebut.

Tujuannya agar upacara yadnya berjalan lancar. Raja bersedia menerimanya pengemis tersebut sebagai saudara.

Pementasan Komunitas Seni Manik Metu dikritik pengamat seni I Nyoman Astita. Prembon inovatif yang ditampilkan disebutnya kurang digarap dengan baik.

Baca Juga:  Kunjungi Kamp Pengungsian, Jun Bintang Heran Sumbangan Menumpuk

“Sebenarnya pementasan ini ceritanya bagus dan juga ada unsur sejarahnya. Hanya saja susunan dramatiknya kurang tergarap bagus,” ungkapnya.

Susunan dramatik yang kurang tergarap jelas Astita tampak pada alur-alur pentas yang datar alias terlalu lambat.

Akibatnya ditinjau dari aspek seni pertunjukkan banyak hal yang terkesan vakum dan kurang dinamis.

Alur alias plot pementasan yang kurang lancar juga berpengaruh pada posisi penari di atas panggung. Astita menyebut penampil kurang memperhatikan tata panggung.

Bahkan tak jarang penari menghadiahi penonton pantat alias membelakangi penonton. “Tetapi yang tiang lihat agak fatal itu adalah unggah-ungguh itu, yaitu menempatkan struktur lakon siapa raja, siapa patih, dan siapa punakawan. Itu tidak dijaga konsistensinya. Kemudian juga kadang-kadang raja itu ngomong matah seperti orang biasa. Karena  itu otomatis mengurangi karakter  sang raja,” papar Astita.

Baca Juga:  Bangkit Dari Tidur Panjang, The Prison Rilis Klip Baru Ain’t Never Go

Menurut Astita, pada bagian-bagain itu yang berbicara seharusnya adalah penasar. Sementara sang raja mesti kukuh dan konsisten dengan bahasa kawi. “Jadi dari segi itu (unggah-ungguhin red) penataan perlu diperhatikan.

Pendapat tak jauh berbeda disampaikan pengamat seni, Kadek Wahyudita. Dirinya melihat penggarapan pementasan perlu ditingkatkan.

Alasannya karena Bali Mandara Mahalango diharapkan menampilkan puncak-puncak pencapaian seni budaya Bali.

“Khusus soal inovasi dari prembon inovatif ini, saya belum melihat secara jelas inovasinya,” ujar Wahyudita.

Imbuhnya dari sisi musik pengiring masih tradisi dan ceritanya pun masih cerita tradisi. “Mungkin kalau dibilang inovasi karena ada penggabungan bondres, topeng dan sendratari. tetapi terus terang, belum tiyang lihat inovasinya,” ulas Astita.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/