alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Ajang Pelestarian Seni Klasik, Janger Menyali Sedot Perhatian Penonton

SAWAN – Kesenian klasik Janger Menyali, menyedot perhatian penonton pada ajang Festival Seni Sawan (Fessensaw) 2019, yang dilangsung di Pantai Desa Kerobokan, Rabu (16/10) malam lalu.

Meski tergolong kesenian klasik, namun tampilan kesenian ini rupanya cukup kontemporer dan sangat unik.

Tari klasik Janger Menyali sebenarnya sempat punah pada kurun waktu 1970-an hingga tahun 2000-an. Tari ini kemudian direkonstruksi pada tahun 2017 lalu.

Saat proses rekonstruksi, tarian ini dibawakan oleh penari-penari tua yang sempat menarikannya pada periode 1960-an.

Nah, pada fashion show kemarin, tari klasik Janger Menyali ditarikan oleh para remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Remaja-remaja itu seluruhnya berasal dari Desa Menyali. Para remaja ini secara khusus dibina dan dilatih, agar tari Janger Menyali bisa diregenerasi.

Baca Juga:  Sari, Vokalis Nymphea Bikin Band Baru Bareng Ardy Bernama Excira

Camat Sawan I Gusti Ngurah Suradnyana mengatakan, tarian ini memang cukup unik. Terutama dari segi pakaian. Meski tergolong tari klasik, pakaiannya sangat casual, sehingga terkesan seperti tari kontemporer.

“Padahal ini gaya pakainnya dari jaman dulu memang seperti ini. Malah dari tahun 1920-an memang seperti ini.

Menurut tetua di Menyali, inspirasi pakaian itu berasal dari angkatan laut yang baru datang di Pelabuhan Buleleng,” jelas Suradnyana.

Selain itu gerakannya pun cukup unik. Salah satunya mengedepankan gerakan-gerakan pencak silat, yang diperagakan oleh para jipak (penari laki-laki).

Lirik lagu yang dinyanyikan pun kebanyakan berasal dari Bahasa Indonesia. Sementara dari tabuh, menggunakan laras syailendra.

“Ini komitmen kami melestarikan dan melakukan regenerasi tari-tari klasik. Kami beri ruang, supaya muncul rasa kebanggaan dan rasa memiliki.

Baca Juga:  Bulfest Sajikan Baleganjur Massal

Selain Janger Menyali juga ada beberapa kesenian klasik yang kami tampilkan, seperti legong pangeleb dan arja muani,” imbuhnya.

Sementara itu Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra juga mengapresiasi upaya pelestarian seni-seni klasik itu.

Sutjidra mendorong agar masing-masing kecamatan menggali dan melestarikan kesenian-kesenian klasik yang ada di wilayahnya.

“Generasi muda di Kecamatan Sawan ini sudah luar biasa, mau meregenerasi kesenian klasik. Saya harap masing-masing kecamatan bisa melakukan langkah pelestarian seni dan budaya seperti sekarang ini,” kata Sutjidra. 



SAWAN – Kesenian klasik Janger Menyali, menyedot perhatian penonton pada ajang Festival Seni Sawan (Fessensaw) 2019, yang dilangsung di Pantai Desa Kerobokan, Rabu (16/10) malam lalu.

Meski tergolong kesenian klasik, namun tampilan kesenian ini rupanya cukup kontemporer dan sangat unik.

Tari klasik Janger Menyali sebenarnya sempat punah pada kurun waktu 1970-an hingga tahun 2000-an. Tari ini kemudian direkonstruksi pada tahun 2017 lalu.

Saat proses rekonstruksi, tarian ini dibawakan oleh penari-penari tua yang sempat menarikannya pada periode 1960-an.

Nah, pada fashion show kemarin, tari klasik Janger Menyali ditarikan oleh para remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Remaja-remaja itu seluruhnya berasal dari Desa Menyali. Para remaja ini secara khusus dibina dan dilatih, agar tari Janger Menyali bisa diregenerasi.

Baca Juga:  Jengki Kritik Kebanggaan Atas Kelamin Ketimbang Otak Lewat Lukisan

Camat Sawan I Gusti Ngurah Suradnyana mengatakan, tarian ini memang cukup unik. Terutama dari segi pakaian. Meski tergolong tari klasik, pakaiannya sangat casual, sehingga terkesan seperti tari kontemporer.

“Padahal ini gaya pakainnya dari jaman dulu memang seperti ini. Malah dari tahun 1920-an memang seperti ini.

Menurut tetua di Menyali, inspirasi pakaian itu berasal dari angkatan laut yang baru datang di Pelabuhan Buleleng,” jelas Suradnyana.

Selain itu gerakannya pun cukup unik. Salah satunya mengedepankan gerakan-gerakan pencak silat, yang diperagakan oleh para jipak (penari laki-laki).

Lirik lagu yang dinyanyikan pun kebanyakan berasal dari Bahasa Indonesia. Sementara dari tabuh, menggunakan laras syailendra.

“Ini komitmen kami melestarikan dan melakukan regenerasi tari-tari klasik. Kami beri ruang, supaya muncul rasa kebanggaan dan rasa memiliki.

Baca Juga:  Bawakan Tari Akulturasi Budaya, Transmigran Bali Hipnotis Panggung PKB

Selain Janger Menyali juga ada beberapa kesenian klasik yang kami tampilkan, seperti legong pangeleb dan arja muani,” imbuhnya.

Sementara itu Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra juga mengapresiasi upaya pelestarian seni-seni klasik itu.

Sutjidra mendorong agar masing-masing kecamatan menggali dan melestarikan kesenian-kesenian klasik yang ada di wilayahnya.

“Generasi muda di Kecamatan Sawan ini sudah luar biasa, mau meregenerasi kesenian klasik. Saya harap masing-masing kecamatan bisa melakukan langkah pelestarian seni dan budaya seperti sekarang ini,” kata Sutjidra. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/